Wednesday, August 12, 2009

Lembayung (Episode pertama)


Kelas.
Kesepian yang diwajibkan..
14.23
Apalah arti semua hal ini
Untuk hidupku yang sudah tidak lama lagi
Iya, itu pasti
Lihat saja nanti
Kalau maut masih enggan menjemputku
Biarlah aku yang terlebih dahulu menyongsongnya

14.29
Tik tak tik tak tik tak tik,,
Bunyi ketukan pensil Lembayung bercampur dengan detak irama jam dinding yang semakin lama semakin mengganggu.

14.30
KRINGGGG……!!!!!!
Lembayung segera mengemasi buku-bukunya lalu bergegas keluar kelas sebelum teman-temannya selesai berkemas. Ia berjalan keluar dengan pandangan kosong. Selepasnya dari gerbang sekolah, Lembayung mengeluarkan sebungkus rokok. Menarik keluar sebatang dari padanya seraya memantikkan api pada ujungnya, lalu menghisapnya dalam-dalam. Sambil menunggu angkutan di jalan raya depan sekolah.

>>><<<

Atas bis yang melaju.
Lembayung duduk di pinggir jendela, mempersilahkan angin menghamburkan rambutnya. Membiarkan orang melepas pandangan curiga dan menaruh prasangka atas perilakunya. Seorang perempuan muda yang notabene adalah seorang pelajar menghisap rokok di atas sebuah bis kota yang sedang melaju membelah arus lalu lintas ibukota Jakarta. Tapi toh ia tetap tak peduli, ia tidak pernah lagi peduli, Lembayung sudah terbiasa dengan pandangan menghakimi, apalagi menghujat. Baginya separuh dari hidupnya adalah hidup dengan prasangka buruk yang diciptakan orang lain atas dirinya.
“Biarin aja orang menilai seenak perutnya sendiri. Toh hidup juga hidup gue, yang ngejalanin juga gue, peduli setan sama semua manusia-manusia sinting di luar sana yang sukanya mempergunjingkan keadaan orang lain. Emang kalo mereka tahu hidup gue aslinya kaya apa, mereka bisa bantuin gue apa? Pasti enggaklah!”, pikir Lembayung.
Sesaat kemudian ponselnya bergetar. Sebuah sms masuk

Dmn bay?

Lembayung mengetik sebuah jawaban dengan cepat dan singkat

Di jalan

Tidak lama kemudian sebuah sms kembali mengusiknya.

Ke arah mn?
-
Tmn suropati

Lagi-lagi Lembayung membalas dengan singkat. Kali ini tampaknya ia tak lagi mendapat jawaban. Dari tempatnya duduk, Lembayung menangkap sosok seorang wanita paruh baya yang baru saja naik tampak letih dan mencari tempat duduk. Ia segera bangkit dan mempersilahkan wanita tersebut untuk menempati kursinya. Lembayung tidak habis pikir, bagaimana bisa sejumlah banyak manusia yang berjejal dalam bus tersebut tega membiarkan wanita tersebut berdiri, padahal beberapa saat yang lalu mereka baru saja menghakimi Lembayung dengan pandangan yang menajiskan. Rupanya seisi dunia ini memang sudah benar-benar sinting. Tak lama kemudian Lembayung turun dari bis. Ia telah sampai di tempat tujuannya.

>>><<<

2 comments:

astridprasetianti August 12, 2009 at 9:06 PM  

eh gw nulis di cbox ga bisa2 deh.
SHIR! akan gw ikuti tiap rabu :)

amaliasekarjati August 19, 2009 at 8:41 PM  

good start, kak :D
where were the inspirations from? :p

ohyeah, people are so damn judgmental.
maybe they're just can't live in differences.

kak, aku suka gaya penceritaannya dan ada kata-kata yang aku suka juga :p