Wednesday, August 26, 2009

LEMBAYUNG (Episode 3)


Kamar pengap.
Lembayung duduk menyendiri di sudut kamarnya. Ia memegangi kepalanya yang terasa amat berat. Kata-kata Jali tadi siang berputar-putar di kepalanya.
“Lagian Genta kan orang baik, pastilah sekarang dia udah masuk surga”
Sesaat kemudian Lembayung kembali mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Kala itu Lembayung masih berusia 15 tahun. Ia masih mampu menjalani hari-harinya yang berat karena ada Genta, satu-satunya keluarganya yang masih tersisa semenjak ayah dan ibunya meninggal dalam sebuah kecelakaan saat ia masih berusia 9 tahun. Saat itu dalam hatinya ia masih menyimpan seberkas harapan untuk masa depannya.
Siang, sepulang sekolah ia segera kembali ke rumah. Semenjak ia berdiri di depan pintu gerbang sampai akhirnya menerobos masuk ke dalam kamar kakaknya ia tidak berhenti memanggil-manggil nama Genta. Awalnya Lembayung tidak menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Genta. Genta duduk berlutut di depan meja. Cuma ada sampah dan hal hal tidak penting lainnya disitu. Di depan mejanya tersebut, Genta mendekatkan salah satu sisi hidungnya ke atas kaca yang diatasnya terdapat serbuk. Genta terlihat menghirup serbuk-serbuk yang tertata dalam sebuah barisan tersebut dalam-dalam.
“Genta…”
Panggil Lembayung lemah
Genta baru menyadari kehadiran Lembayung. Ia terkesiap dan cepat-cepat membereskan barang-barang yang ada dihadapannya. Tapi yang ia lakukan malah membuat semuanya menjadi semakin berantakan. Akhirnya ia beranjak pergi dari mejanya serta meninggalkan barang barang tersebut lalu dengan segera menghampiri Lembayung. Langkahnya lunglai, badannya terlihat lemas, Lebih lemah dari biasanya.
“Bay..”
Terlambat. Lembayung segera berlari meninggalkan Genta dan menuju ke arah kamarnya. Ia masuk dan membanting pintu dengan keras. Genta menyusulnya, keinginannya untuk masuk menjadi gentar akibat kerasnya debuman pintu yang disebabkan Lembayung. Ia mendekatkan telinganya ke daun pintu. Dari luar tempatnya berdiri sekarang ia dapat mendengar isak suara tangis adiknya.
“Bay..”
Genta mencoba memanggil adiknya. Setelah beberapa kali memanggil Lembayung dan tidak mendapatkan respon, Genta menguatkan hatinya. Ia meraih gagang pintu dan memutarnya. Ternyata pintu itu memang tidak terkunci. Dari tempatnya berdiri sekarang ia bisa melihat adiknya duduk di sudut kamar, membelakangi dirinya. Hatinya hancur melihat adik semata wayangnya yang amat ia cintai dalam keadaan begitu rapuh. Ia telah gagal menjadi seorang teladan bagi adiknya.
“De, please dengerin gue dulu”Ucap Genta
Lembayung tidak menjawab. Tubuhnya bergetar menahan isak tangisnya.
“De kayaknya lo harus tau sesuatu..” Sambung Genta lagi
“Ka, gue harus tau apa lagi?
Emangnya yang tadi gue liat belum cukup apa untuk ngejelasin semuanya?”
“Ya, gue tau lo kecewa”
Lembayung terdiam
“Tapi setidaknya dengerin gue dulu De. Biar lo ga ngulang dosa yang sama, sama apa yang gue lakuin sekarang, entarnya.”
“Ka, gue tuh sayang banget ama lo, lo tuh tokoh panutan gue, lo kakak gue, lo bokap gue, lo tuh segalanya buat gue. Tapi sekarang, apa coba yang lo contohin buat gue, lo ngecewain gue kak, padahal lo idola gue, di otak gue you’re my only one superstar. Ternyata orang yang selama ini gue bangga-banggain ke semua manusia yang ada di jagad raya ini ga lebih dari seorang cowo goblog yang bisa aja gitu jadi budak barang barang setan kaya gitu.”
Lembayung angkat bicara sambil setengah berteriak histeris. Matanya yang merah dan berair tak mampu lagi menampung isak tangisnya yang sedari tadi dipaksanya untuk tidak keluar. Genta hampir tidak mampu berkata apa apa lagi selain..
“Sorry De”
Hening sejenak. Kamar Lembayung yang gelap menambah suasana suram yang menyelimuti mereka berdua. Hanya ada suara isak tangis Lembayung yang memecah keheningan diantara mereka.
“Gue udah ga bisa lagi ngatasin semua masalah hidup gue. Lo tau kan gimana keadaan kita waktu kehilangan bunda sama ayah? Mereka emang meninggalkan materi yang cukup untuk kita. Secara finansial kita emang terpenuhi. Tapi secara psikologis, lo inget kan gimana kita segitu kelimpungannya karena kehilangan arah, kehilangan pegangan. Keadaan jiwa kita rapuh banget, gue salah bergaul, lo menutup diri sama dunia. Gue lebih suka lari dan menghindar daripada menyelesaikan masalah. Gue kira kalo gue pake tuh barang gue bisa ngelupain sedikit aja masalah gue, tapi ternyata..
I’m addicted”
Genta berusaha menjelaskan apa yang telah terjadi dengan terputus putus. Berusaha menutupi kesalahannya dengan mencari pembenaran pada jawaban adiknya. Lembayung tidak memberi sedikitpun pembenaran, apalagi penghakiman. Genta meratapi adiknya yang semakin beringsut ke pojok ruangan. Ia mengumpulkan keberanian untuk mendekati adiknya yang semakin membenamkan dirinya ke kedua lututnya yang tertekuk. Dengan penuh rasa sayang ia memeluk adiknya. Mencoba memberikan sedikit ketenangan. Lembayung membalas pelukan kakaknya. Ia memeluk Genta dengan erat. Lalu mereka menangis bersama.
“Gue sayang banget sama lo kak, Gue gak mau ngeliat lo kaya gini”
“Iya de, gue tau, gue juga sayang banget ama lo.
Maafin gue ya de, lo jangan pernah jadi kaya gue ya De.
Kalo lo nakal yang wajar-wajar aja, jangan sampe kaya gue gini”
“Gue cuma punya lo kak, jangan tinggalin gue yah..
Please..”
“Iya gue janji……”
Sayangnya, janji tinggalah janji. Janji Genta pada Lembayung teringakari oleh keadaan. Beberapa bulan kemudian Genta harus meninggalkan Lembayung. Untuk selama lamanya. Genta ditemukan tergeletak tak bernyawa di kamarnya. Semua orang yang melihat keadaannya pasti tahu apa yang menjadi sebab kematiannya. Over Dosis. Tetapi Lembayung menutupi penyebebab kematian Genta. Semua orang tahu kalau Genta meninggal karena penyakit jantung yang diidapnya secara turunan dari sang ayah.
Lembayung kembali tersadar dari lamunannya. Rasa sakit dikepalanya semakin menjadi-jadi. Ia bergumam sendiri..
“Jali bilang Genta orang baik, jadi pasti masuk surga.
Tapi Genta bukan orang baik, meninggalnya juga sama sekali nggak baik-baik. Jadi dimana Genta sekarang? Neraka?
Neraka..,
Surga..
Kata orang, orang jahat pasti bakal masuk neraka..
Mungkin emang disitu tempat Genta sekarang.
Pokonya, dimanapun Genta berada sekarang, ke sana jugalah gue bakal nyusul dia secepatnya, Gue akan nemenin Genta.
Ka, kita bakal barengan lagi kok, gue janji..”Putus Lembayung dalam hati.

>>><<<

Jalanan malam.
Jali menghisap rokoknya yang tinggal setengah batang sambil terus memandang lurus ke depan. Dari belakang kemudi perasaan gelisah mengintainya. Ia mengemudi tanpa tujuan dan tak tentu arah. Selintas kemudian pikirannya kosong. Seekor kucing yang melintas di jalan yang ada dihadapannya membuat Jali segera membanting setir sekaligus merem mendadak mobilnya. Bunyi rem mobilnya nyaring dan melekit, menghunus tajam sanubari. Setiap orang yang mendengar suara itu pasti akan menengok dengan cepat sambil menyimpan perasaan tak enak dalam hati. Untungnya jalanan malam ini sepi. Tidak terlihat banyak kendaraan yang melintas kecuali sesekali ada yang melaju kencang mendahului laju mobil Jali. Jali memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia memarkir mobilnya di sisi jalan raya yang sepi dan dingin. Rokoknya yang telah tinggal puntung dijentikan ke arah jalan. Ia melamun sebentar, sekilas ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Lembayung. Saat itu Lembayung masih bisa ceria. Di mana ada Lembayung di situ ada kegembiraan tersendiri. Tapi apa yang terjadi sekarang ialah kebalikannya. Di mana ada Lembayung, di situ tercipta suasana dingin. Seakan akan seluruh alam di sekelilingnya berkonspirasi untuk menguatkan sikapnya yang dingin itu. Lembayung yang ia kenal sekarang adalah Lembayung yang dingin, sensitif, datar, tidak suka terlibat dan penyendiri.
Dalam kesendiriannya Jali mengeluh.
“Bay, kenapa sih lo harus ngancurin diri lo ampe segininya? Udah dong Bay, gue sayang banget sama lo, gue care sama lo, gue benci karna gue ga bisa bikin apa apa buat lo, gue pengen banget ngehibur lo, tapi gue gak tahu gimana caranya.
Gue harus gimana lagi buat bikin lo balik kaya dulu lagi?” Keluhan yang ditujukan pada lembayung itu akhirnya lepas juga dari dalam hatinya. Kepenatan hati dan otaknya membawa ia pada titik kejenuhan yang memuakkan. Ia membenamkan kepalanya pada kendali setirnya dengan sejuta beban menjejal di hati, mendesak ingin segera keluar, sambil berharap agar kesakit hatiannya cepat hilang.

>>><<<

Monday, August 24, 2009

12

Saya, tangis sedan penuh sesenggukkan
Sakit hati dan
Luka tertorehkan
Minta maaf pada Tuhan
Mohon segala ampunan

Aku sayang Tuhan Yesus.
***

Wednesday, August 19, 2009

LEMBAYUNG (Episode 2)



Taman.
Lembayung berjalan menyusuri sekeliling taman sebelum akhirnya memilih sebuah tempat duduk yang terletak di tengah-tengah taman. Ia merasa begitu tenang di tengah hiruk pikuk kendaraan yang memadati ibukota. Matanya menatap lurus kedepan, sambil mengosongkan pikirannya, ia berdiam diri. Saat menikmati kediamannya, seorang lelaki dengan langkah tidak terburu-buru berjalan menuju kearahnya. Duduk tepat di bangku taman kosong yang ada di sebelahnya. Lelaki itu membiarkan Lembayung tidak memperhatikan kehadirannya. Lembayung pun bukannya tidak tahu akan kehadiran lelaki tersebut. Hanya saja ia memilih untuk tetap diam dan tidak bereaksi sedikitpun. Ia tetap menatap lurus ke depan sampai akhirnya lelaki tersebut mengangkat bicara.
“Lagi ngapain?”
“Kenapa nanya kaya gitu?”
“Kenapa apanya?”
“Yah bukannya lo selalu tau apa yang gue lakuin..”
Lembayung masih belum memindahkan pandangan matanya.
“Apa? Merenungi hidup?”
Lembayung terdiam.
“Silly girl”
Jawab lelaki itu sambil sedikit tersenyum.
“Gue ga pernah minta lo untuk merhatiin gue kan?”
Lembayung melemparkan pandangan kosongnya ke arah lelaki tersebut.
“Maksudnya?”
“Gue gak perlu temen kok Jal. Gue lebih suka sendiri.”
Suaranya tenang, nadanya datar, Ia tidak menampilkan secuil pun emosi. Sambil berbicara ia melemparkan pandangannya ke arah lain.
“Emang enggak sih, tapi gue selalu searah aja sama lo”
Jali, nama lelaki tersebut. Ia berusaha menyamakan nada dengan Lembayung, sedikit demi sedikit belajar untuk berujar sama seperti bagaimana Lembayung berucap.
“Oh ya?”
Jawab Lembayung tidak begitu peduli.
“Ya gitu deh..”
Kehabisan ide membuat Jali menjawab sekenannya.
“Hmm..”
Sekali lagi Lembayung memalingkan kepalanya ke arah Jali. Kali ini dengan cara yang berbeda. Ketiba-tibaannya menimbulkan sedikit reaksi keterkejutan pada diri Jali. Seperti biasa, ia memandang lelaki itu dengan pandangan kosong.
“Gue bosen Jal.”
Jali melengos sebelum menanggapi perkataan Lembayung.
“Lo selalu bilang kaya gitu Bay.”
Jali memberi jeda sedikit untuk memasuki komentar selanjutnya, jeda ini sekaligus diberikannya pada Lembayung untuk kembali merenungkan kata-kata yang baru saja diucapkannya.
“Jadi sekarang mau lo apa?”
“Gue mau mati.”
Secara singkat dan jelas jawaban dari pertanyaan Jali dikemukakan oleh Lembayung. Kalimat itu lepas dari bibirnya seakan tanpa beban dan dipikirkan sebelumnya.
“Kalo ngomong tuh disaring dulu Bay.
Lo belom cape juga apa, gue ceramahin tentang hal ini?”
Sudah tidak heran lagi Jali mendengar keinginan Lembayung yang keluar secara langsung dari mulutnya. Entah berapa kali sebelumya ia telah mengungkapkan keinginannya tersebut pada Jali. Dan lagi-lagi Jali tidak tahu berapa kali lagi ia harus mendengar Lembayung mengatakan hal tersebut pada dirinya sampai akhirnya ia mati juga.
Jali mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, mengeluarkannya sebatang. Ia menyorongkan tangannya untuk menawari Lembayung.
“Mau?”
“No, thanks. Gue masih ada.”
Jali kembali angkat bicara seraya menyalakan rokoknya.
“Bay, banyak orang di dunia ini yang mati sebelum mereka bisa ngelaksanain semua keinginan dan ngeraih cita-cita mereka. Tapi elo, yang hidupnya baru seumur jagung dan kemungkinan hidupnya masih lebih panjang malah nyia-nyiain hidup lo. Masa depan lo masih jauh Bay, perjalanan lo tuh masih panjang. Sekarang lo tuh masih di awal banget, ibaratnya cerita yang alurnya maju lo tuh baru sampe di tahap perkenalan, Bay. Belom ada apa-apanya.”
“Hidup gue udah ancur Jal.”
“Ancur apanya? Lo tuh jangan suka melacurkan diri lo sendiri deh Bay. Lo sendiri yang ngancurin hidup lo. Kalo lo mau bangkit, lo bisa kok bikin hidup lo kaya dulu lagi. Lo tahu itu kan Bay?”
“Tahu.”
“Nah, terus?”
“Ada bagian hidup gue yang udah ilang.”
“Kakak lo, maksud lo?”
“Genta tuh separo hidup gue Jal.”
“Iya, separo, tapi bukan semuanya kan?”
“Apa yang bisa dilakukan seseorang tanpa separuh tubuhnya Jal?”
“Please deh Bay, jangan menutup diri lo dari kenyataan yang ada dong! Buka deh mata lo, di dunia ini ada banyak manusia yang dilahirkan dengan begitu banyak kekurangan. Ada yang badannya cuma sampe sepaha, ada yang ga punya kaki, ada yang ga punya tangan, ada juga yang bahkan ga punya keduanya. Tapi coba gue tanya sama lo, apa abis itu mereka lantas mati? Nggak kan? Mereka survive kok, mereka berjuang untuk terus ngejalanin hidup mereka, bahkan ga sedikit juga dari mereka yang berhasil, punya prestasi yang membanggakan, dan punya kehidupan yang bahagia. Itu karena mereka usaha Bay, USAHA..! Nah, elo?”
“I don’t even care anymore with my self”
“Hah?”
Jali sedikit menyingkirkan rokoknya agar dapat melihat Lembayung lebih jelas.
“Trus lo mau apa di dunia ini kalo lo sendiri aja udah ga peduli sama diri lo?”
“Tapi gue peduli kok sama Genta.”
“Gimana bisa lo peduli sama orang lain tanpa ngurusin diri lo sendiri dulu?”
“Tapi gue sayang Genta Jal.”
“Tapi kenyataannya, Genta tuh udah mati Bay! Suka atau enggak, lo harus hadapin kenyataan itu!”
Bentakan Jali tidak membuat Lembayung gentar. Jali sadar bahwa ia telah terlampau keras. Lembayung terdiam, tapi untuk beberapa lama kata-kata Jali seperti mengambang di ruang kosong antara mereka. Antara hendak masuk ke telinga Lembayung atau pergi saja menguap pada udara. Jali berusaha menutupi keheningan diantara mereka dengan kembali berbicara
“Lo pikir Genta gak kecewa apa di atas sana ngeliat lo makin hancur-hancuran kaya gini dari hari ke hari?”
Jali kembali terdiam, mencoba mencari kata-kata yang sekiranya pas.
”Dia tuh pasti udah bahagia Bay, di atas sana. Lagian Genta kan orang baik, pastilah sekarang dia udah masuk surga.”
Lembayung menatap Jali dengan pandangan tajam. Jali belum pernah melihat Lembayung tampak seperti ini sebelumnya. Pandangannya menunjukkan amarah, kesedihan, sekaligus kekecewaan yang mendalam. Jali mengingat-ingat ulang kata-kata yang baru saja diucapkannya. Berusaha menemukan apakah ada kesalahan pada kalimat yang baru saja ia katakan. Tapi Lembayung terlanjur naik pitam, entah mengapa.
“Lo gak tahu apa-apa tentang Genta, Jal!”
Lembayung segera menggendong tas punggungnya lalu berjalan meninggalkan Jali. Dari bangku taman yang didudukinya Jali hanya bisa memandangi kepergian Lembayung yang menyisakan tanda tanya besar dalam dadanya.

Ia pergi dengan beribu pedih
Berjalan berteman perih
Bersedih tanpa segenggam kasih
>>><<<

Wednesday, August 12, 2009

Lembayung (Episode pertama)


Kelas.
Kesepian yang diwajibkan..
14.23
Apalah arti semua hal ini
Untuk hidupku yang sudah tidak lama lagi
Iya, itu pasti
Lihat saja nanti
Kalau maut masih enggan menjemputku
Biarlah aku yang terlebih dahulu menyongsongnya

14.29
Tik tak tik tak tik tak tik,,
Bunyi ketukan pensil Lembayung bercampur dengan detak irama jam dinding yang semakin lama semakin mengganggu.

14.30
KRINGGGG……!!!!!!
Lembayung segera mengemasi buku-bukunya lalu bergegas keluar kelas sebelum teman-temannya selesai berkemas. Ia berjalan keluar dengan pandangan kosong. Selepasnya dari gerbang sekolah, Lembayung mengeluarkan sebungkus rokok. Menarik keluar sebatang dari padanya seraya memantikkan api pada ujungnya, lalu menghisapnya dalam-dalam. Sambil menunggu angkutan di jalan raya depan sekolah.

>>><<<

Atas bis yang melaju.
Lembayung duduk di pinggir jendela, mempersilahkan angin menghamburkan rambutnya. Membiarkan orang melepas pandangan curiga dan menaruh prasangka atas perilakunya. Seorang perempuan muda yang notabene adalah seorang pelajar menghisap rokok di atas sebuah bis kota yang sedang melaju membelah arus lalu lintas ibukota Jakarta. Tapi toh ia tetap tak peduli, ia tidak pernah lagi peduli, Lembayung sudah terbiasa dengan pandangan menghakimi, apalagi menghujat. Baginya separuh dari hidupnya adalah hidup dengan prasangka buruk yang diciptakan orang lain atas dirinya.
“Biarin aja orang menilai seenak perutnya sendiri. Toh hidup juga hidup gue, yang ngejalanin juga gue, peduli setan sama semua manusia-manusia sinting di luar sana yang sukanya mempergunjingkan keadaan orang lain. Emang kalo mereka tahu hidup gue aslinya kaya apa, mereka bisa bantuin gue apa? Pasti enggaklah!”, pikir Lembayung.
Sesaat kemudian ponselnya bergetar. Sebuah sms masuk

Dmn bay?

Lembayung mengetik sebuah jawaban dengan cepat dan singkat

Di jalan

Tidak lama kemudian sebuah sms kembali mengusiknya.

Ke arah mn?
-
Tmn suropati

Lagi-lagi Lembayung membalas dengan singkat. Kali ini tampaknya ia tak lagi mendapat jawaban. Dari tempatnya duduk, Lembayung menangkap sosok seorang wanita paruh baya yang baru saja naik tampak letih dan mencari tempat duduk. Ia segera bangkit dan mempersilahkan wanita tersebut untuk menempati kursinya. Lembayung tidak habis pikir, bagaimana bisa sejumlah banyak manusia yang berjejal dalam bus tersebut tega membiarkan wanita tersebut berdiri, padahal beberapa saat yang lalu mereka baru saja menghakimi Lembayung dengan pandangan yang menajiskan. Rupanya seisi dunia ini memang sudah benar-benar sinting. Tak lama kemudian Lembayung turun dari bis. Ia telah sampai di tempat tujuannya.

>>><<<

Lembayung. Sebuah Pengantar..

Halo semuanya. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung. Terhitung semenjak hari ini, Rabu, 12 Agustus 2009, di blog saya ini akan hadir cerita bersambung bertajuk "Lembayung."

Mohon masukkannya ya. Di kotak comment dan juga polling di halaman paling bawah, ayo tolong diisi yah. Terima kasih banyak. Selamat menikmati. Semoga bisa diterima :)

Friday, August 07, 2009

selamat jalan, Rendra..


Sajak Rajawali


sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana

rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka


selamat jalan, si burung merak,

selamat jalan Rendra..

Thursday, August 06, 2009

and i say: "welcome myself"


so, ever since there's nobody here to greet me: "hello, welcome, have fun," i decided to say these words to my very own self: "hello, darling. welcome, please feel free to write anything you want, right here, anytime. share your thoughts and minds, everything, darling. have fuuun :)"

and i replied to myself: "thanx :) okay, now, let me have some fun here, write here, right now :)"