Sunday, October 04, 2009

LEMBAYUNG (Episode 8) -- END --

Kamar Lembayung.
Malam.
Keesokan hari setelah peristiwa yang mengungkapkan semua rahasia diantara Lembayung dan Jali.
Lembayung meraih handphonenya dan menekan nomor selular Jali. Nada sambung mulai terdengar pada handphonenya.
“Halo”
Suara Jali terdengar dari ujung sana
“Jal,”
Lembayung menjawab sapaan Jali ragu-ragu
“Ya, kenapa Bay?”
“Hm..nggak..Gue cuma pengen minta maaf aja”
“Untuk?”
“Yah untuk kelakuan gue yang kemaren.
Gue udah nyakitin hati lo banget yah Jal??”
Jali terdiam
“Jal?” Lembayung mengharapkan jawaban dari pertanyaannya
“Ya udalah, Bay. Gak usah ngebahas itu gimana?”
“Ya pokonya gue minta maaf.”
“Okay, I forgive you. Satisfy?”
“Thanks, Jal.”
“Buat apa?”
“Yah buat semuanya yang udah lo lakuin ke gue”
“Lo tuh lagi kenapa sih Bay?
Tau tau nelfon sambil ngelantur kaya gini.”
“Gue gapapa kok Jal”
“Lo gak lagi minum kan?”
“Ya gak lah”
“Okay. Ya udah, lo cuma pengen ngomong itu aja?”
“Hm, actually gue pengen ngajak lo ketemuan besok jam 12. Bisa gak?”
“Hemm.. Bisa deh kayanya.”
“Are you sure?”
“Yep!”
“Di tempat biasa yah.”
“Oke. Mau ngapain sih Bay?”
“Yah liat besok aja lah Jal.”
“Okei, see you tomorrow, 12 o’ clock yah!”
“Okei. Gue seneng Jal bisa denger suara lo.”
“Apaan sih Bay?”
“Nggak, nggak apa-apa kok. Bye.”
“Bye.”
Jali hampir menutup handphonenya ketika tiba tiba ia mendengar Lembayung berkata
“Eh Jal, gue sayang lo!”
“Hah? Apaan Bay?”
Teeeeet, teeeeeeeet, teeeeeeeeet. Sambungan telepon terputus begitu saja. Jali yang kebingungan hanya dapat bergumam
“Bay, Bay. Dasar aneh.”
Sementara itu dikamarnya Lembayung telah menyiapkan dirinya untuk hari esok. Rencananya telah mantap. Lembayung berjalan menuju ruang kerja ayahnya yang telah tidak terawat sejak ayahnya wafat ketika ia masih kecil. Sebentar ia mencium aroma debu, tapi juga ada kehangatan cinta ayahnya yang seakan terabadikan pada setiap sudut ruangan tersebut. Lembayung merogoh ke dalam laci meja ayahnya. Masih disitu ternyata. Ia kembali ke kamar dengan membawa sesuatu. Lalu naik ke atas tempat tidur dan menulis pada salah satu lembar kertas filenya.

>>><<<

Jalanan sepi
Siang
Pukul 11.37.
Lembayung menapakkan kakinya pada jalanan yang selalu sepi tersebut. Tampaknya jalanan tersebut memang diciptakan bagi dirinya dan Jali untuk menikmati kesendirian mereka.
Pukul 11.40
Ia mengambil tempat pada suatu sudut dan duduk seraya mengeluarkan filenya. Ia mulai menulis

Pada Hidup.
Hari ini saya mau berpulang
Saya tidak lagi takut
Saya sudah muak pada kamu
Mungkin rasanya
Lebih besar dari kebencianmu akan keberadaan saya di dunia ini
Saya akan pergi
Tidak dengan membawa kemenangan
Tidak juga dengan ratap kekalahan
Saya cuma ingin beranjak dari sini
Semoga kamu senang
Pada yang lain,
Tolong jangan ulangi apa yang kamu lakukan pada diri saya
Karena terus terang,
Saya akui,
Itu menyakitkan

Pukul 11.47
Waktunya hampir tiba. Lembayung mulai gelisah. Biasanya Jali datang lima sampai sepuluh menit lebih awal dari waktu yang telah dijanjikan.

Pukul 11.50
Waktunya sudah hampir tiba. Lembayung berdiri dari tempat duduknya. Berjalan lurus menatap ke depan. Setelah beranjak kira-kira lima puluh meter, ia merogoh ke dalam tasnya. Mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Kali ini bukan file atau pensil. Tapi sesuatu. Sesuatu yang diarahkannya pada lambungya sambil terus berjalan pelan. Dalam hati ia menghitung.
Satu
Dua
Tiga
Ia menarik tuas daripada sesuatu tersebut.
DHUAR!!
Disusul bunyi BRAK! Yang menandakan kejatuhan dirinya. Lembayung cuma tinggal nama. Suara tersebut mengarahkan perhatian segelintir orang penghuni jalan tersebut. Mereka menoleh sebentar lalu segera mengahampiri tubuh Lembayung yang tak lagi bernafas. Menyedihkan, cuma itu yang mampu mereka katakan.

Pukul 11.57
Jali menyusuri jalanan sepi tersebut dengan bersepeda motor. Dari jauh ia melihat kerumunan. Hatinya mulai tak enak, ia memarkir motornya di pinggir jalan tersebut dan menghampiri kerumunan yang mengelilingi sesosok tubuh yang ternyata sudah tak bernyawa tersebut. Semakin dekat ia melangkah ia semakin curiga. Mirip seseorang yang ia kenal rupanya. Ketika telah berada di samping mayat itu persis baru ia benar-benar yakin kalau itu Lembayung. Ia berteriak sejadi-jadinya. Orang-orang seakan memaklumi, seseorang tergerak menelepon polisi. Yang lainnya lalu mengerubungi Jali sambil berusaha menenangkannya.
“LEMBAYUNG!!!!!!!!!!!!!!!!!
BAY!!!!!!!
Bay bangun Bay!!!!”
Jali menepuk-nepuk pipi Lembayung. Menggoyang-goyangkan tubuhnya. Perut Lembayung terus mengucurkan darah. Di tangan kananya tergenggam sebuah senjata milik ayahnya. Jali menoleh kebelakang, di jalan yang tadi dilalui Lembayung, bukan bala bantuan atau polisi yang ditemuinya, tapi jalanan penuh tanaman mawar. Ia menoleh ke arah tubuh Lembayung yang tak lagi bernapas. Sekilas ia merasakan hidungnya mencium wewangian yang amat menusuk hidung dan membuat bulu kuduknya merinding. Sesaat kemudian suasana tampak berubah, ketika ia menoleh ke atas langit, langit tampak kehijauan. Sebentar saja, lalu semuanya itu hilang. Rupanya memang benar apa yang orang bilang. Bahwa tidak ada sesuatu yang terlalu mustahil untuk diwujudkan oleh Tuhan. Pada akhir hayatnya, Tuhan menunjukkan kebesarannya pada Lembayung. Sayangnya, Lembayung terlalu cepat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya sehingga ia tidak dapat menyaksikan kebesaran dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya kepada Tuhan. Dari sini, Jali menedengar suara sirine mobil polisi samar-samar. Ia kembali berteriak.
“BAAAAAYYYYY!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

>>><<<

Suatu ruang.
Suasana suram.
Seseorang duduk di pojokan sambil memegang kertas yang sudah lusuh dengan pandangan kosong.
Aku berdiri di luar ruang itu. Di sebelahku seorang perawat mengatakan:
“Dia terus memegang kertas tersebut dari pertama kali masuk Mas.
Mas temennya?”
Aku berpikir sebentar sambil terdiam. Si perawat kurang sabar rupanya
“Mas??”
“Hemmm, iya, saya temannya.
Mungkin.”
Selepas aku berbicara dengan si perawat, orang di dalam ruang tersebut meremukkan kertas itu masih dengan pandangan hampa. Aku hanya dapat memandang dengan ratap kasihan. Itulah jalan mereka. Begitulah akhir kisah hidup mereka. Sia-sia. Kalau saja mereka menerima tawaranku untuk berbicara bersama sekedar meringankan masalah, mungkin aku bisa sedikit membantu. Tapi bisa bilang apa aku ini. Mereka tidak dapat melihat aku dengan pandangan berbeda, sebagai seorang sahabat. Mereka menatapku dengan pandangan permusuhan seakan-akan aku adalah sumber dari penderitaan mereka. Aku adalah Anda. Anda yang mereka tolak. Acapkali kalian adalah aku. Kalian adalah orang-orang yang menawarkan bantuan tapi dipandang sebelah mata. Anda adalah kalian dan kalian adalah aku. Mungkin kalian mau tahu isi kertas itu:


“Jal,,
Waktu lo baca surat ini pasti lo udah ga punya kerjaan lagi. Ga ada lagi yang bisa lo ikutin, ga ada lagi yang bisa lo ajak ngerokok bareng ato jalan sampe pagi cuma buat diem-dieman aja..Sorry Jal gue harus pergi ninggalin lo. Gue udah cape, bosen, jenuh, suntuk sama hidup gue. Hidup gue, emang gue sendiri yang ngancurin. Gue emang pengen skalian aja ngancurin semuanya. Biar gue bisa cepet-cepet nyusul Genta. Gue cuma pengen bilang makasih buat semua hal yang udah lo lakuin buat gue, dari terus nemenin gue, sampe berusaha ngembaliin kepercayaan gue akan hidup ini. Tapi Jal, I already lose my faith, totally. Gue mau minta maaf karna gue ga bisa jadi Lembayung yang dulu lagi, karena kalo gue jadi Lembayung yang dulu artinya gue ga bisa cepet-cepet nyusul Genta. Gue sayang sama lo Jal, tapi gue juga sayang sama Genta, banget. Jadi gue lebih milih untuk nyusul Genta yang paling ada buat gue sejak dulu. Jangan sia-siain hidup lo kaya gue ya Jal, gue yakin, tau dan percaya kalo di luar sana lo punya masa depan yang cerah. Gue juga ngelakuin ini biar lo ga terus-terusan ngurusin gue. You’d better take care of yourself right now. Karna kalo gue terus ada di dunia ini pasti lo akan terus ngejaga gue buat menuhin amanatnya Genta, gue gak mau jadi cewe yang nyusahin orang lain dan malah menghambat masa depan lo. Gue sayang sama lo, gue ga mau liat lo rusak. Abis ini, tolong lupain gue Jal. Buang gue dari kehidupan lo. Jangan inget-inget lagi kalo lo pernah punya temen senista gue. Cari cewe lain yang lebih baik dari gue. Gue tau kalo lo pasti bisa ngedapetin seribu cewe lain diluar sana yang jauh lebih oke dari gue. Dengan ini gue pergi. Gue datang ke dunia ini tanpa apa-apa dan bakal pergi dari dunia ini dengan tanpa apa-apa juga. Yang gue punya, emang cuma lo. Berdamailah sama hati dan diri lo. Jaga hidup lo baik-baik Jal. Bye love!”


Lembayung


Cukup sudah aku menjadi tumbal yang harus menyaksikan akhir kisah mengenaskan pada perjalanan hidup tiap orang. Satu hal, kalau nanti kalian bertemu denganku tolong jangan tolak aku. Dan aku akan mencoba membantumu menyelamatkan akhir kisahmu dari si tragis jahanam.
>>><<<

Friday, September 25, 2009

LEMBAYUNG (Episode 7)

Jalanan sepi
Suatu petang
Jali telah berjalan hampir 3 setengah jam untuk mengabadikan setiap moment menarik yang tengah terjadi di sepanjang jalan tersebut. Hobi fotografinya selalu muncul di saat yang tak tepat. Seperti saat ini. Mustinya ia berusaha mengembalikan kepercayaan Lembayung pada dunia, daripada hunting di persimpangan sebuah jalanan yang terlalu lenggang. Sepinya jalanan tersebut membuat Jali harus menunggu lama agar mendapatkan suatu moment yang menarik. Setiap derap langkah kaki manusia membuatnya menoleh karena hal tersebut merupakan sumber kebisingan yang paling mencolok di jalan itu. Suara adzan dari langgar terdekat telah berkumandang. Jali menikmati alunan suara adzan yang didengungkan. Sepoi-sepoi halus suara derap kaki membuatnya menoleh.
“Jal..”
Suara yang tidak asing tersebut mengejutkan Jali
“Kok lo bisa ada disini Bay?”
“Ya kalo lo ga ada di semua tempat tongkrongan lo, dimana lagi gue bisa nyari lo?” Jawab Lembayung sambil melemparkan senyum hangat. Keajaiban yang sudah lama tidak disaksikan Jali. Hal itu sedikit banyak menentramkan hatinya.
“Tumben lo nyari gue. Tapi sini deh, lo ga tembus pandang kan?” Canda Jali
“Ya nggak lah. Ada-ada aja lo Jal” Sambut Lembayung dengan sedikit tawa.
Mereka berdua tertawa lepas.
“What a beautiful gift from God” Kata Jali, masih sambil tersenyum
“Maksud lo?”
“Hm.. Lo sadar gak kalo kita udah lama banget ga ketawa bareng kaya gini?
Terakhir kita ketawa itu dulu banget. Waktu lo masih lo yang dulu. Are you trying to give me a sign Bay?”
“What sign?” Tanya Lembayung dengan ekspresi berbeda.
“You’re back. The old happy you.” Ucap Jali lirih
“Hmph..” Lembayung melengos.
“Okay. I’m sorry”
“That’s okay.”
Lagi lagi cuma sepi yang ada diantara mereka.
Sepi.
Sampai seseorang memecahkan telur kesepian. Dan seperti biasa orang itu adalah
“Gue udah bisa nerima keputusan lo kok Bay,” Jali berucap
“Hm, keputusan apa?” Jawab Lembayung acuh
“Keputusan tentang lo.
Tentang ke nggak mauan lo jadi Lembayung yang dulu lagi.”
“Bukan nggak mau Jal, gue nggak bisa” Lembayung memotong kata-kata Jali
“Yah, that’s what I mean”
“But that was different”
“Okay, Sorry”
“And then..”
“Then,” Jali mengambil jeda untuk berbicara
“Then what?
I’m waiting.”
“If you don’t want to.. sorry, I mean if you can’t be the old happy you. I could still love you. The new you. However the new you are.” Kata-kata itu terlepas begitu saja dari mulut Jali. Ia tidak pernah berpikir bahwa dirinya akhirnya mampu mengucapkan kata-kata tersebut.
“Jal. Please. Jangan mulai lagi dong.”
“Okay, okay. Sorry Bay. Gue juga gak tau kenapa tiba-tiba ngomong kaya gitu sama lo. Sumpah! Sorry Bay”
“That’s all right. Yaudah, udah malem nih Jal, kayanya rada mendung deh. Malem ini gue traktir lo minum ya.”
“Where?”
“Our favorite.”
“Beautylies”
Mereka berdua menjawab sambil tertawa. Dalam kegelapan malam Jali dan Lembayung berjalan sambil berangkulan. Suatu hal yang sudah amat lama tidak mereka lakukan.

>>><<<

Beautylies.
“Bay, udahan yuk.”
Lembayung tampak tidak begitu peduli pada perkataan Jali. Ia terus meneguk minuman yang entah sudah keberapa.
“Bay, please. Control yourself. Lo udah minum berapa banyak coba?
Lagian tempatnya udah mau tutup” Jali berusaha mencegah Lembayung untuk meneguk gelas yang kesekian.
“Halah, udahlah Jal.
Gue tuh hidup udah gak bakalan lama lagi!
Hahahaaaaaaaaaaa…” Lembayung mulai melantur sambil tertawa-tawa dengan ekspresi yang sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan yang murni, melainkan kegembiraan yang semu. Jali menangkap ekspresi itu dan sesegera mungkin ia menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres.
“Okay, kalo lo gak mau berhenti, gue yang akan maksa lo untuk berhenti.” Jali meninggalkan sejumlah uang di meja dan menaruh salah satu lengan Lembayung di punggungnya dan memapahnya pergi dari tempat tersebut. Tapi Lembayung tidak suka dengan apa yang dilakukan Jali. Ia berusaha untuk memberontak. Lembayung mulai membuat keributan yang menjadi bahan tontonan di bar yang sudah amat lengang tersebut.
“Jal. Apaan sih??
Gue bisa jalan sendiri!!!!!!!!!”
Lembayung mencoba melepaskan lengannya dari bahu Jali tapi ia malah terjatuh karna tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya. Dengan sabar Jali membantu Lembayung untuk bangun dan memapahnya kembali, walau Lembayung tetap melakukan perlawanan. Di luar ternyata hujan. Malam tampak semakin gelap. Sudah tidak ada lagi mobil yang melaju di jalan tersebut. Jali bingung karna mobilnya diparkir agak jauh dari jalanan tersebut.
“Hmph. Ujan lagi.
Bagus banget! Mana mobil jauh lagi!” Jali mendumel sendiri. Dia memperhatikan Lembayung yang berdiri hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Masih di bawah pengaruh konsumsi minumannya yang berlebihan.
“Bay, kita tunggu sampe ujanya redaan dikit lagi yah?” Omongan Jali tidak dipedulikan oleh Lembayung. Tiba-tiba ia berlari menembus hujan dan gelapnya malam, kejadian tersebut berlangsung begitu cepat sampai sampai Jali hampir terjatuh ketika mengejar Lembayung.
“Lembayung!” Jali berlari mengejar Lembayung yang sudah semakin payah larinya. Di tengah jalan ia terengah-engah dan berhenti.
“AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH……!!!!!!!!”Teriak Lembayung
“Bay, lo apa-apaan sih?!!
Lo cari mati ya?!!
Gue tau lo bosen hidup, tapi bukan gini caranya kalo lo mau ngakhirin hidup lo. Setidaknya jangan lakuin itu di depan gue!!!!” Teriak Jali yang sudah lepas kontrol
“BANGSAT!
Gue benci sama hidup. Gue benci, Gue benciiiiiiii!!!!!!!!!
Gue pengen mati!!!!!!!!!” Teriak Lembayung histeris
“Bay!!!Sadar Bay, sadar!” Jali mulai mencoba mendapatkan kembali kesadaran Lembayung.
“Lo tau gak Jal, gue udah cape!!!!!
Cape nyimpen rahasia busuk ini!!!!!!!!!!!”
“Rahasia apa Bay?”
“Genta mati karna OVER DOSIS, dan dia positif HIV!!!!!!!!!!!!!!! Bukan karna sakit jantung. Jadi Genta itu orang jahat. Dia brengsek. Dia gak mungkin ada di surga skarang. Tapi sekalipun dia brengsek, jahat, bejat, dia tetep kakak gue dan begonya lagi gue tetep sayang sama dia dan sampe kemanapun dia pergi bakal gue susul dia, karna gue sayang banget sama dia !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Lembayung benar-benar menguras tenaganya. Ia tak sanggup lagi berdiri, ia menjatuhkan dirinya dengan keras di tengah hujan malam yang menusuk-nusuk tubuh hingga beku. Jali terpaku mendengar kata-kata Lembayung.
“Gue udah tau Bay,
Gue udah tau,
Apa perlu gue ulangin sekali lagi kata-kata gue?
GUE UDAH TAU!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Makanya itu gue ada disini sekarang. Gue ada disini buat ngejalanin amanatnya Genta yaitu ngejagain lo biar gak rusak kaya dia. Tapi apa coba yang lo lakuin disini sekarang???
NYIA-NYIAIN hidup lo sendiri.. !!!!!
Lo kira Genta seneng apa ngeliat lo kaya gini?
NGGAK! Dia pasti malah kesel karna punya ade yang tolol kaya lo gini. Dikasih kesempatan hidup yang bahagia tapi malah melacurkan diri di kehidupan yang mengenaskan !!!”
Jali berteriak berapi-api mengalahkan suara tangis dan teriakan histeris Lembayung. Lembayung menghentakkan badan Jali. Meremas lengannya kuat-kuat.
“Kenapa lo gak pernah ngasih tau gue Jal ?????!!!!!!!”
Teriak Lembayung lebih kencang lagi berusaha menandingi suara hujan
“Perlu ya??? Lo juga udah tau sendiri kan akhirnya??? Lagian gue kasih tau ya Bay, hal-hal kaya gitu bukan untuk diomongin, tapi buat bahan introspeksi dan perenungan lo biar jadi lebih baik daripada Genta kedepannya!”
Jali mulai menurunkan intonasi suaranya sambil mengumpulkan kembali kesabarannya yang telah hancur tercecer di antara luapan emosi Lembayung. Ia tahu kalau bentakannya pada Lembayung salah dan tidak dapat memperbaiki keadaan, tapi ia juga sudah kehilangan kesabarannya. Ia akhirnya ikut terduduk di jalanan sepi itu. Disebelah Lembayung yang masih menangis. Dengan kesabarannya yang mulai terkumpul dan dengan segenap cintanya pada Lembayung ia menarik Lembayung duduk lebih dekat di sisinya. Menaruh kepala Lembayung di bahunya dan menenangkan Lembayung dengan bahasa hatinya yang tak terucap dengan kata, tapi tertangkap oleh Lembayung. Malam itu air hujan yang mewakili kesedihan Genta di atas sana bersatu dengan air mata kepedihan Lembayung. Dengan kacamata hati Jali, air hujan tersebut bagaikan darah yang mengucur deras dan merepresentasikan luka hati Genta dan Lembayung atas perpisahan mereka.
Dari ujung jalan seseorang menaruh harapan besar atas kejadian yang baru saja terjadi tersebut.

>>><<<

LEMBAYUNG (Episode 6)


Box telfon.
Dari jauh seseorang memperhatikan Lembayung. Mencoba menolong namun tak punya kuasa untuk melakukannya. Ia hanya boleh memandang, tidak berdaya untuk turut campur tangan.
Masih dengan menggenggam handphone-nya di tangan, Lembayung memerosotkan dirinya. Ia duduk bersandar di salah satu sisi box telfon umum tersebut. Ia mulai menggigil kedinginan, matanya merah karena sakit di seluruh badannya. Ia beringsut memeluk kedua lututnya sambil bergoyang-goyang kedepan dan kebelakang. Berharap tubuhnya akan merasa lebih hangat. Tapi gerakannya membuat ia semakin letih dan bertambah kedinginan. Sekujur tubuhnya mengeluarkan hawa panas. Mata Lembayung semakin merah. Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Terasa hangat di pipi Lembayung. Tenaganya serasa telah habis terkuras. Pelukan tangan di kedua lututnya mulai melemah. Ia semakin tersandar pada dinding box telfon umum itu. Dari kejauhan suara mobil datang mendekat. Lembayung tahu itu Jali. Semakin lemah saja badannya sebelum akhirnya matanya menutup. Lembayung pingsan. Mobil Jali berhenti tepat di depan box telfon umum. Jali berlari keluar dari mobil. Ia mendapati Lembayung yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Kepanikan melanda sekujur tubuhnya.
“Bay..”
Ia memegang tubuh Lembayung. Panas sekali. Di ujung mata Lembayung Jali menemukan setetes air yang membuat hatinya berkecamuk. Tak bisa ia membayangkan bagaimana besar penderitaan Lembayung melawan semua permasalahan hidupnya sendirian. Jali menggendong tubuh Lembayung yang ringan dan meletakannya di atas jok mobilnya. Ia berlari masuk ke dalam mobil. Panas Lembayung amat tinggi. Jali melarikan mobilnya ke apotik terdekat untuk membeli obat. Lalu ia melajukan mobilnya ke rumah Lembayung. Dalam perjalanan Lembayung sempat tersadar.
“Jal, sorry..”
“It’s okay..
Lo tidur aja Bay”
Lembayung terlelap. Raut wajahnya memancarkan keletihan, kekecewaan, kesepian dan penderitaan. Tak ada setitik pun raut ceria terlukis di sana.

>>><<<

Jali menidurkan Lembayung di kamar tidurnya yang berantakan. Bukan cuma kamarnya, seluruh isi rumahnya berantakan. Jali mengambil es batu dari lemari es dan mengompresi Lembayung. Semalaman suntuk, sampai pagi datang panasnya baru agak turun. Jali membereskan sedikit demi sedikit kamar Lembayung. Ia membuatkan sarapan untuk Lembayung sembari membereskan rumah. Setelah sarapannya siap, ia mengantarkan ke kamar Lembayung. Lembayung baru saja terjaga dari tidurnya.
“Jal, sorry..”
“Gak apa-apa kali Bay, lo kan sahabat gue. Udah sepantesnya lah gue nolongin lo.”
Jali tersenyum menanggapi Lembayung. Wajahnya memancarkan rasa lelah sekaligus kepuasan karena telah dapat membantu Lembayung. Ia mulai menyuapi Lembayung.
“Makan dulu yah Bay”
Lembayung terdiam. Ia menengok ke arah jendela. Jali tidak mengerti apa yang terjadi dengan Lembayung.
“Bay, makan dulu yah.”
Dari sudut pelupuk mata Lembayung tergulir setetes air mata. Jali merasa terenyuh.
“Jal, kok lo mau sih repot-repot banget sampe kaya gini.”
Lembayung berbicara sambil menahan rasa sedihnya. Jali kebingungan.
“Maksud lo Bay?”
Lembayung mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menyusun rangkaian kata yang sebisa mungkin tidak membuatnya tersedak dan malah menambah isak tangisnya.
“Buat orang kaya gue. Emang gue pantes yah diperlakuin sampe segininya?”
“Bay, lo ngomong apa sih? Lo tuh worthed dapet perlakuan kaya gini dari siapapun. Lo tuh masih punya gue kali Bay. Lo ga sendirian di dunia ini. Kenapa sih lo selalu melacurkan diri lo sendiri kaya gitu?”
Mereka berdua terdiam.
“Bay, sekarang liat gue”
Jali memalingkan dagu Lembayung agar dapat melihat dirinya. Lembayung berusaha mengelak. Ia tidak mau kelihatan lemah di depan Jali dengan memperlihatkan air matanya. Jali mulai mengerti situasi hati Lembayung
“Bay, buang dulu gengsi lo sekarang. Sekarang gue cuma pengen lo tahu satu hal. Dengerin kata-kata gue Bay, gue care sama loe, gue akan selalu ada di samping lo, kapanpun lo butuh gue, gue akan selalu ada buat lo. Mau lo susah, mau lo seneng, apapun keadaan lo, gue akan tetap dampingin lo. Karena.. “
Jali mengumpulkan keberaniannya, membuang rasa malu, gengsi, dan ketakutannya. Dengan sedikit keberanian dan modal nekatnya ia angkat bicara.
“Karena, gue udah terlanjur sayang banget sama lo. Please Bay, mulai sekarang lo janji sama gue kalo lo bakal jalanin hidup lo kaya dulu lagi. Jadi lo yang dulu lagi Bay. I missed the old Lembayung so damn much. Gue kangen sama senyuman lo, suara ketawa lo, semuanya tentang lo yang dulu Bay. Saat masih ada Genta, saat semuanya masih berjalan lebih baik dari sekarang..”
Lembayung terisak, menangis, semakin keras. Kepalanya menggeleng sambil terus mencucurkan airmata yang berhamburan. Matanya yang memerah seakan tidak mampu lagi meneteskan airmata. Inilah hal yang paling ditakuti Lembayung dari dulu. Pengakuan Jali.
“Gue gak bisa Jal, gue gak bisa.
Gue ga pantes buat lo.
Dan selamanya hidup gue gak akan pernah bisa balik kaya dulu lagi.”
Kata kata Lembayung terlontar dari bibirnya yang gemetaran menahan sejuta perih dan luka di hatinya. Kalimat itu diucapkannya sepotong demi sepotong, namun tegas dengan penekanan pada setiap kata-katanya. Penolakan yang tidak bisa dikatakan manis untuk cinta dan kehidupannya kedepan.
Jali terlonjak. Ia memang tidak siap menerima penolakan ini, tapi kalau ini memang yang terbaik untuk Lembayung, ia tidak akan mengelak Hanya satu yang mengganjal dihatinya
“Kenapa Bay? Kalo lo gak mau terima gue, gak apa-apa. Tapi untuk hidup lo sendiri, please. Jalaninlah hidup lo dengan lebih baik, lebih ceria. Please.”
Jali memohon. Lembayung semakin keras menggeleng. Suatu harga yang tidak dapat ditawar lagi. Jali tahu itu.
“Gue gak bisa Jal.”
Selanjutnya cuma sepi dan isak Lembayung yang berbicara.

>>><<<

Taman, Petang menjelang maghrib.
Langit baru saja menumpahkan peluhnya. Air hujan masih terdengar satu dua tetes. Suasana mulai gelap. Jali masih duduk di bangku taman itu. Dengan rokoknya yang sudah basah. Ia menjetikannya. Tubuhnya sudah kuyup akibat tersiram air hujan. Dari tadi ia cuma duduk di taman itu. Dari langit masih cerah sampai sudah lelah membiaskan sinar matahari untuknya. Jali tidak lagi bersemangat untuk melakukan apapun. Yang ia inginkan hanya ketenangan hati. Ia baru saja berniat untuk beranjak pergi dari tempatnya duduk sedari tadi ketika seorang laki laki menghampirinya.
“Udah mau pergi ?” Sapa lelaki tersebut dengan hangat.
“Heh?” Jali tidak terlalu memperdulikan kehadiran lelaki tersebut.
“Sori gue bukannya mau ganggu lo.” Lelaki tersebut tetap berusaha untuk menyapa dengan hangat.
“Maksud lo?” Tanya Jali dengan ekspresi yang tak tertebak.
“Gue liat dari tadi lo duduk disini. Dari kering sampe ujan. Kalo lo lagi gak mikirin masalah yang berat banget, gak mungkin dong lo ga menghindar dari hujan.”
“Lo ngebuntutin gue ya? Sori, gue bukan cowo yang setipe lo gitu.” Ujar Jali menuduh.
Lelaki itu tertawa, Jali salah sangka padanya.
“Oh nggak. Nggak sama sekali. Cuma gue sering liat lo main kesini. Gue pengen banget bisa bantu lo ngurangin beban yang ada di hati lo.”
“Hah? Ga perlu deh!” Karena sudah malas, Jali kemudian segera beranjak dari tempatnya duduk dan lekas pergi. Lelaki tersebut memperhatikan kepergiannya dari belakang.
Ya, dia Anda.

>>><<<

Beautylies.
Tengah Malam.
Jali sedang tidak dalam selera untuk melakukan apapun. Kepalanya yang terasa berat diletakannya di atas meja bar. Dalam hatinya pergolakan besar-besaran sedang terjadi. Rasa kekalahan beradu dengan rasa putus asa. Sampai saat ini posisi keduanya masih seri. Seakan memberi waktu istirahat bagi pertandingan yang sepertinya akan tiada akhirnya itu, Ia menarik dirinya dari meja tersebut dan pergi ke sofa di pojok ruangan. Rasanya kepalanya ingin meledak. Ia sungguh ingin berteriak, lelah dan muak dengan dirinya sendiri yang tidak dapat berbuat lebih baik bahkan untuk kepentingan dirinya sendiri.
“Kenapa gue diciptakan untuk jadi the loser sih?” Kata-kata itu diucapkannya dengan lirih. Hampir tak terdengar dan segera ditelan oleh suara bingar dari sekelompok keceriaan yang terjadi di sofa sebelah.
Dari jauh seseorang memperhatikan. Menyesal telah melibatkan diri begitu dalam dan ingin segera menghentikan permainan yang bukan ia awali dan tak akan ia akhiri tapi harus ia saksikan.

>>><<<

Wednesday, September 09, 2009

LEMBAYUNG (Episode 5)


Senin sore.
Seperti biasa, selepas jam sekolah Lembayung berkunjung ke taman favoritnya. Ketika sedang duduk-duduk sambil menghisap rokok di bangku taman yang biasa didudukinya, tiba tiba seorang laki-laki menghampirinya. Kali ini bukan seseorang yang dikenalnya. Bukan seseorang yang pernah dilihatnya atau dijumpainya sebelumnya, tapi lelaki tersebutlah yang pernah bahkan telah sering melihatnya dan mengamatinya dari jauh. Lelaki itu memulai pembicaraan dengan tenang
“Saya sering lihat kamu kesini”
Tidak ada jawaban dari Lembayung. Ia memang tidak bermaksud untuk mengindahkan kedatangan lelaki tersebut.
“Sorry, mungkin saya udah ganggu waktu kamu..”
Seraya meneruskan kalimatnya ia menjulurkan tangan kanannya dengan maksud memperkenalkan diri
“Anda.”
“Heh?”
Akhirnya dari mulut Lembayung keluar sepatah kata. Walau bukan kata yang berarti sesuatu, setidaknya lelaki tersebut merasa akhirnya diperhatikan juga. Ia menyambut sepatah kata dari Lembayung dengan seulas senyuman.
“Maksud saya, nama saya Anda.
Boleh saya tahu nama kamu?”
“Kayanya saya ga punya urusan sama kamu. Dan saya ga mau buang-buang waktu saya untuk kenalan sama kamu.”
“Memang mungkin saya udah buang waktu kamu. Saya minta maaf untuk itu. It’s okay kalo kamu nggak mau kenalan sama saya. Cuma saja saya lihat kamu sering banget datang ke tempat ini. Dari gerak gerik kamu rasanya kamu punya masalah yang cukup berat. Saya berharap bisa bantu kamu dalam menyelesaikan masalah kamu.”
Lembayung sama sekali tidak menggubris lelaki tersebut. Ia meneruskan merokok sambil memandang ke arah lain. Dalam hati ia masih ingat nasihat Bunda selagi ia masih kecil. Jangan berbicara dengan orang asing. Lembayung mematuhi hal tersebut, sampai sekarang.
“Gimana, mungkin kamu mau cerita sama saya tentang masalah kamu?”
“Maaf itu bukan urusan kamu.”
Lembayung pergi meninggalkan lelaki tersebut, yang tidak lain bernama Anda. Ia benar benar terganggu rupanya dengan sikap Anda yang ingin ikut campur dan lancang. Anda mengekornya dari belakang, tergopoh-gopoh setengah berlari berusaha mensejajari langkahnya.
“Saya beneran serius mau bantuin kamu loh, Lembayung..!”
Kata kata Anda membuat Lembayung tersentak. Dari mana Anda mengetahui namanya? Lembayung segera menghentikan langkahnya seraya menengok ke arah Anda. Anda berhenti mendadak, semendadak berhentinya langkah kaki Lembayung.
“Saya kira kamu ga akan berhen..”
Kalimat Anda diselak oleh Lembayung
“Darimana kamu tahu nama saya?”
Anda tersenyum puas. Usahanya berhasil.
“File kamu ketinggalan tadi.”
Dari balik punggunya ia menunjukan file Lembayung. Lembayung merampasnya dengan kasar.
“Saya rasa kamu udah keterlaluan deh. Kamu udah ganggu privacy saya.”
“Maaf, saya Cuma pengen balikin itu ke kamu”
“Oke, makasih.”
Lembayung berbalik lalu pergi meninggalkan Anda. Tapi Anda ternyata masih belum menyerah, ia mensejajari langkah Lembayung. Kali ini kemarahan Lembayung sudah benar-benar memuncak. Ia tidak lagi mampu menahan-nahan emosiya yang meledak-ledak.
“Mau lo tuh apa sih?”
Lembayung berteriak. Semua orang disekitarnya menoleh mencari sumber dari suara teriakan yang tidak lain disebabkan oleh Lembayung.
“Maaf, maaf, kayanya saya udah bener-bener ganggu kamu deh. Saya kan udah bilang dari tadi, saya cuma pengen bantuin kamu.”
“Oke, masalah gue adalah ada cowo bangsat yang annoying BANGET yang daritadi ngikutin gue terus dan bisanya bikin gue gak nyaman. Sekarang gue mau minta tolong ama lo supaya ngusir tu cowo. Bisa kan lo tolongin gue?”
Anda tersenyum menanggapi Lembayung yang sedang mencoba menyembunyikan rasa kesalnya dengan berbicara dalam nada yang tenang dan penekanan pada setiap katanya.
“Yaa, yaa, yaa. Saya bakal nolongin kamu untuk mengusir diri saya sendiri. Kalau kamu ga mau membiarkan saya menolong kamu untuk memecahkan masalah kamu yang lain, kamu Cuma perlu tahu bahwa hidup memang ga mudah. Cobaan-cobaan yang datang itu untuk bikin kamu makin kuat dan matang. Semakin banyak cobaan yang dihadapkan ke kamu akan semakin kuat pula kamu. Selamat menghadapi hidup yaa..!”
“Halah, Bullshit!”Teriak Lembayung tanpa menengok sedikitpun kearah Anda. Anda harus setengah berteriak untuk menyelesaikan kalimatnya. Karena dari awal ia berbicara Lembayung juga telah meninggalkannya. Tapi diam diam Lembayung mendengarkan kata kata yang keluar dari mulut Anda dan menyimpannya dalam lubuk hatinya yang terdalam.

>>><<<

Aneh
Rasa itu menggelantung di hati Lembayung. Ia tidak mengira kalau perlakuannya pada Anda akan menimbulkan rasa yang begini rupa pada dirinya. Kenapa masih ada orang seperti Anda di jaman edan seperti sekarang ini? Orang yang begitu bodohnya mau menawarkan bantuan kepada seseorang yang belum dikenalnya. Sungguh membingungkan, pikir Lembayung. Hanya saja mungkin Lembayung tidak akan pernah mengerti, bahkan tidak punya cukup waktu untuk mencoba mengerti.

>>><<<

Malam, hampir pagi.
Jali terjaga dari mimpinya. Ia meraih henfonnya utk melihat jam. Pukul 2 kurang sedikit. Ada 9 missed call tertera di layar handphonenya. Ternyata Lembayung, belum lama tadi perempuan itu menghubunginya. Sambil sedikit demi sedikit mengumpulkan kesadarannya, Jali balas menghubungi Lembayung. Lama sekali tidak ada jawaban, sampai akhirnya telfon itu putus sendiri. Jali mencoba lagi. Lama.. ketika ia hampir menyerah, dari ujung telfon suara Lembayung terdengar juga..
“Jal..”
Suara di ujung sana terdengar letih
“Kenapa Bay?”
Tidak ada suara sedikitpun selain gemerisik sambungan telepon bercampur dengan desau angin.
“Bay,,”
Lagi lagi tidak ada jawaban
“Bay ini Jali Bay..”
“Iya..”
Balas Lembayung lemah
“Bay lo dimana Bay?
Lo kenapa sih?”
Jali mulai resah
“Jal..”
“Iya ini gue Bay, Ini Jali..”
“Jal,, tolongin gue Jal..”
“Gue bisa Bantu apa Bay?”
“Gue di depan telfon umum biasa Jal..”
“Bay, lo gila yah jam segini masih diluar rumah sendirian?
Lo cewe kali Bay!
Ya udah, lo jangan kemana-mana. Lo tunggu gue di sana. Inget Bay, lo jangan kemana-mana..!”
Jali menyabet sweaternya yang tergantung di kursi seraya meraih kunci mobil di atas mejanya. Ketika keluar dari pintu kamarnya, tiba-tiba pintu kamar orang tuanya terbuka.
“Mau kemana kamu malam-malam begini Jal?”
“Cari angin, Bu.”
Jawab Jali terburu buru
“Hm. Perempuan itu lagi ya. Ibu sudah bilang berapa kali Jal, berhubungan dengan perempuan itu ga akan mendatangkan keuntungan apapun untuk kamu.”
Ibu Jali berkata kata dengan nada dalam dan dingin.
“Bu! Dalam suatu hubungan yang dicari bukan untung atau rugi, ini bukan jualan, Bu. Oh iya, by the way, perempuan itu punya nama. Namanya Lembayung.”
Jali meninggalkan ibunya dalam kegelapan.Lalu, mengeluarkan mobilnya dari garasi dan bergegas mengebut laju kendaraannya di atas aspal jalanan Ibukota yang lenggang.

>>><<<

Wednesday, September 02, 2009

LEMBAYUNG (Episode 4)


Siang yang terik,
di suatu jalan didepan sebuah bangunan tua, Lembayung duduk berjongkok. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah file. Ia mulai menulis

aku sepi
sendiri
selalu begini
duduk, berjongkok
menatap langit terik
menghirup udara siang
lalu, lagi untuk kesekian kali
aku bertanya
entah pada siapa
banyak orang bilang
“tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan..”
tapi
kuminta langit berubah jadi hijau
kupandangi langit
lamat lamat kuperhatikan,,
tidak ada perubahan
pun setitik
habis itu kucoba minta hal lain
kuminta supaya setiap aku meninggalkan jejak langkah
di situ tumbuh sekuntum mawar
tapi apa..
malah kurasa pada tiap langkahku
yang timbul adalah bau busuk
yang membuat orang menoleh
dan memandangku dengan tatapan menjijikan
lagi satu
yang dari dulu
kuminta dari Nya
kembalikan ayah, bunda dan gentaku
kau tahu??
pun ini tak dikabulkannya….!!!!!
aku jadi ingin tahu
apa yang membuat
permintaanku terlalu mustahil untuk diwujudkannya..
persetan dengan mereka yang bilang semua itu mungkin

Lembayung menutup filenya, memasukannya dalam tas. Setelah menghabiskan sebatang rokok dan hendak menyalakan rokoknya yang kedua ia melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya. Sebuah pemantik api diarahkan kearah rokok yang telah berada diantara kedua bibirnya. Tanpa memandang ke wajah si pemilik pemantik api itu, ia sudah tahu siapa yang sedang berada dihadapannya sekarang ini.
“Udah nulis berapa halaman?” tanya si pemilik kaki
“Belum apa-apa”
“Masa??
Tadi gue liat lo lama banget nulisnya..”
Lembayung terlihat sedikit membuang nafas lelah hati sebelum akhirnya sudi menanggapi pernyataan yang tampaknya kurang penting tersebut.
“Masih belom bosen, Jal”
“Maksud lo?”
“Belom bosen ngintilin orang sinting kaya gue?”
“Kenapa lo nyebut diri lo sendiri orang sinting sih?”
“Ya iyalah,
Itu sih kata anak-anak yang ada di sekolah gue.
However, manusia kan ga jauh beda.
Dan gue rasa standard seseorang bisa dibilang freak, aneh, nerd atau sinting antara satu orang sama orang lain juga belom berubah..”
“Lo ngomong apa sih Bay?
Kan gue udah pernah bilang ama lo,
Ga tau kenapa tapi gue selalu searah aja sama lo”
“Oh ya..?” Jawab Lembayung Pendek
“That was the same and the only one reaction that you showed me when the first time I told you so”
“Soo.. what more can I say..”
“It’s okay. That’s enough.”
Jali sudah biasa diperlakukan begini oleh Lembayung. Ditatap dengan tatapan dinginnya yang kurang menyenangkan dan dibalas dengan jawaban-jawaban singkatnya yang tajam dan terkadang mengundang kepanasan hati. Tapi Jali sudah terbiasa. Ia sudah tahu bagaimana menanggapi sikap Lembayung yang tanpa sengaja mengesalkan tersebut.
Keheningan menyelimuti atmosfer yang memisahkan mereka berdua. Jali ikut berjongkok di sebelah Lembayung. Ketika mulai menyalakan rokoknya, Lembayung menegur.
“Jangan kebanyakan ngerokok Jal”
“Lo sendiri ?”
“Gue kan jarang, lo tuh yang harus mulai ngurangin”
Walau setengah membantah pada awalnya, namun akhirnya Jali menuruti perkataan Lembayung. Ia menyakukan kembali rokoknya
“Abis ini lo mau kemana Bay??”
“Ga tau deh, jalan-jalan lagi mungkin..”
“Gue temenin yah”
“Gak usah”
“Kenapa?”
“Ya, gue lagi pengen sendiri aja. Lagian lo bawa mobil kan?”
“Iya. So ?”
“Gue bilang kan pengen jalan-jalan.
Kalo lo nemenin gue itu artinya gue harus naik mobil lo.
That means, gue naik mobil bukannya jalan kaki.”
Jali tertawa renyah, menyambut kelucuan yang tidak sengaja dilontarkan Lembayung.
“Okay, gw gak usah bawa mobil kalo gitu, gampang kan?”
Lembayung terdiam, ia tidak mengiyakan ataupun membantah. Tapi tiba tiba..
“Kenapa sih Jal?”
“Bay, Bay, kenapa apanya lagi sih?”
“Kenapa lo selalu ngikutin apa yang gue bilangin ke lo,
kenapa lo slalu ada kemana gue pergi,
kenapa,
ah udahlah.,”
Lembayung tak lagi mampu meneruskan kalimatnya, walaupun dalam otaknya masih tersimpan begitu banyak pertanyaan yang sungguh membingungkan dirinya dan meminta untuk cepat dijawab. Sementara Jali benar-benar terdiam kali ini. Lidahnya kelu. Otaknya jadi beku. Bingung. Apa yang harus ia katakan pada Lembayung sekarang. Tiba tiba ia menjawab
“Emang harus selalu ada alasan yang jelas buat seseorang untuk ngelakuin sesuatu, apa ga boleh seseorang ngikutin kata hatinya??”
Jali menunggu jawaban Lembayung, tapi lalu ia meneruskan kalimatnya segera
“That’s what I’m doing right now, ngikutin kata hati gue”
Lembayung terdiam. Diam diantara mereka bukan sekali sekali terjadi. Melainkan seringkali. Tapi saat mereka terdiam sebenarnya ke duanya sedang meraba situasi, mencoba membaca suasana hati masing masing dalam gelap, mencoba untuk mencari jawaban yang sesungguhnya sudah ada di hadapan mereka masing masing.

>>><<<>>><<<>>><<<

Hari itu Jali menang. Tiba tiba saja Lembayung melangkah mendahului Jali lalu segera duduk dengan nyaman di atas jok mobilnya. Jali sempat keheranan sebentar sebelum akhirnya tersenyum maklum. Bukankah Lembayung selalu begitu. Membingungkan dan serba tak tertebak. Setiap gerakannya, perkataan yang keluar dari bibirnya menjadi sebuah misteri yang seakan menunggu untuk dipecahkan. Di mobil Lembayung tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Jali sedikit sedikit menengok ke arah Lembayung yang ada di sisinya. Dari tempatnya mengemudi ia dapat menyaksikan bahwa Lembayung sedang tidak dalam keadaan fokus. Otaknya pasti sedang menyusun kata kata yang berujung menjadi kalimat cerdas yang mengagumkan. Lembayung memandang keluar mobil. Ia memperhatikan jalanan di sisi kirinya. Matanya hampir tidak berkedip. Saat sedang memperhatikan sesuatu, Lembayung seakan akan berubah menjadi orang lain. Matanya yang polos dan rautnya yang serius bagaikan seorang bocah yang baru kali pertama dapat melihat dunia lalu membentuk sebuah senyuman misterius. Jali senang dapat melihat Lembayung dalam keadaan seperti ini, hanya pada saat saat seperti inilah Lembayung menjadi dirinya yang dulu. Lembayung tidak pernah berubah saat memperhatikan sesuatu. Sungguh jauh dalam hatinya ia menikmati saat ini.

>>><<<

Wednesday, August 26, 2009

LEMBAYUNG (Episode 3)


Kamar pengap.
Lembayung duduk menyendiri di sudut kamarnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa amat berat. Kata-kata Jali tadi siang berputar-putar di kepalanya.
“Lagian Genta kan orang baik, pastilah sekarang dia udah masuk surga”
Sesaat kemudian Lembayung kembali mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Kala itu Lembayung masih berusia 15 tahun. Ia masih mampu menjalani hari-harinya yang berat karena ada Genta, satu-satunya keluarganya yang masih tersisa semenjak ayah dan ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan saat ia masih berusia 9 tahun. Saat itu dalam hatinya ia masih menyimpan seberkas harapan untuk masa depannya.
Siang, sepulang sekolah ia segera kembali ke rumah. Semenjak ia berdiri di depan pintu gerbang sampai akhirnya menerobos masuk ke dalam kamar kakaknya ia tidak berhenti memanggil-manggil nama Genta. Awalnya Lembayung tidak menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Genta. Genta duduk berlutut di depan meja. Cuma ada sampah dan hal hal tidak penting lainnya disitu. Di depan mejanya tersebut, Genta mendekatkan salah satu sisi hidungnya ke atas kaca yang diatasnya terdapat serbuk. Genta terlihat menghirup serbuk-serbuk yang tertata dalam sebuah barisan tersebut dalam-dalam.
“Genta…”
Panggil Lembayung lemah
Genta baru menyadari kehadiran Lembayung. Ia terkesiap dan cepat-cepat membereskan barang-barang yang ada dihadapannya. Tapi yang ia lakukan malah membuat semuanya menjadi semakin berantakan. Akhirnya ia beranjak pergi dari mejanya serta meninggalkan barang barang tersebut lalu dengan segera menghampiri Lembayung. Langkahnya lunglai, badannya terlihat lemas, Lebih lemah dari biasanya.
“Bay..”
Terlambat. Lembayung segera berlari meninggalkan Genta dan menuju ke arah kamarnya. Ia masuk dan membanting pintu dengan keras. Genta menyusulnya, keinginannya untuk masuk menjadi gentar akibat kerasnya debuman pintu yang disebabkan Lembayung. Ia mendekatkan telinganya ke daun pintu. Dari luar tempatnya berdiri sekarang ia dapat mendengar isak suara tangis adiknya.
“Bay..”
Genta mencoba memanggil adiknya. Setelah beberapa kali memanggil Lembayung dan tidak mendapatkan respon, Genta menguatkan hatinya. Ia meraih gagang pintu dan memutarnya. Ternyata pintu itu memang tidak terkunci. Dari tempatnya berdiri sekarang ia bisa melihat adiknya duduk di sudut kamar, membelakangi dirinya. Hatinya hancur melihat adik semata wayangnya yang amat ia cintai dalam keadaan begitu rapuh. Ia telah gagal menjadi seorang teladan bagi adiknya.
“De, please dengerin gue dulu”Ucap Genta
Lembayung tidak menjawab. Tubuhnya bergetar menahan isak tangisnya.
“De kayaknya lo harus tau sesuatu..” Sambung Genta lagi
“Ka, gue harus tau apa lagi?
Emangnya yang tadi gue liat belum cukup apa untuk ngejelasin semuanya?”
“Ya, gue tau lo kecewa”
Lembayung terdiam
“Tapi setidaknya dengerin gue dulu De. Biar lo ga ngulang dosa yang sama, sama apa yang gue lakuin sekarang, entarnya.”
“Ka, gue tuh sayang banget ama lo, lo tuh tokoh panutan gue, lo kakak gue, lo bokap gue, lo tuh segalanya buat gue. Tapi sekarang, apa coba yang lo contohin buat gue, lo ngecewain gue kak, padahal lo idola gue, di otak gue you’re my only one superstar. Ternyata orang yang selama ini gue bangga-banggain ke semua manusia yang ada di jagad raya ini ga lebih dari seorang cowo goblog yang bisa aja gitu jadi budak barang barang setan kaya gitu.”
Lembayung angkat bicara sambil setengah berteriak histeris. Matanya yang merah dan berair tak mampu lagi menampung isak tangisnya yang sedari tadi dipaksanya untuk tidak keluar. Genta hampir tidak mampu berkata apa apa lagi selain..
“Sorry De”
Hening sejenak. Kamar Lembayung yang gelap menambah suasana suram yang menyelimuti mereka berdua. Hanya ada suara isak tangis Lembayung yang memecah keheningan diantara mereka.
“Gue udah ga bisa lagi ngatasin semua masalah hidup gue. Lo tau kan gimana keadaan kita waktu kehilangan bunda sama ayah? Mereka emang meninggalkan materi yang cukup untuk kita. Secara finansial kita emang terpenuhi. Tapi secara psikologis, lo inget kan gimana kita segitu kelimpungannya karena kehilangan arah, kehilangan pegangan. Keadaan jiwa kita rapuh banget, gue salah bergaul, lo menutup diri sama dunia. Gue lebih suka lari dan menghindar daripada menyelesaikan masalah. Gue kira kalo gue pake tuh barang gue bisa ngelupain sedikit aja masalah gue, tapi ternyata..
I’m addicted”
Genta berusaha menjelaskan apa yang telah terjadi dengan terputus putus. Berusaha menutupi kesalahannya dengan mencari pembenaran pada jawaban adiknya. Lembayung tidak memberi sedikitpun pembenaran, apalagi penghakiman. Genta meratapi adiknya yang semakin beringsut ke pojok ruangan. Ia mengumpulkan keberanian untuk mendekati adiknya yang semakin membenamkan dirinya ke kedua lututnya yang tertekuk. Dengan penuh rasa sayang ia memeluk adiknya. Mencoba memberikan sedikit ketenangan. Lembayung membalas pelukan kakaknya. Ia memeluk Genta dengan erat. Lalu mereka menangis bersama.
“Gue sayang banget sama lo kak, Gue gak mau ngeliat lo kaya gini”
“Iya de, gue tau, gue juga sayang banget ama lo.
Maafin gue ya de, lo jangan pernah jadi kaya gue ya De.
Kalo lo nakal yang wajar-wajar aja, jangan sampe kaya gue gini”
“Gue cuma punya lo kak, jangan tinggalin gue yah..
Please..”
“Iya gue janji……”
Sayangnya, janji tinggalah janji. Janji Genta pada Lembayung teringakari oleh keadaan. Beberapa bulan kemudian Genta harus meninggalkan Lembayung. Untuk selama lamanya. Genta ditemukan tergeletak tak bernyawa di kamarnya. Semua orang yang melihat keadaannya pasti tahu apa yang menjadi sebab kematiannya. Over Dosis. Tetapi Lembayung menutupi penyebebab kematian Genta. Semua orang tahu kalau Genta meninggal karena penyakit jantung yang diidapnya secara turunan dari sang ayah.
Lembayung kembali tersadar dari lamunannya. Rasa sakit dikepalanya semakin menjadi-jadi. Ia bergumam sendiri..
“Jali bilang Genta orang baik, jadi pasti masuk surga.
Tapi Genta bukan orang baik, meninggalnya juga sama sekali nggak baik-baik. Jadi dimana Genta sekarang? Neraka?
Neraka..,
Surga..
Kata orang, orang jahat pasti bakal masuk neraka..
Mungkin emang disitu tempat Genta sekarang.
Pokonya, dimanapun Genta berada sekarang, ke sana jugalah gue bakal nyusul dia secepatnya, Gue akan nemenin Genta.
Ka, kita bakal barengan lagi kok, gue janji..”Putus Lembayung dalam hati.

>>><<<

Jalanan malam.
Jali menghisap rokoknya yang tinggal setengah batang sambil terus memandang lurus ke depan. Dari belakang kemudi perasaan gelisah mengintainya. Ia mengemudi tanpa tujuan dan tak tentu arah. Selintas kemudian pikirannya kosong. Seekor kucing yang melintas di jalan yang ada dihadapannya membuat Jali segera membanting setir sekaligus merem mendadak mobilnya. Bunyi rem mobilnya nyaring dan melekit, menghunus tajam sanubari. Setiap orang yang mendengar suara itu pasti akan menengok dengan cepat sambil menyimpan perasaan tak enak dalam hati. Untungnya jalanan malam ini sepi. Tidak terlihat banyak kendaraan yang melintas kecuali sesekali ada yang melaju kencang mendahului laju mobil Jali. Jali memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia memarkir mobilnya di sisi jalan raya yang sepi dan dingin. Rokoknya yang telah tinggal puntung dijentikan ke arah jalan. Ia melamun sebentar, sekilas ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Lembayung. Saat itu Lembayung masih bisa ceria. Di mana ada Lembayung di situ ada kegembiraan tersendiri. Tapi apa yang terjadi sekarang ialah kebalikannya. Di mana ada Lembayung, di situ tercipta suasana dingin. Seakan akan seluruh alam di sekelilingnya berkonspirasi untuk menguatkan sikapnya yang dingin itu. Lembayung yang ia kenal sekarang adalah Lembayung yang dingin, sensitif, datar, tidak suka terlibat dan penyendiri.
Dalam kesendiriannya Jali mengeluh.
“Bay, kenapa sih lo harus ngancurin diri lo ampe segininya? Udah dong Bay, gue sayang banget sama lo, gue care sama lo, gue benci karna gue ga bisa bikin apa apa buat lo, gue pengen banget ngehibur lo, tapi gue gak tahu gimana caranya.
Gue harus gimana lagi buat bikin lo balik kaya dulu lagi?” Keluhan yang ditujukan pada lembayung itu akhirnya lepas juga dari dalam hatinya. Kepenatan hati dan otaknya membawa ia pada titik kejenuhan yang memuakkan. Ia membenamkan kepalanya pada kendali setirnya dengan sejuta beban menjejal di hati, mendesak ingin segera keluar, sambil berharap agar kesakit hatiannya cepat hilang.

>>><<<

Monday, August 24, 2009

12

Saya, tangis sedan penuh sesenggukkan
Sakit hati dan
Luka tertorehkan
Minta maaf pada Tuhan
Mohon segala ampunan

Aku sayang Tuhan Yesus.
***

Wednesday, August 19, 2009

LEMBAYUNG (Episode 2)



Taman.
Lembayung berjalan menyusuri sekeliling taman sebelum akhirnya memilih sebuah tempat duduk yang terletak di tengah-tengah taman. Ia merasa begitu tenang di tengah hiruk pikuk kendaraan yang memadati ibukota. Matanya menatap lurus kedepan, sambil mengosongkan pikirannya, ia berdiam diri. Saat menikmati kediamannya, seorang lelaki dengan langkah tidak terburu-buru berjalan menuju kearahnya. Duduk tepat di bangku taman kosong yang ada di sebelahnya. Lelaki itu membiarkan Lembayung tidak memperhatikan kehadirannya. Lembayung pun bukannya tidak tahu akan kehadiran lelaki tersebut. Hanya saja ia memilih untuk tetap diam dan tidak bereaksi sedikitpun. Ia tetap menatap lurus ke depan sampai akhirnya lelaki tersebut mengangkat bicara.
“Lagi ngapain?”
“Kenapa nanya kaya gitu?”
“Kenapa apanya?”
“Yah bukannya lo selalu tau apa yang gue lakuin..”
Lembayung masih belum memindahkan pandangan matanya.
“Apa? Merenungi hidup?”
Lembayung terdiam.
“Silly girl”
Jawab lelaki itu sambil sedikit tersenyum.
“Gue ga pernah minta lo untuk merhatiin gue kan?”
Lembayung melemparkan pandangan kosongnya ke arah lelaki tersebut.
“Maksudnya?”
“Gue gak perlu temen kok Jal. Gue lebih suka sendiri.”
Suaranya tenang, nadanya datar, Ia tidak menampilkan secuil pun emosi. Sambil berbicara ia melemparkan pandangannya ke arah lain.
“Emang enggak sih, tapi gue selalu searah aja sama lo”
Jali, nama lelaki tersebut. Ia berusaha menyamakan nada dengan Lembayung, sedikit demi sedikit belajar untuk berujar sama seperti bagaimana Lembayung berucap.
“Oh ya?”
Jawab Lembayung tidak begitu peduli.
“Ya gitu deh..”
Kehabisan ide membuat Jali menjawab sekenannya.
“Hmm..”
Sekali lagi Lembayung memalingkan kepalanya ke arah Jali. Kali ini dengan cara yang berbeda. Ketiba-tibaannya menimbulkan sedikit reaksi keterkejutan pada diri Jali. Seperti biasa, ia memandang lelaki itu dengan pandangan kosong.
“Gue bosen Jal.”
Jali melengos sebelum menanggapi perkataan Lembayung.
“Lo selalu bilang kaya gitu Bay.”
Jali memberi jeda sedikit untuk memasuki komentar selanjutnya, jeda ini sekaligus diberikannya pada Lembayung untuk kembali merenungkan kata-kata yang baru saja diucapkannya.
“Jadi sekarang mau lo apa?”
“Gue mau mati.”
Secara singkat dan jelas jawaban dari pertanyaan Jali dikemukakan oleh Lembayung. Kalimat itu lepas dari bibirnya seakan tanpa beban dan dipikirkan sebelumnya.
“Kalo ngomong tuh disaring dulu Bay.
Lo belom cape juga apa, gue ceramahin tentang hal ini?”
Sudah tidak heran lagi Jali mendengar keinginan Lembayung yang keluar secara langsung dari mulutnya. Entah berapa kali sebelumya ia telah mengungkapkan keinginannya tersebut pada Jali. Dan lagi-lagi Jali tidak tahu berapa kali lagi ia harus mendengar Lembayung mengatakan hal tersebut pada dirinya sampai akhirnya ia mati juga.
Jali mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, mengeluarkannya sebatang. Ia menyorongkan tangannya untuk menawari Lembayung.
“Mau?”
“No, thanks. Gue masih ada.”
Jali kembali angkat bicara seraya menyalakan rokoknya.
“Bay, banyak orang di dunia ini yang mati sebelum mereka bisa ngelaksanain semua keinginan dan ngeraih cita-cita mereka. Tapi elo, yang hidupnya baru seumur jagung dan kemungkinan hidupnya masih lebih panjang malah nyia-nyiain hidup lo. Masa depan lo masih jauh Bay, perjalanan lo tuh masih panjang. Sekarang lo tuh masih di awal banget, ibaratnya cerita yang alurnya maju lo tuh baru sampe di tahap perkenalan, Bay. Belom ada apa-apanya.”
“Hidup gue udah ancur Jal.”
“Ancur apanya? Lo tuh jangan suka melacurkan diri lo sendiri deh Bay. Lo sendiri yang ngancurin hidup lo. Kalo lo mau bangkit, lo bisa kok bikin hidup lo kaya dulu lagi. Lo tahu itu kan Bay?”
“Tahu.”
“Nah, terus?”
“Ada bagian hidup gue yang udah ilang.”
“Kakak lo, maksud lo?”
“Genta tuh separo hidup gue Jal.”
“Iya, separo, tapi bukan semuanya kan?”
“Apa yang bisa dilakukan seseorang tanpa separuh tubuhnya Jal?”
“Please deh Bay, jangan menutup diri lo dari kenyataan yang ada dong! Buka deh mata lo, di dunia ini ada banyak manusia yang dilahirkan dengan begitu banyak kekurangan. Ada yang badannya cuma sampe sepaha, ada yang ga punya kaki, ada yang ga punya tangan, ada juga yang bahkan ga punya keduanya. Tapi coba gue tanya sama lo, apa abis itu mereka lantas mati? Nggak kan? Mereka survive kok, mereka berjuang untuk terus ngejalanin hidup mereka, bahkan ga sedikit juga dari mereka yang berhasil, punya prestasi yang membanggakan, dan punya kehidupan yang bahagia. Itu karena mereka usaha Bay, USAHA..! Nah, elo?”
“I don’t even care anymore with my self”
“Hah?”
Jali sedikit menyingkirkan rokoknya agar dapat melihat Lembayung lebih jelas.
“Trus lo mau apa di dunia ini kalo lo sendiri aja udah ga peduli sama diri lo?”
“Tapi gue peduli kok sama Genta.”
“Gimana bisa lo peduli sama orang lain tanpa ngurusin diri lo sendiri dulu?”
“Tapi gue sayang Genta Jal.”
“Tapi kenyataannya, Genta tuh udah mati Bay! Suka atau enggak, lo harus hadapin kenyataan itu!”
Bentakan Jali tidak membuat Lembayung gentar. Jali sadar bahwa ia telah terlampau keras. Lembayung terdiam, tapi untuk beberapa lama kata-kata Jali seperti mengambang di ruang kosong antara mereka. Antara hendak masuk ke telinga Lembayung atau pergi saja menguap pada udara. Jali berusaha menutupi keheningan diantara mereka dengan kembali berbicara
“Lo pikir Genta gak kecewa apa di atas sana ngeliat lo makin hancur-hancuran kaya gini dari hari ke hari?”
Jali kembali terdiam, mencoba mencari kata-kata yang sekiranya pas.
”Dia tuh pasti udah bahagia Bay, di atas sana. Lagian Genta kan orang baik, pastilah sekarang dia udah masuk surga.”
Lembayung menatap Jali dengan pandangan tajam. Jali belum pernah melihat Lembayung tampak seperti ini sebelumnya. Pandangannya menunjukkan amarah, kesedihan, sekaligus kekecewaan yang mendalam. Jali mengingat-ingat ulang kata-kata yang baru saja diucapkannya. Berusaha menemukan apakah ada kesalahan pada kalimat yang baru saja ia katakan. Tapi Lembayung terlanjur naik pitam, entah mengapa.
“Lo gak tahu apa-apa tentang Genta, Jal!”
Lembayung segera menggendong tas punggungnya lalu berjalan meninggalkan Jali. Dari bangku taman yang didudukinya Jali hanya bisa memandangi kepergian Lembayung yang menyisakan tanda tanya besar dalam dadanya.

Ia pergi dengan beribu pedih
Berjalan berteman perih
Bersedih tanpa segenggam kasih
>>><<<

Wednesday, August 12, 2009

Lembayung (Episode pertama)


Kelas.
Kesepian yang diwajibkan..
14.23
Apalah arti semua hal ini
Untuk hidupku yang sudah tidak lama lagi
Iya, itu pasti
Lihat saja nanti
Kalau maut masih enggan menjemputku
Biarlah aku yang terlebih dahulu menyongsongnya

14.29
Tik tak tik tak tik tak tik,,
Bunyi ketukan pensil Lembayung bercampur dengan detak irama jam dinding yang semakin lama semakin mengganggu.

14.30
KRINGGGG……!!!!!!
Lembayung segera mengemasi buku-bukunya lalu bergegas keluar kelas sebelum teman-temannya selesai berkemas. Ia berjalan keluar dengan pandangan kosong. Selepasnya dari gerbang sekolah, Lembayung mengeluarkan sebungkus rokok. Menarik keluar sebatang dari padanya seraya memantikkan api pada ujungnya, lalu menghisapnya dalam-dalam. Sambil menunggu angkutan di jalan raya depan sekolah.

>>><<<

Atas bis yang melaju.
Lembayung duduk di pinggir jendela, mempersilahkan angin menghamburkan rambutnya. Membiarkan orang melepas pandangan curiga dan menaruh prasangka atas perilakunya. Seorang perempuan muda yang notabene adalah seorang pelajar menghisap rokok di atas sebuah bis kota yang sedang melaju membelah arus lalu lintas ibukota Jakarta. Tapi toh ia tetap tak peduli, ia tidak pernah lagi peduli, Lembayung sudah terbiasa dengan pandangan menghakimi, apalagi menghujat. Baginya separuh dari hidupnya adalah hidup dengan prasangka buruk yang diciptakan orang lain atas dirinya.
“Biarin aja orang menilai seenak perutnya sendiri. Toh hidup juga hidup gue, yang ngejalanin juga gue, peduli setan sama semua manusia-manusia sinting di luar sana yang sukanya mempergunjingkan keadaan orang lain. Emang kalo mereka tahu hidup gue aslinya kaya apa, mereka bisa bantuin gue apa? Pasti enggaklah!”, pikir Lembayung.
Sesaat kemudian ponselnya bergetar. Sebuah sms masuk

Dmn bay?

Lembayung mengetik sebuah jawaban dengan cepat dan singkat

Di jalan

Tidak lama kemudian sebuah sms kembali mengusiknya.

Ke arah mn?
-
Tmn suropati

Lagi-lagi Lembayung membalas dengan singkat. Kali ini tampaknya ia tak lagi mendapat jawaban. Dari tempatnya duduk, Lembayung menangkap sosok seorang wanita paruh baya yang baru saja naik tampak letih dan mencari tempat duduk. Ia segera bangkit dan mempersilahkan wanita tersebut untuk menempati kursinya. Lembayung tidak habis pikir, bagaimana bisa sejumlah banyak manusia yang berjejal dalam bus tersebut tega membiarkan wanita tersebut berdiri, padahal beberapa saat yang lalu mereka baru saja menghakimi Lembayung dengan pandangan yang menajiskan. Rupanya seisi dunia ini memang sudah benar-benar sinting. Tak lama kemudian Lembayung turun dari bis. Ia telah sampai di tempat tujuannya.

>>><<<

Lembayung. Sebuah Pengantar..

Halo semuanya. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung. Terhitung semenjak hari ini, Rabu, 12 Agustus 2009, di blog saya ini akan hadir cerita bersambung bertajuk "Lembayung."

Mohon masukkannya ya. Di kotak comment dan juga polling di halaman paling bawah, ayo tolong diisi yah. Terima kasih banyak. Selamat menikmati. Semoga bisa diterima :)

Friday, August 07, 2009

selamat jalan, Rendra..


Sajak Rajawali


sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka


selamat jalan, si burung merak,

selamat jalan Rendra..

Thursday, August 06, 2009

and i say: "welcome myself"


so, ever since there's nobody here to greet me: "hello, welcome, have fun," i decided to say these words to my very own self: "hello, darling. welcome, please feel free to write anything you want, right here, anytime. share your thoughts and minds, everything, darling. have fuuun :)"

and i replied to myself: "thanx :) okay, now, let me have some fun here, write here, right now :)"