nona mantera

Friday, February 17, 2017

Beberapa hal dalam hidup tidak akan pernah berubah. Meskipun kita telah menua dan semakin sering lupa. Sedang beberapa hal lain tidak akan pernah bisa diubah. Meski kita terus mencoba dan mengupayakan segala cara.



Tuesday, August 02, 2016

Kapan nulis lagi?

Nanti deh, kapan-kapan..
Utamanya sih menunggu hingga bisa menahan diri dari curhat terselubung tentang:
rindu rindu yang tidak kesampaian
beban beban hidup yang masih bisa ditahan
perasaan perasaan gak enak yang bisa dilawan
dan persoalan persoalan yang tidak terlalu esensial untuk dibahas

auk kapan.

Wednesday, July 20, 2016

stressed out from eating too much
stressed out from not eating enough
stressed out from thinking too much
stressed out from not caring enough
how can I be the best version of myself if I don't even have the ability to think straight

Friday, February 28, 2014

terima kasih atas ruang yang tercipta untuk melega.

amin.


Wednesday, November 27, 2013

belum selesai


Monday, August 12, 2013

kalo sepenggal kecurigaan kita ramu dengan benar (benar) maka asumsi asumsi yang kadung mematangkan diri bukannya tidak bisa berubah jadi kenyataan

Thursday, June 20, 2013


semoga paham.

Monday, May 27, 2013

Kalau nanti ditanya, "sudah buat apa?" Lalu mau jawab apa?

Tuesday, May 14, 2013

kalau menjaga jarak adalah sebuah kebutuhan
biarlah ia menjadi medium yang digunakan untuk menjernihkan pikiran

tapi mengenangmu bukanlah nostalgia
mengenangmu adalah perkara memelihara ingatan
akan yang nyata
yang pernah dan selalu akan ada
yaitu, kita

kalau

11:21
20130514

Thursday, May 02, 2013

adakah menyusun kerikil pada puncak gunung batu lebih tak sia dari menggarami laut?
alam semesta memampukan saya untuk mencoba
maka terjadilah

jalan hidup dan kebenaran
satu-satunya jalur menuju keselamatan
pada saatnya tiap-tiap mereka akan menemukan masing-masing punya juruselamat
maka diketemukan olehmu adalah sebuah pengalaman spiritual tersendiri
terima kasih, oh gunung batuku.

Thursday, March 28, 2013

ibu ibu menangisi anak anak perawan yang lari dari rumah
para ayah meratap diam-diam
dalam senyap saudara sedarah menanggung hati yang susah
tuhan (semoga ia benar adanya) menjamah hati mereka dan penghiburan itu pun dilepas secara cuma-cuma

anak anak perawan meregang nyawa di jalan (yang semoga tak salah)
melawan apa entah
merisaukan banyak hal terlalu
menghutang asa pada banyak nyawa
meminjam emosi dari banyak diri

yang dipunyanya cuma sisa hidup. sedikit banyak. kurang lebih. diamini.

karena kamu adalah..

sayang, dalam seminggu kita punya tujuh hari untuk mengadu nasib
tapi aku tidak suka berkonflik
lebih baik aku pergi menghindari sengit
kalau boleh aku lari terus sampai diketemukan pun tak lagi dapat
aku cuma mau bercinta dengan asa hingga ia beranak pinak
ah, sedang asamu saja tak kunjung kau asah
jangan ragukan dirimu sendiri.. sendirian
karena kamu, adalah harapan

Thursday, March 07, 2013

setelah 'lari-lari' nomor sekian

Kamar. Malam hari.
Hari itu saya baru pulang setelah menghilang selama beberapa hari-yang sudah menjadi kebiasaan.
Saya tengah berjalan menuju kamar mandi ketika Ibu saya masuk ke dalam kamar. Ia terlihat mencari-cari sesuatu di meja rias. Sambil berusaha mencari, ia buka suara,
"jangan suka lari dari masalah.
Mau kamu lari ke mana pun, bayang-bayang masalah itu akan terus menghantui kamu, Dek.". 
Saya tahu ia tengah bicara pada saya, meski wajahnya tidak melihat ke arah saya.
Tidak tahu harus merespon apa, saya terus berjalan menuju kamar mandi. Menutup pintu, lalu menyalakan sebatang rokok. Duduk di atas kloset sambil termenung. Air mata saya lalu jatuh satu persatu. 
Ternyata Ibu sudah terlalu kenal dan mengerti saya.

Friday, February 22, 2013

lelah sekali.
sungguh mengantuk,
ingin tidur dipeluk.

pikiran bercabang, banyak hal lalu lalang
peluk ini men(y)enangkan,
pun ia tak mampu meredam racau yang menyusun diri sendiri menjadi kalimat-kalimat setengah jadi

wahai kamu pelipur lara, jangan terlalu lama berduka.

Friday, February 01, 2013

meresap hinggap


bangun dari tidur berkepanjangan
merokok sendiri di kamar mandi
baru menyalakan api
sudah sedih sendiri
*

niatnya

menyelami danau di seberang pagar duri panjang
padahal tak lancar berenang
maka ia tenggelam
*
butuh melega meski tidak teraniaya
harus beranjak walau tak pernah berlabuh
*
kenyamanan sementara
sebentar sebentar datang sebentar sebentar hilang
yang penting agar tidak lupa meresap ketika rasanya tengah hinggap

Thursday, January 31, 2013

misalnya

beberapa rasa memang tidak dapat ditunda
yang sebagaimanapun kita sudah hindar-hindari, nyatanya tetap harus dialami pada saat itu juga
misalnya, rasa sesak ketika terbangun dari mimpi tentang orang yang dikasihi
misalnya, rasa mulas dan mual ketika hal-hal tertentu mengingatkan pada pengalaman yang kurang menyenangkan
misalnya, saat ini

an-other opener


2013

konon katanya membuat resolusi sudah tak jaman lagi
karena seringkali janji janji diingkari
"gak apa, itu manusiawi."

tak apa, toh saya suka mencobai diri sendiri

pada alam semesta patut dipanjatkan syukur dan terima kasih

Sunday, December 30, 2012

Pom Bensin


Jam sebelas malam di kamarmu, terbangun dari tidur siang yang berkepanjangan. Kamu tidak ada. Sekitar tiga menit kuhabiskan untuk menelaah beberapa kemungkinan mengenai keberadaanmu sekarang. Kamu mungkin sedang menonton tivi, bisa juga tengah berkutat depan laptop, atau keluar sebentar mencari makan. Lima menit kemudian kupakai untuk mengecek ponselku. Beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk. Delapan menit selanjutnya kupakai untuk membenahi barang-barangku. Begitu keluar kamar, yang pertama kudapati adalah kamu, sedang duduk di ruang tamu.
Kamu tampak bingung melihat tas yang kusandingkan di bahu.
“Mau kemana?” Tanyamu.
“Pulang,” jawabku singkat.
“Tidur sini sajalah, sudah malam.”
“Masih jam sebelas, masih ada kendaraan kok. Aku pulang dulu, yah.”
Kamu membuat gerakan tangan yang mengisyaratkanku untuk duduk di sebelahmu: “Sini.”
Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya menurut dan duduk di sebelahmu.
“Mau pulang atau pulang?” Tanyamu sambil menatapku.
Semua pertanyaan yang diajukan padaku sembari menatap mata dalam-dalam seringkali berbuah pendirian yang goyah. Bangsat. Aku mulai ragu.
“...pulang.”
“Pulang atau ke pom bensin?”
Aku diam.
Antara kamu yang terlalu bisa menebak suasana hatiku, atau memang kamu yang kurang bisa mempercayai setiap jawabanku, kamu lalu bertanya lagi. Sebuah pertanyaan, yang terdengar agak seperti tuduhan. Memojokkan.
“Pulang atau sedih-sedihan sendirian di pom bensin sampai pagi?”
-
Malam itu aku tidak jadi ’pulang’. Tidak jadi sedih-sedihan sendirian di pom bensin sampai pagi. Kuputuskan untuk bermalam. Kita sedih-sedihan berdua. Kebingungan bersama. Pedih sekali. Lebih sakit dari sedih-sedihan sendirian.
-
Untuk kamu, agar kamu tahu, bahwa saya tidak sedang di pom bensin, namun tetap sedih-sedihan, sendirian.

18:31
30-12-2012