
Setelah satu tahun, dua minggu, dan tiga hari bersama, akhirnya pada pukul empat sore, hari senin tanggal 9 November 2009 kemarin, saya dan Retno Aji Prasetyo resmi berpisah. And this time, for good.
Oh God, i can't tell you people how much it hurts and how hard it is.
Ia adalah lelaki yang selalu saya bayangkan untuk menjadi pendamping hidup saya suatu hari kelak. Seorang lelaki yang sangat sempurna di mata saya. And I can’t even imagine me, myself, be with another man other than him. He’s way too perfect in my eyes. And I love him, well, maybe way too much.
Akhirnya, hubungan kami berakhir tanpa satu kata ‘putus’pun yang terucap. Hanya ada hamparan kata membentuk makna, tangis, peluk, dan cium.
Kami sama sama sudah dewasa. Dan kami sama sama menginginkan hubungan yang serius. Namun terlalu banyak perbedaan yang menjelma menjadi sebuah kata menakutkan, halangan. Dari keluarga, agama, hingga budaya.
Masing masing keluarga kami sama sama tidak mau mengakui keseriusan hubungan yang kami jalani. Dan kedepannya, pasti sangat akan tidak mudah bagi kami untuk tetap bersama (meski harus saya tekankan, bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin. Masa depan adalah misteri yang selalu menunggu untuk terkuak.).
Ia bilang, ia ingin punya kehidupan normal. Dimana ia bisa mengenalkan dan membawa kekasihnya ke rumah orangtuanya, dan keluarganya bisa menerima kehadiran kekasihnya.

Dan untuk alasan yang ia kemukakan, saya tidak mengelak. Mungkin saya memang kurang normal untuk dia dan keluarganya. Tapi saya menghargai keputusannya. Meski dengan derai tangis air mata yang luar biasa.
Lagipula, siapa yang tidak ingin punya kekasih yang satu agama, yang bisa pergi bersama ke Gereja pada hari Minggu, atau ber-Lebaran bersama pada hari raya Idul Fitri.
Saya pun ingin. Tapi dari awal bukankah harusnya ini sudah menjadi konsekuensi dari hubungan ini? Kita berbeda, dan hidup adalah pilihan, dan saya memilih untuk bersama dia. Seluruh pertanyaan ini berkecamuk dalam benak saya.
Saya terdiam. Menangis. Seluruh dunia saya seperti runtuh dan besok seperti tidak akan ada lagi di bayangan saya. Bagusnya lagi: Ini hari pertama Ujian Tengah Semester. How great is that?
Saya lalu bergumam dalam hati: “Oh Lord Jesus, is this it? Is this Your plan? Oh God if it really Yours, let me through this. Made me strong.”
Setelahnya, Tuhan seperti memberikan saya kekuatan, yang luar biasa besar, untuk memeluk Retno Aji Prasetyo sekuat tenaga saya, sambil berbisik di telinganya: “Terima Kasih buat semuanya, dear.” Saya menangis keras, tubuh saya bergetar hebat ketika mengatakan kalimat tersebut.
Ia memeluk saya, juga dengan tidak kalah erat sambil berkata: ”Sama-sama, dear. Makasih buat semuanya. Yang pernah kita jalanin gak sia-sia kan? Shir belajar banyak dari Aji kan?”
And I should admitted, yes, i do learned so much from him. Since he’s my first boyfriend ever.
Mungkin hubungan percintaan kami selesai sampai di sini, tapi, tidak dengan hubungan persahabatan kami. Saya dan Retno Aji Prasetyo akan terus bersahabat sampai selama-lamanya.
Sekarang, harus saya akui, perpisahan ini sangat amat berat, dan bukannya saya tidak berharap agar dapat kembali bersama dengan dia. Karena masa depan manusia, siapa yang tahu?
Yang saya harapkan dan selalu saya minta kepada Tuhan adalah agar Ia memberikan jalanNya yang terbaik bagi saya, maupun Retno Aji Prasetyo yang masih sangat saya cintai hingga detik ini.
Retno Aji Prasetyo selamanya akan ada dalam hati saya. Ia, yang kini telah menjadi sahabat saya, adalah seorang pria luar biasa, yang darinya saya belajar banyak, dan masih akan terus belajar banyak.
Last words untuk Retno Aji Prasetyo (semoga dia baca tulisan ini):
Cause that's how love is. Once you loved, you learned, and then you move on. Thanks for everything we've ever been through together, Retno Aji Prasetyo . Sorry for all the bad things i've ever done to you. Have a great life ahead, dear. I love you. May God be with you and bless you, always.
Semoga tulisan ini bisa sedikit meringankan beban di hati saya.
Untuk kalian semua yang memiliki kekasih yang kalian cintai, pertahankan dan perjuangkan cinta kalian. Spread and share your love all over the world, guys. Have a great, blessed, happy ending, love story. May God be with you all!
Today I’ve cried, and learned how much a loss cost. But you said to me: "Aji gak akan kemana-mana aji juga kan, masih di sini kok." I'll keep your words, dear (please let me call you that way.)
You are always in my heart, Retno Aji Prasetyo, Alla Gothe, Aji, Dear, My Rebel Sweetheart, My Trully Partner In Crime. I love you, maybe tomorrow or one day in another different way, but today, let me still remember you and love you like the way it used to be.


Oh God, i can't tell you people how much it hurts and how hard it is.
Ia adalah lelaki yang selalu saya bayangkan untuk menjadi pendamping hidup saya suatu hari kelak. Seorang lelaki yang sangat sempurna di mata saya. And I can’t even imagine me, myself, be with another man other than him. He’s way too perfect in my eyes. And I love him, well, maybe way too much.
Akhirnya, hubungan kami berakhir tanpa satu kata ‘putus’pun yang terucap. Hanya ada hamparan kata membentuk makna, tangis, peluk, dan cium.
Kami sama sama sudah dewasa. Dan kami sama sama menginginkan hubungan yang serius. Namun terlalu banyak perbedaan yang menjelma menjadi sebuah kata menakutkan, halangan. Dari keluarga, agama, hingga budaya.
Masing masing keluarga kami sama sama tidak mau mengakui keseriusan hubungan yang kami jalani. Dan kedepannya, pasti sangat akan tidak mudah bagi kami untuk tetap bersama (meski harus saya tekankan, bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin. Masa depan adalah misteri yang selalu menunggu untuk terkuak.).
Ia bilang, ia ingin punya kehidupan normal. Dimana ia bisa mengenalkan dan membawa kekasihnya ke rumah orangtuanya, dan keluarganya bisa menerima kehadiran kekasihnya.

Dan untuk alasan yang ia kemukakan, saya tidak mengelak. Mungkin saya memang kurang normal untuk dia dan keluarganya. Tapi saya menghargai keputusannya. Meski dengan derai tangis air mata yang luar biasa.
Lagipula, siapa yang tidak ingin punya kekasih yang satu agama, yang bisa pergi bersama ke Gereja pada hari Minggu, atau ber-Lebaran bersama pada hari raya Idul Fitri.
Saya pun ingin. Tapi dari awal bukankah harusnya ini sudah menjadi konsekuensi dari hubungan ini? Kita berbeda, dan hidup adalah pilihan, dan saya memilih untuk bersama dia. Seluruh pertanyaan ini berkecamuk dalam benak saya.
Saya terdiam. Menangis. Seluruh dunia saya seperti runtuh dan besok seperti tidak akan ada lagi di bayangan saya. Bagusnya lagi: Ini hari pertama Ujian Tengah Semester. How great is that?
Saya lalu bergumam dalam hati: “Oh Lord Jesus, is this it? Is this Your plan? Oh God if it really Yours, let me through this. Made me strong.”
Setelahnya, Tuhan seperti memberikan saya kekuatan, yang luar biasa besar, untuk memeluk Retno Aji Prasetyo sekuat tenaga saya, sambil berbisik di telinganya: “Terima Kasih buat semuanya, dear.” Saya menangis keras, tubuh saya bergetar hebat ketika mengatakan kalimat tersebut.
Ia memeluk saya, juga dengan tidak kalah erat sambil berkata: ”Sama-sama, dear. Makasih buat semuanya. Yang pernah kita jalanin gak sia-sia kan? Shir belajar banyak dari Aji kan?”
And I should admitted, yes, i do learned so much from him. Since he’s my first boyfriend ever.
Mungkin hubungan percintaan kami selesai sampai di sini, tapi, tidak dengan hubungan persahabatan kami. Saya dan Retno Aji Prasetyo akan terus bersahabat sampai selama-lamanya.
Sekarang, harus saya akui, perpisahan ini sangat amat berat, dan bukannya saya tidak berharap agar dapat kembali bersama dengan dia. Karena masa depan manusia, siapa yang tahu?
Yang saya harapkan dan selalu saya minta kepada Tuhan adalah agar Ia memberikan jalanNya yang terbaik bagi saya, maupun Retno Aji Prasetyo yang masih sangat saya cintai hingga detik ini.
Retno Aji Prasetyo selamanya akan ada dalam hati saya. Ia, yang kini telah menjadi sahabat saya, adalah seorang pria luar biasa, yang darinya saya belajar banyak, dan masih akan terus belajar banyak.
Last words untuk Retno Aji Prasetyo (semoga dia baca tulisan ini):
Cause that's how love is. Once you loved, you learned, and then you move on. Thanks for everything we've ever been through together, Retno Aji Prasetyo . Sorry for all the bad things i've ever done to you. Have a great life ahead, dear. I love you. May God be with you and bless you, always.
Semoga tulisan ini bisa sedikit meringankan beban di hati saya.
Untuk kalian semua yang memiliki kekasih yang kalian cintai, pertahankan dan perjuangkan cinta kalian. Spread and share your love all over the world, guys. Have a great, blessed, happy ending, love story. May God be with you all!
Today I’ve cried, and learned how much a loss cost. But you said to me: "Aji gak akan kemana-mana aji juga kan, masih di sini kok." I'll keep your words, dear (please let me call you that way.)
You are always in my heart, Retno Aji Prasetyo, Alla Gothe, Aji, Dear, My Rebel Sweetheart, My Trully Partner In Crime. I love you, maybe tomorrow or one day in another different way, but today, let me still remember you and love you like the way it used to be.


Satu lagu yang sangat indah dibawakan oleh Dewi Lestari ft. Aqi Alexa - Peluk
Sangat cocok untuk menemani hari melankolik anda. Have a great melancholic momnet, guys :)
menahun kutunggu kata kata tak merangkum semua
dan kini
kuharap ku dimengerti
walau sekali saja/ pelukku
tiada yang tersembunyi
tak perlu mengingkari
rasa sakitmu
rasa sakitku
tiada lg alasan
inilah kejujuran
pedih adanya
namun ini jawabnya
lepaskanku
segenap jiwamu
tanpa harus kuberdusta
karna kaulah satu yang kusayang
dan tak layak kau didera
sadari
diriku pun kan sendiri
di dini hari yg sepi
tetapi/ apalah arti bersama
berdua namun semu semata
tiada yg terobati
didalam peluk ini
tapi rasakan semua sebelum kau kulepas selamanya
tak juga kupakasakan
setitik pergertian
bahwa ini adanya
cinta yang tak lagi sama
lepaskanku/ segenap jiwamu
tanpa harus ku berdusta
karena kaulah
satu yang kusayang
dan tak layak kau didera
when we say that we separate for good, i do really hope that this separation do us any good, or even better :)
sorry, thank you, i love you!
ever been there, in your heart, and always be here for you,
ShirleyTamara Warouw, Shirebel, Shir, Dear, Your Rebel Sweetheart, Your Trully Partner In Crime
Sangat cocok untuk menemani hari melankolik anda. Have a great melancholic momnet, guys :)
menahun kutunggu kata kata tak merangkum semua
dan kini
kuharap ku dimengerti
walau sekali saja/ pelukku
tiada yang tersembunyi
tak perlu mengingkari
rasa sakitmu
rasa sakitku
tiada lg alasan
inilah kejujuran
pedih adanya
namun ini jawabnya
lepaskanku
segenap jiwamu
tanpa harus kuberdusta
karna kaulah satu yang kusayang
dan tak layak kau didera
sadari
diriku pun kan sendiri
di dini hari yg sepi
tetapi/ apalah arti bersama
berdua namun semu semata
tiada yg terobati
didalam peluk ini
tapi rasakan semua sebelum kau kulepas selamanya
tak juga kupakasakan
setitik pergertian
bahwa ini adanya
cinta yang tak lagi sama
lepaskanku/ segenap jiwamu
tanpa harus ku berdusta
karena kaulah
satu yang kusayang
dan tak layak kau didera
when we say that we separate for good, i do really hope that this separation do us any good, or even better :)
sorry, thank you, i love you!
ever been there, in your heart, and always be here for you,
ShirleyTamara Warouw, Shirebel, Shir, Dear, Your Rebel Sweetheart, Your Trully Partner In Crime


















