Skip to main content

Posts

Showing posts from 2009

LEMBAYUNG (Episode 8) -- END --

Kamar Lembayung.
Malam.
Keesokan hari setelah peristiwa yang mengungkapkan semua rahasia diantara Lembayung dan Jali.
Lembayung meraih handphonenya dan menekan nomor selular Jali. Nada sambung mulai terdengar pada handphonenya.
“Halo”
Suara Jali terdengar dari ujung sana
“Jal,”
Lembayung menjawab sapaan Jali ragu-ragu
“Ya, kenapa Bay?”
“Hm..nggak..Gue cuma pengen minta maaf aja”
“Untuk?”
“Yah untuk kelakuan gue yang kemaren.
Gue udah nyakitin hati lo banget yah Jal??”
Jali terdiam
“Jal?” Lembayung mengharapkan jawaban dari pertanyaannya
“Ya udalah, Bay. Gak usah ngebahas itu gimana?”
“Ya pokonya gue minta maaf.”
“Okay, I forgive you. Satisfy?”
“Thanks, Jal.”
“Buat apa?”
“Yah buat semuanya yang udah lo lakuin ke gue”
“Lo tuh lagi kenapa sih Bay?
Tau tau nelfon sambil ngelantur kaya gini.”
“Gue gapapa kok Jal”
“Lo gak lagi minum kan?”
“Ya gak lah”
“Okay. Ya udah, lo cuma pengen ngomong itu aja?”
“Hm, actually gue pengen ngajak lo …

LEMBAYUNG (Episode 7)

Jalanan sepi
Suatu petang
Jali telah berjalan hampir 3 setengah jam untuk mengabadikan setiap moment menarik yang tengah terjadi di sepanjang jalan tersebut. Hobi fotografinya selalu muncul di saat yang tak tepat. Seperti saat ini. Mustinya ia berusaha mengembalikan kepercayaan Lembayung pada dunia, daripada hunting di persimpangan sebuah jalanan yang terlalu lenggang. Sepinya jalanan tersebut membuat Jali harus menunggu lama agar mendapatkan suatu moment yang menarik. Setiap derap langkah kaki manusia membuatnya menoleh karena hal tersebut merupakan sumber kebisingan yang paling mencolok di jalan itu. Suara adzan dari langgar terdekat telah berkumandang. Jali menikmati alunan suara adzan yang didengungkan. Sepoi-sepoi halus suara derap kaki membuatnya menoleh.
“Jal..”
Suara yang tidak asing tersebut mengejutkan Jali
“Kok lo bisa ada disini Bay?”
“Ya kalo lo ga ada di semua tempat tongkrongan lo, dimana lagi gue bisa nyari lo?” Jawab Lembayung sambil melemparkan senyum hangat. K…

LEMBAYUNG (Episode 6)

Box telfon.
Dari jauh seseorang memperhatikan Lembayung. Mencoba menolong namun tak punya kuasa untuk melakukannya. Ia hanya boleh memandang, tidak berdaya untuk turut campur tangan.
Masih dengan menggenggam handphone-nya di tangan, Lembayung memerosotkan dirinya. Ia duduk bersandar di salah satu sisi box telfon umum tersebut. Ia mulai menggigil kedinginan, matanya merah karena sakit di seluruh badannya. Ia beringsut memeluk kedua lututnya sambil bergoyang-goyang kedepan dan kebelakang. Berharap tubuhnya akan merasa lebih hangat. Tapi gerakannya membuat ia semakin letih dan bertambah kedinginan. Sekujur tubuhnya mengeluarkan hawa panas. Mata Lembayung semakin merah. Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Terasa hangat di pipi Lembayung. Tenaganya serasa telah habis terkuras. Pelukan tangan di kedua lututnya mulai melemah. Ia semakin tersandar pada dinding box telfon umum itu. Dari kejauhan suara mobil datang mendekat. Lembayung tahu itu Jali. Semakin lemah saja badannya sebelum a…

LEMBAYUNG (Episode 5)

Senin sore.
Seperti biasa, selepas jam sekolah Lembayung berkunjung ke taman favoritnya. Ketika sedang duduk-duduk sambil menghisap rokok di bangku taman yang biasa didudukinya, tiba tiba seorang laki-laki menghampirinya. Kali ini bukan seseorang yang dikenalnya. Bukan seseorang yang pernah dilihatnya atau dijumpainya sebelumnya, tapi lelaki tersebutlah yang pernah bahkan telah sering melihatnya dan mengamatinya dari jauh. Lelaki itu memulai pembicaraan dengan tenang
“Saya sering lihat kamu kesini”
Tidak ada jawaban dari Lembayung. Ia memang tidak bermaksud untuk mengindahkan kedatangan lelaki tersebut.
“Sorry, mungkin saya udah ganggu waktu kamu..”
Seraya meneruskan kalimatnya ia menjulurkan tangan kanannya dengan maksud memperkenalkan diri
“Anda.”
“Heh?”
Akhirnya dari mulut Lembayung keluar sepatah kata. Walau bukan kata yang berarti sesuatu, setidaknya lelaki tersebut merasa akhirnya diperhatikan juga. Ia menyambut sepatah kata dari Lembayung dengan seulas senyuman.
“Mak…

LEMBAYUNG (Episode 4)

Siang yang terik,
di suatu jalan didepan sebuah bangunan tua, Lembayung duduk berjongkok. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah file. Ia mulai menulis

aku sepi
sendiri
selalu begini
duduk, berjongkok
menatap langit terik
menghirup udara siang
lalu, lagi untuk kesekian kali
aku bertanya
entah pada siapa
banyak orang bilang
“tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan..”
tapi
kuminta langit berubah jadi hijau
kupandangi langit
lamat lamat kuperhatikan,,
tidak ada perubahan
pun setitik
habis itu kucoba minta hal lain
kuminta supaya setiap aku meninggalkan jejak langkah
di situ tumbuh sekuntum mawar
tapi apa..
malah kurasa pada tiap langkahku
yang timbul adalah bau busuk
yang membuat orang menoleh
dan memandangku dengan tatapan menjijikan
lagi satu
yang dari dulu
kuminta dari Nya
kembalikan ayah, bunda dan gentaku
kau tahu??
pun ini tak dikabulkannya….!!!!!
aku jadi ingin tahu
apa yang membuat
permintaanku terlalu mustahil untuk diwujudkannya..
persetan dengan mereka yang bilang semua itu mungkin

Lembayung menutup filenya, m…

LEMBAYUNG (Episode 3)

Kamar pengap.
Lembayung duduk menyendiri di sudut kamarnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa amat berat. Kata-kata Jali tadi siang berputar-putar di kepalanya.
“Lagian Genta kan orang baik, pastilah sekarang dia udah masuk surga”
Sesaat kemudian Lembayung kembali mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Kala itu Lembayung masih berusia 15 tahun. Ia masih mampu menjalani hari-harinya yang berat karena ada Genta, satu-satunya keluarganya yang masih tersisa semenjak ayah dan ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan saat ia masih berusia 9 tahun. Saat itu dalam hatinya ia masih menyimpan seberkas harapan untuk masa depannya.
Siang, sepulang sekolah ia segera kembali ke rumah. Semenjak ia berdiri di depan pintu gerbang sampai akhirnya menerobos masuk ke dalam kamar kakaknya ia tidak berhenti memanggil-manggil nama Genta. Awalnya Lembayung tidak menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Genta. Genta duduk berlutut di depan meja. Cuma ada sampah dan hal hal tidak penting lainnya disitu. Di d…

12

Saya, tangis sedan penuh sesenggukkan
Sakit hati dan
Luka tertorehkan
Minta maaf pada Tuhan
Mohon segala ampunan

Aku sayang Tuhan Yesus.
***

LEMBAYUNG (Episode 2)

Taman.
Lembayung berjalan menyusuri sekeliling taman sebelum akhirnya memilih sebuah tempat duduk yang terletak di tengah-tengah taman. Ia merasa begitu tenang di tengah hiruk pikuk kendaraan yang memadati ibukota. Matanya menatap lurus kedepan, sambil mengosongkan pikirannya, ia berdiam diri. Saat menikmati kediamannya, seorang lelaki dengan langkah tidak terburu-buru berjalan menuju kearahnya. Duduk tepat di bangku taman kosong yang ada di sebelahnya. Lelaki itu membiarkan Lembayung tidak memperhatikan kehadirannya. Lembayung pun bukannya tidak tahu akan kehadiran lelaki tersebut. Hanya saja ia memilih untuk tetap diam dan tidak bereaksi sedikitpun. Ia tetap menatap lurus ke depan sampai akhirnya lelaki tersebut mengangkat bicara.
“Lagi ngapain?”
“Kenapa nanya kaya gitu?”
“Kenapa apanya?”
“Yah bukannya lo selalu tau apa yang gue lakuin..”
Lembayung masih belum memindahkan pandangan matanya.
“Apa? Merenungi hidup?”
Lembayung terdiam.

Lembayung (Episode pertama)

Kelas.
Kesepian yang diwajibkan..
14.23
Apalah arti semua hal ini
Untuk hidupku yang sudah tidak lama lagi
Iya, itu pasti
Lihat saja nanti
Kalau maut masih enggan menjemputku
Biarlah aku yang terlebih dahulu menyongsongnya

14.29
Tik tak tik tak tik tak tik,,
Bunyi ketukan pensil Lembayung bercampur dengan detak irama jam dinding yang semakin lama semakin mengganggu.

14.30
KRINGGGG……!!!!!!
Lembayung segera mengemasi buku-bukunya lalu bergegas keluar kelas sebelum teman-temannya selesai berkemas. Ia berjalan keluar dengan pandangan kosong. Selepasnya dari gerbang sekolah, Lembayung mengeluarkan sebungkus rokok. Menarik keluar sebatang dari padanya seraya memantikkan api pada ujungnya, lalu menghisapnya dalam-dalam. Sambil menunggu angkutan di jalan raya depan sekolah.

>>><<<

Atas bis yang melaju.
Lembayung duduk di pinggir jendela, mempersilahkan angin menghamburkan rambutnya. Membiarkan orang melepas pandangan curiga dan menaruh prasangka atas peril…

Lembayung. Sebuah Pengantar..

Halo semuanya. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung. Terhitung semenjak hari ini, Rabu, 12 Agustus 2009, di blog saya ini akan hadir cerita bersambung bertajuk "Lembayung."

Mohon masukkannya ya. Di kotak comment dan juga polling di halaman paling bawah, ayo tolong diisi yah. Terima kasih banyak. Selamat menikmati. Semoga bisa diterima :)

selamat jalan, Rendra..

Sajak Rajawali

sebuah sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit dan di dalam sangkar besi rajawali merasa pasti bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma tujuh langit, tujuh rajawali tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi memandang dunia rajawali di sangkar besi duduk bertapa mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan yang terjadi dari keringat matahari tanpa kemantapan hati rajawali mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi membela langit dengan setia dan ia akan mematuk kedua matamu wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

selamat jalan, si burung merak,

selamat jalan Rendra..

and i say: "welcome myself"

so, ever since there's nobody here to greet me: "hello, welcome, have fun," i decided to say these words to my very own self: "hello, darling. welcome, please feel free to write anything you want, right here, anytime. share your thoughts and minds, everything, darling. have fuuun :)"

and i replied to myself: "thanx :) okay, now, let me have some fun here, write here, right now :)"