Wednesday, August 19, 2009

LEMBAYUNG (Episode 2)



Taman.
Lembayung berjalan menyusuri sekeliling taman sebelum akhirnya memilih sebuah tempat duduk yang terletak di tengah-tengah taman. Ia merasa begitu tenang di tengah hiruk pikuk kendaraan yang memadati ibukota. Matanya menatap lurus kedepan, sambil mengosongkan pikirannya, ia berdiam diri. Saat menikmati kediamannya, seorang lelaki dengan langkah tidak terburu-buru berjalan menuju kearahnya. Duduk tepat di bangku taman kosong yang ada di sebelahnya. Lelaki itu membiarkan Lembayung tidak memperhatikan kehadirannya. Lembayung pun bukannya tidak tahu akan kehadiran lelaki tersebut. Hanya saja ia memilih untuk tetap diam dan tidak bereaksi sedikitpun. Ia tetap menatap lurus ke depan sampai akhirnya lelaki tersebut mengangkat bicara.
“Lagi ngapain?”
“Kenapa nanya kaya gitu?”
“Kenapa apanya?”
“Yah bukannya lo selalu tau apa yang gue lakuin..”
Lembayung masih belum memindahkan pandangan matanya.
“Apa? Merenungi hidup?”
Lembayung terdiam.
“Silly girl”
Jawab lelaki itu sambil sedikit tersenyum.
“Gue ga pernah minta lo untuk merhatiin gue kan?”
Lembayung melemparkan pandangan kosongnya ke arah lelaki tersebut.
“Maksudnya?”
“Gue gak perlu temen kok Jal. Gue lebih suka sendiri.”
Suaranya tenang, nadanya datar, Ia tidak menampilkan secuil pun emosi. Sambil berbicara ia melemparkan pandangannya ke arah lain.
“Emang enggak sih, tapi gue selalu searah aja sama lo”
Jali, nama lelaki tersebut. Ia berusaha menyamakan nada dengan Lembayung, sedikit demi sedikit belajar untuk berujar sama seperti bagaimana Lembayung berucap.
“Oh ya?”
Jawab Lembayung tidak begitu peduli.
“Ya gitu deh..”
Kehabisan ide membuat Jali menjawab sekenannya.
“Hmm..”
Sekali lagi Lembayung memalingkan kepalanya ke arah Jali. Kali ini dengan cara yang berbeda. Ketiba-tibaannya menimbulkan sedikit reaksi keterkejutan pada diri Jali. Seperti biasa, ia memandang lelaki itu dengan pandangan kosong.
“Gue bosen Jal.”
Jali melengos sebelum menanggapi perkataan Lembayung.
“Lo selalu bilang kaya gitu Bay.”
Jali memberi jeda sedikit untuk memasuki komentar selanjutnya, jeda ini sekaligus diberikannya pada Lembayung untuk kembali merenungkan kata-kata yang baru saja diucapkannya.
“Jadi sekarang mau lo apa?”
“Gue mau mati.”
Secara singkat dan jelas jawaban dari pertanyaan Jali dikemukakan oleh Lembayung. Kalimat itu lepas dari bibirnya seakan tanpa beban dan dipikirkan sebelumnya.
“Kalo ngomong tuh disaring dulu Bay.
Lo belom cape juga apa, gue ceramahin tentang hal ini?”
Sudah tidak heran lagi Jali mendengar keinginan Lembayung yang keluar secara langsung dari mulutnya. Entah berapa kali sebelumya ia telah mengungkapkan keinginannya tersebut pada Jali. Dan lagi-lagi Jali tidak tahu berapa kali lagi ia harus mendengar Lembayung mengatakan hal tersebut pada dirinya sampai akhirnya ia mati juga.
Jali mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya, mengeluarkannya sebatang. Ia menyorongkan tangannya untuk menawari Lembayung.
“Mau?”
“No, thanks. Gue masih ada.”
Jali kembali angkat bicara seraya menyalakan rokoknya.
“Bay, banyak orang di dunia ini yang mati sebelum mereka bisa ngelaksanain semua keinginan dan ngeraih cita-cita mereka. Tapi elo, yang hidupnya baru seumur jagung dan kemungkinan hidupnya masih lebih panjang malah nyia-nyiain hidup lo. Masa depan lo masih jauh Bay, perjalanan lo tuh masih panjang. Sekarang lo tuh masih di awal banget, ibaratnya cerita yang alurnya maju lo tuh baru sampe di tahap perkenalan, Bay. Belom ada apa-apanya.”
“Hidup gue udah ancur Jal.”
“Ancur apanya? Lo tuh jangan suka melacurkan diri lo sendiri deh Bay. Lo sendiri yang ngancurin hidup lo. Kalo lo mau bangkit, lo bisa kok bikin hidup lo kaya dulu lagi. Lo tahu itu kan Bay?”
“Tahu.”
“Nah, terus?”
“Ada bagian hidup gue yang udah ilang.”
“Kakak lo, maksud lo?”
“Genta tuh separo hidup gue Jal.”
“Iya, separo, tapi bukan semuanya kan?”
“Apa yang bisa dilakukan seseorang tanpa separuh tubuhnya Jal?”
“Please deh Bay, jangan menutup diri lo dari kenyataan yang ada dong! Buka deh mata lo, di dunia ini ada banyak manusia yang dilahirkan dengan begitu banyak kekurangan. Ada yang badannya cuma sampe sepaha, ada yang ga punya kaki, ada yang ga punya tangan, ada juga yang bahkan ga punya keduanya. Tapi coba gue tanya sama lo, apa abis itu mereka lantas mati? Nggak kan? Mereka survive kok, mereka berjuang untuk terus ngejalanin hidup mereka, bahkan ga sedikit juga dari mereka yang berhasil, punya prestasi yang membanggakan, dan punya kehidupan yang bahagia. Itu karena mereka usaha Bay, USAHA..! Nah, elo?”
“I don’t even care anymore with my self”
“Hah?”
Jali sedikit menyingkirkan rokoknya agar dapat melihat Lembayung lebih jelas.
“Trus lo mau apa di dunia ini kalo lo sendiri aja udah ga peduli sama diri lo?”
“Tapi gue peduli kok sama Genta.”
“Gimana bisa lo peduli sama orang lain tanpa ngurusin diri lo sendiri dulu?”
“Tapi gue sayang Genta Jal.”
“Tapi kenyataannya, Genta tuh udah mati Bay! Suka atau enggak, lo harus hadapin kenyataan itu!”
Bentakan Jali tidak membuat Lembayung gentar. Jali sadar bahwa ia telah terlampau keras. Lembayung terdiam, tapi untuk beberapa lama kata-kata Jali seperti mengambang di ruang kosong antara mereka. Antara hendak masuk ke telinga Lembayung atau pergi saja menguap pada udara. Jali berusaha menutupi keheningan diantara mereka dengan kembali berbicara
“Lo pikir Genta gak kecewa apa di atas sana ngeliat lo makin hancur-hancuran kaya gini dari hari ke hari?”
Jali kembali terdiam, mencoba mencari kata-kata yang sekiranya pas.
”Dia tuh pasti udah bahagia Bay, di atas sana. Lagian Genta kan orang baik, pastilah sekarang dia udah masuk surga.”
Lembayung menatap Jali dengan pandangan tajam. Jali belum pernah melihat Lembayung tampak seperti ini sebelumnya. Pandangannya menunjukkan amarah, kesedihan, sekaligus kekecewaan yang mendalam. Jali mengingat-ingat ulang kata-kata yang baru saja diucapkannya. Berusaha menemukan apakah ada kesalahan pada kalimat yang baru saja ia katakan. Tapi Lembayung terlanjur naik pitam, entah mengapa.
“Lo gak tahu apa-apa tentang Genta, Jal!”
Lembayung segera menggendong tas punggungnya lalu berjalan meninggalkan Jali. Dari bangku taman yang didudukinya Jali hanya bisa memandangi kepergian Lembayung yang menyisakan tanda tanya besar dalam dadanya.

Ia pergi dengan beribu pedih
Berjalan berteman perih
Bersedih tanpa segenggam kasih
>>><<<

2 comments:

tendra August 19, 2009 at 8:20 AM  

bagian yang 'ga punya tangan/kaki tapi tetep survive' tuh namparrrr haha

Sekar August 19, 2009 at 8:48 PM  

"Ia pergi dengan beribu pedih
Berjalan berteman perih
Bersedih tanpa segenggam kasih"

suka part ininya, udah gitu sambil dengerin stairway to heaven! hahaha. ditunggu next episode, kak :D