Friday, September 25, 2009

LEMBAYUNG (Episode 7)

Jalanan sepi
Suatu petang
Jali telah berjalan hampir 3 setengah jam untuk mengabadikan setiap moment menarik yang tengah terjadi di sepanjang jalan tersebut. Hobi fotografinya selalu muncul di saat yang tak tepat. Seperti saat ini. Mustinya ia berusaha mengembalikan kepercayaan Lembayung pada dunia, daripada hunting di persimpangan sebuah jalanan yang terlalu lenggang. Sepinya jalanan tersebut membuat Jali harus menunggu lama agar mendapatkan suatu moment yang menarik. Setiap derap langkah kaki manusia membuatnya menoleh karena hal tersebut merupakan sumber kebisingan yang paling mencolok di jalan itu. Suara adzan dari langgar terdekat telah berkumandang. Jali menikmati alunan suara adzan yang didengungkan. Sepoi-sepoi halus suara derap kaki membuatnya menoleh.
“Jal..”
Suara yang tidak asing tersebut mengejutkan Jali
“Kok lo bisa ada disini Bay?”
“Ya kalo lo ga ada di semua tempat tongkrongan lo, dimana lagi gue bisa nyari lo?” Jawab Lembayung sambil melemparkan senyum hangat. Keajaiban yang sudah lama tidak disaksikan Jali. Hal itu sedikit banyak menentramkan hatinya.
“Tumben lo nyari gue. Tapi sini deh, lo ga tembus pandang kan?” Canda Jali
“Ya nggak lah. Ada-ada aja lo Jal” Sambut Lembayung dengan sedikit tawa.
Mereka berdua tertawa lepas.
“What a beautiful gift from God” Kata Jali, masih sambil tersenyum
“Maksud lo?”
“Hm.. Lo sadar gak kalo kita udah lama banget ga ketawa bareng kaya gini?
Terakhir kita ketawa itu dulu banget. Waktu lo masih lo yang dulu. Are you trying to give me a sign Bay?”
“What sign?” Tanya Lembayung dengan ekspresi berbeda.
“You’re back. The old happy you.” Ucap Jali lirih
“Hmph..” Lembayung melengos.
“Okay. I’m sorry”
“That’s okay.”
Lagi lagi cuma sepi yang ada diantara mereka.
Sepi.
Sampai seseorang memecahkan telur kesepian. Dan seperti biasa orang itu adalah
“Gue udah bisa nerima keputusan lo kok Bay,” Jali berucap
“Hm, keputusan apa?” Jawab Lembayung acuh
“Keputusan tentang lo.
Tentang ke nggak mauan lo jadi Lembayung yang dulu lagi.”
“Bukan nggak mau Jal, gue nggak bisa” Lembayung memotong kata-kata Jali
“Yah, that’s what I mean”
“But that was different”
“Okay, Sorry”
“And then..”
“Then,” Jali mengambil jeda untuk berbicara
“Then what?
I’m waiting.”
“If you don’t want to.. sorry, I mean if you can’t be the old happy you. I could still love you. The new you. However the new you are.” Kata-kata itu terlepas begitu saja dari mulut Jali. Ia tidak pernah berpikir bahwa dirinya akhirnya mampu mengucapkan kata-kata tersebut.
“Jal. Please. Jangan mulai lagi dong.”
“Okay, okay. Sorry Bay. Gue juga gak tau kenapa tiba-tiba ngomong kaya gitu sama lo. Sumpah! Sorry Bay”
“That’s all right. Yaudah, udah malem nih Jal, kayanya rada mendung deh. Malem ini gue traktir lo minum ya.”
“Where?”
“Our favorite.”
“Beautylies”
Mereka berdua menjawab sambil tertawa. Dalam kegelapan malam Jali dan Lembayung berjalan sambil berangkulan. Suatu hal yang sudah amat lama tidak mereka lakukan.

>>><<<

Beautylies.
“Bay, udahan yuk.”
Lembayung tampak tidak begitu peduli pada perkataan Jali. Ia terus meneguk minuman yang entah sudah keberapa.
“Bay, please. Control yourself. Lo udah minum berapa banyak coba?
Lagian tempatnya udah mau tutup” Jali berusaha mencegah Lembayung untuk meneguk gelas yang kesekian.
“Halah, udahlah Jal.
Gue tuh hidup udah gak bakalan lama lagi!
Hahahaaaaaaaaaaa…” Lembayung mulai melantur sambil tertawa-tawa dengan ekspresi yang sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan yang murni, melainkan kegembiraan yang semu. Jali menangkap ekspresi itu dan sesegera mungkin ia menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres.
“Okay, kalo lo gak mau berhenti, gue yang akan maksa lo untuk berhenti.” Jali meninggalkan sejumlah uang di meja dan menaruh salah satu lengan Lembayung di punggungnya dan memapahnya pergi dari tempat tersebut. Tapi Lembayung tidak suka dengan apa yang dilakukan Jali. Ia berusaha untuk memberontak. Lembayung mulai membuat keributan yang menjadi bahan tontonan di bar yang sudah amat lengang tersebut.
“Jal. Apaan sih??
Gue bisa jalan sendiri!!!!!!!!!”
Lembayung mencoba melepaskan lengannya dari bahu Jali tapi ia malah terjatuh karna tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya. Dengan sabar Jali membantu Lembayung untuk bangun dan memapahnya kembali, walau Lembayung tetap melakukan perlawanan. Di luar ternyata hujan. Malam tampak semakin gelap. Sudah tidak ada lagi mobil yang melaju di jalan tersebut. Jali bingung karna mobilnya diparkir agak jauh dari jalanan tersebut.
“Hmph. Ujan lagi.
Bagus banget! Mana mobil jauh lagi!” Jali mendumel sendiri. Dia memperhatikan Lembayung yang berdiri hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Masih di bawah pengaruh konsumsi minumannya yang berlebihan.
“Bay, kita tunggu sampe ujanya redaan dikit lagi yah?” Omongan Jali tidak dipedulikan oleh Lembayung. Tiba-tiba ia berlari menembus hujan dan gelapnya malam, kejadian tersebut berlangsung begitu cepat sampai sampai Jali hampir terjatuh ketika mengejar Lembayung.
“Lembayung!” Jali berlari mengejar Lembayung yang sudah semakin payah larinya. Di tengah jalan ia terengah-engah dan berhenti.
“AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH……!!!!!!!!”Teriak Lembayung
“Bay, lo apa-apaan sih?!!
Lo cari mati ya?!!
Gue tau lo bosen hidup, tapi bukan gini caranya kalo lo mau ngakhirin hidup lo. Setidaknya jangan lakuin itu di depan gue!!!!” Teriak Jali yang sudah lepas kontrol
“BANGSAT!
Gue benci sama hidup. Gue benci, Gue benciiiiiiii!!!!!!!!!
Gue pengen mati!!!!!!!!!” Teriak Lembayung histeris
“Bay!!!Sadar Bay, sadar!” Jali mulai mencoba mendapatkan kembali kesadaran Lembayung.
“Lo tau gak Jal, gue udah cape!!!!!
Cape nyimpen rahasia busuk ini!!!!!!!!!!!”
“Rahasia apa Bay?”
“Genta mati karna OVER DOSIS, dan dia positif HIV!!!!!!!!!!!!!!! Bukan karna sakit jantung. Jadi Genta itu orang jahat. Dia brengsek. Dia gak mungkin ada di surga skarang. Tapi sekalipun dia brengsek, jahat, bejat, dia tetep kakak gue dan begonya lagi gue tetep sayang sama dia dan sampe kemanapun dia pergi bakal gue susul dia, karna gue sayang banget sama dia !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Lembayung benar-benar menguras tenaganya. Ia tak sanggup lagi berdiri, ia menjatuhkan dirinya dengan keras di tengah hujan malam yang menusuk-nusuk tubuh hingga beku. Jali terpaku mendengar kata-kata Lembayung.
“Gue udah tau Bay,
Gue udah tau,
Apa perlu gue ulangin sekali lagi kata-kata gue?
GUE UDAH TAU!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Makanya itu gue ada disini sekarang. Gue ada disini buat ngejalanin amanatnya Genta yaitu ngejagain lo biar gak rusak kaya dia. Tapi apa coba yang lo lakuin disini sekarang???
NYIA-NYIAIN hidup lo sendiri.. !!!!!
Lo kira Genta seneng apa ngeliat lo kaya gini?
NGGAK! Dia pasti malah kesel karna punya ade yang tolol kaya lo gini. Dikasih kesempatan hidup yang bahagia tapi malah melacurkan diri di kehidupan yang mengenaskan !!!”
Jali berteriak berapi-api mengalahkan suara tangis dan teriakan histeris Lembayung. Lembayung menghentakkan badan Jali. Meremas lengannya kuat-kuat.
“Kenapa lo gak pernah ngasih tau gue Jal ?????!!!!!!!”
Teriak Lembayung lebih kencang lagi berusaha menandingi suara hujan
“Perlu ya??? Lo juga udah tau sendiri kan akhirnya??? Lagian gue kasih tau ya Bay, hal-hal kaya gitu bukan untuk diomongin, tapi buat bahan introspeksi dan perenungan lo biar jadi lebih baik daripada Genta kedepannya!”
Jali mulai menurunkan intonasi suaranya sambil mengumpulkan kembali kesabarannya yang telah hancur tercecer di antara luapan emosi Lembayung. Ia tahu kalau bentakannya pada Lembayung salah dan tidak dapat memperbaiki keadaan, tapi ia juga sudah kehilangan kesabarannya. Ia akhirnya ikut terduduk di jalanan sepi itu. Disebelah Lembayung yang masih menangis. Dengan kesabarannya yang mulai terkumpul dan dengan segenap cintanya pada Lembayung ia menarik Lembayung duduk lebih dekat di sisinya. Menaruh kepala Lembayung di bahunya dan menenangkan Lembayung dengan bahasa hatinya yang tak terucap dengan kata, tapi tertangkap oleh Lembayung. Malam itu air hujan yang mewakili kesedihan Genta di atas sana bersatu dengan air mata kepedihan Lembayung. Dengan kacamata hati Jali, air hujan tersebut bagaikan darah yang mengucur deras dan merepresentasikan luka hati Genta dan Lembayung atas perpisahan mereka.
Dari ujung jalan seseorang menaruh harapan besar atas kejadian yang baru saja terjadi tersebut.

>>><<<

LEMBAYUNG (Episode 6)


Box telfon.
Dari jauh seseorang memperhatikan Lembayung. Mencoba menolong namun tak punya kuasa untuk melakukannya. Ia hanya boleh memandang, tidak berdaya untuk turut campur tangan.
Masih dengan menggenggam handphone-nya di tangan, Lembayung memerosotkan dirinya. Ia duduk bersandar di salah satu sisi box telfon umum tersebut. Ia mulai menggigil kedinginan, matanya merah karena sakit di seluruh badannya. Ia beringsut memeluk kedua lututnya sambil bergoyang-goyang kedepan dan kebelakang. Berharap tubuhnya akan merasa lebih hangat. Tapi gerakannya membuat ia semakin letih dan bertambah kedinginan. Sekujur tubuhnya mengeluarkan hawa panas. Mata Lembayung semakin merah. Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Terasa hangat di pipi Lembayung. Tenaganya serasa telah habis terkuras. Pelukan tangan di kedua lututnya mulai melemah. Ia semakin tersandar pada dinding box telfon umum itu. Dari kejauhan suara mobil datang mendekat. Lembayung tahu itu Jali. Semakin lemah saja badannya sebelum akhirnya matanya menutup. Lembayung pingsan. Mobil Jali berhenti tepat di depan box telfon umum. Jali berlari keluar dari mobil. Ia mendapati Lembayung yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Kepanikan melanda sekujur tubuhnya.
“Bay..”
Ia memegang tubuh Lembayung. Panas sekali. Di ujung mata Lembayung Jali menemukan setetes air yang membuat hatinya berkecamuk. Tak bisa ia membayangkan bagaimana besar penderitaan Lembayung melawan semua permasalahan hidupnya sendirian. Jali menggendong tubuh Lembayung yang ringan dan meletakannya di atas jok mobilnya. Ia berlari masuk ke dalam mobil. Panas Lembayung amat tinggi. Jali melarikan mobilnya ke apotik terdekat untuk membeli obat. Lalu ia melajukan mobilnya ke rumah Lembayung. Dalam perjalanan Lembayung sempat tersadar.
“Jal, sorry..”
“It’s okay..
Lo tidur aja Bay”
Lembayung terlelap. Raut wajahnya memancarkan keletihan, kekecewaan, kesepian dan penderitaan. Tak ada setitik pun raut ceria terlukis di sana.

>>><<<

Jali menidurkan Lembayung di kamar tidurnya yang berantakan. Bukan cuma kamarnya, seluruh isi rumahnya berantakan. Jali mengambil es batu dari lemari es dan mengompresi Lembayung. Semalaman suntuk, sampai pagi datang panasnya baru agak turun. Jali membereskan sedikit demi sedikit kamar Lembayung. Ia membuatkan sarapan untuk Lembayung sembari membereskan rumah. Setelah sarapannya siap, ia mengantarkan ke kamar Lembayung. Lembayung baru saja terjaga dari tidurnya.
“Jal, sorry..”
“Gak apa-apa kali Bay, lo kan sahabat gue. Udah sepantesnya lah gue nolongin lo.”
Jali tersenyum menanggapi Lembayung. Wajahnya memancarkan rasa lelah sekaligus kepuasan karena telah dapat membantu Lembayung. Ia mulai menyuapi Lembayung.
“Makan dulu yah Bay”
Lembayung terdiam. Ia menengok ke arah jendela. Jali tidak mengerti apa yang terjadi dengan Lembayung.
“Bay, makan dulu yah.”
Dari sudut pelupuk mata Lembayung tergulir setetes air mata. Jali merasa terenyuh.
“Jal, kok lo mau sih repot-repot banget sampe kaya gini.”
Lembayung berbicara sambil menahan rasa sedihnya. Jali kebingungan.
“Maksud lo Bay?”
Lembayung mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menyusun rangkaian kata yang sebisa mungkin tidak membuatnya tersedak dan malah menambah isak tangisnya.
“Buat orang kaya gue. Emang gue pantes yah diperlakuin sampe segininya?”
“Bay, lo ngomong apa sih? Lo tuh worthed dapet perlakuan kaya gini dari siapapun. Lo tuh masih punya gue kali Bay. Lo ga sendirian di dunia ini. Kenapa sih lo selalu melacurkan diri lo sendiri kaya gitu?”
Mereka berdua terdiam.
“Bay, sekarang liat gue”
Jali memalingkan dagu Lembayung agar dapat melihat dirinya. Lembayung berusaha mengelak. Ia tidak mau kelihatan lemah di depan Jali dengan memperlihatkan air matanya. Jali mulai mengerti situasi hati Lembayung
“Bay, buang dulu gengsi lo sekarang. Sekarang gue cuma pengen lo tahu satu hal. Dengerin kata-kata gue Bay, gue care sama loe, gue akan selalu ada di samping lo, kapanpun lo butuh gue, gue akan selalu ada buat lo. Mau lo susah, mau lo seneng, apapun keadaan lo, gue akan tetap dampingin lo. Karena.. “
Jali mengumpulkan keberaniannya, membuang rasa malu, gengsi, dan ketakutannya. Dengan sedikit keberanian dan modal nekatnya ia angkat bicara.
“Karena, gue udah terlanjur sayang banget sama lo. Please Bay, mulai sekarang lo janji sama gue kalo lo bakal jalanin hidup lo kaya dulu lagi. Jadi lo yang dulu lagi Bay. I missed the old Lembayung so damn much. Gue kangen sama senyuman lo, suara ketawa lo, semuanya tentang lo yang dulu Bay. Saat masih ada Genta, saat semuanya masih berjalan lebih baik dari sekarang..”
Lembayung terisak, menangis, semakin keras. Kepalanya menggeleng sambil terus mencucurkan airmata yang berhamburan. Matanya yang memerah seakan tidak mampu lagi meneteskan airmata. Inilah hal yang paling ditakuti Lembayung dari dulu. Pengakuan Jali.
“Gue gak bisa Jal, gue gak bisa.
Gue ga pantes buat lo.
Dan selamanya hidup gue gak akan pernah bisa balik kaya dulu lagi.”
Kata kata Lembayung terlontar dari bibirnya yang gemetaran menahan sejuta perih dan luka di hatinya. Kalimat itu diucapkannya sepotong demi sepotong, namun tegas dengan penekanan pada setiap kata-katanya. Penolakan yang tidak bisa dikatakan manis untuk cinta dan kehidupannya kedepan.
Jali terlonjak. Ia memang tidak siap menerima penolakan ini, tapi kalau ini memang yang terbaik untuk Lembayung, ia tidak akan mengelak Hanya satu yang mengganjal dihatinya
“Kenapa Bay? Kalo lo gak mau terima gue, gak apa-apa. Tapi untuk hidup lo sendiri, please. Jalaninlah hidup lo dengan lebih baik, lebih ceria. Please.”
Jali memohon. Lembayung semakin keras menggeleng. Suatu harga yang tidak dapat ditawar lagi. Jali tahu itu.
“Gue gak bisa Jal.”
Selanjutnya cuma sepi dan isak Lembayung yang berbicara.

>>><<<

Taman, Petang menjelang maghrib.
Langit baru saja menumpahkan peluhnya. Air hujan masih terdengar satu dua tetes. Suasana mulai gelap. Jali masih duduk di bangku taman itu. Dengan rokoknya yang sudah basah. Ia menjetikannya. Tubuhnya sudah kuyup akibat tersiram air hujan. Dari tadi ia cuma duduk di taman itu. Dari langit masih cerah sampai sudah lelah membiaskan sinar matahari untuknya. Jali tidak lagi bersemangat untuk melakukan apapun. Yang ia inginkan hanya ketenangan hati. Ia baru saja berniat untuk beranjak pergi dari tempatnya duduk sedari tadi ketika seorang laki laki menghampirinya.
“Udah mau pergi ?” Sapa lelaki tersebut dengan hangat.
“Heh?” Jali tidak terlalu memperdulikan kehadiran lelaki tersebut.
“Sori gue bukannya mau ganggu lo.” Lelaki tersebut tetap berusaha untuk menyapa dengan hangat.
“Maksud lo?” Tanya Jali dengan ekspresi yang tak tertebak.
“Gue liat dari tadi lo duduk disini. Dari kering sampe ujan. Kalo lo lagi gak mikirin masalah yang berat banget, gak mungkin dong lo ga menghindar dari hujan.”
“Lo ngebuntutin gue ya? Sori, gue bukan cowo yang setipe lo gitu.” Ujar Jali menuduh.
Lelaki itu tertawa, Jali salah sangka padanya.
“Oh nggak. Nggak sama sekali. Cuma gue sering liat lo main kesini. Gue pengen banget bisa bantu lo ngurangin beban yang ada di hati lo.”
“Hah? Ga perlu deh!” Karena sudah malas, Jali kemudian segera beranjak dari tempatnya duduk dan lekas pergi. Lelaki tersebut memperhatikan kepergiannya dari belakang.
Ya, dia Anda.

>>><<<

Beautylies.
Tengah Malam.
Jali sedang tidak dalam selera untuk melakukan apapun. Kepalanya yang terasa berat diletakannya di atas meja bar. Dalam hatinya pergolakan besar-besaran sedang terjadi. Rasa kekalahan beradu dengan rasa putus asa. Sampai saat ini posisi keduanya masih seri. Seakan memberi waktu istirahat bagi pertandingan yang sepertinya akan tiada akhirnya itu, Ia menarik dirinya dari meja tersebut dan pergi ke sofa di pojok ruangan. Rasanya kepalanya ingin meledak. Ia sungguh ingin berteriak, lelah dan muak dengan dirinya sendiri yang tidak dapat berbuat lebih baik bahkan untuk kepentingan dirinya sendiri.
“Kenapa gue diciptakan untuk jadi the loser sih?” Kata-kata itu diucapkannya dengan lirih. Hampir tak terdengar dan segera ditelan oleh suara bingar dari sekelompok keceriaan yang terjadi di sofa sebelah.
Dari jauh seseorang memperhatikan. Menyesal telah melibatkan diri begitu dalam dan ingin segera menghentikan permainan yang bukan ia awali dan tak akan ia akhiri tapi harus ia saksikan.

>>><<<

Wednesday, September 09, 2009

LEMBAYUNG (Episode 5)


Senin sore.
Seperti biasa, selepas jam sekolah Lembayung berkunjung ke taman favoritnya. Ketika sedang duduk-duduk sambil menghisap rokok di bangku taman yang biasa didudukinya, tiba tiba seorang laki-laki menghampirinya. Kali ini bukan seseorang yang dikenalnya. Bukan seseorang yang pernah dilihatnya atau dijumpainya sebelumnya, tapi lelaki tersebutlah yang pernah bahkan telah sering melihatnya dan mengamatinya dari jauh. Lelaki itu memulai pembicaraan dengan tenang
“Saya sering lihat kamu kesini”
Tidak ada jawaban dari Lembayung. Ia memang tidak bermaksud untuk mengindahkan kedatangan lelaki tersebut.
“Sorry, mungkin saya udah ganggu waktu kamu..”
Seraya meneruskan kalimatnya ia menjulurkan tangan kanannya dengan maksud memperkenalkan diri
“Anda.”
“Heh?”
Akhirnya dari mulut Lembayung keluar sepatah kata. Walau bukan kata yang berarti sesuatu, setidaknya lelaki tersebut merasa akhirnya diperhatikan juga. Ia menyambut sepatah kata dari Lembayung dengan seulas senyuman.
“Maksud saya, nama saya Anda.
Boleh saya tahu nama kamu?”
“Kayanya saya ga punya urusan sama kamu. Dan saya ga mau buang-buang waktu saya untuk kenalan sama kamu.”
“Memang mungkin saya udah buang waktu kamu. Saya minta maaf untuk itu. It’s okay kalo kamu nggak mau kenalan sama saya. Cuma saja saya lihat kamu sering banget datang ke tempat ini. Dari gerak gerik kamu rasanya kamu punya masalah yang cukup berat. Saya berharap bisa bantu kamu dalam menyelesaikan masalah kamu.”
Lembayung sama sekali tidak menggubris lelaki tersebut. Ia meneruskan merokok sambil memandang ke arah lain. Dalam hati ia masih ingat nasihat Bunda selagi ia masih kecil. Jangan berbicara dengan orang asing. Lembayung mematuhi hal tersebut, sampai sekarang.
“Gimana, mungkin kamu mau cerita sama saya tentang masalah kamu?”
“Maaf itu bukan urusan kamu.”
Lembayung pergi meninggalkan lelaki tersebut, yang tidak lain bernama Anda. Ia benar benar terganggu rupanya dengan sikap Anda yang ingin ikut campur dan lancang. Anda mengekornya dari belakang, tergopoh-gopoh setengah berlari berusaha mensejajari langkahnya.
“Saya beneran serius mau bantuin kamu loh, Lembayung..!”
Kata kata Anda membuat Lembayung tersentak. Dari mana Anda mengetahui namanya? Lembayung segera menghentikan langkahnya seraya menengok ke arah Anda. Anda berhenti mendadak, semendadak berhentinya langkah kaki Lembayung.
“Saya kira kamu ga akan berhen..”
Kalimat Anda diselak oleh Lembayung
“Darimana kamu tahu nama saya?”
Anda tersenyum puas. Usahanya berhasil.
“File kamu ketinggalan tadi.”
Dari balik punggunya ia menunjukan file Lembayung. Lembayung merampasnya dengan kasar.
“Saya rasa kamu udah keterlaluan deh. Kamu udah ganggu privacy saya.”
“Maaf, saya Cuma pengen balikin itu ke kamu”
“Oke, makasih.”
Lembayung berbalik lalu pergi meninggalkan Anda. Tapi Anda ternyata masih belum menyerah, ia mensejajari langkah Lembayung. Kali ini kemarahan Lembayung sudah benar-benar memuncak. Ia tidak lagi mampu menahan-nahan emosiya yang meledak-ledak.
“Mau lo tuh apa sih?”
Lembayung berteriak. Semua orang disekitarnya menoleh mencari sumber dari suara teriakan yang tidak lain disebabkan oleh Lembayung.
“Maaf, maaf, kayanya saya udah bener-bener ganggu kamu deh. Saya kan udah bilang dari tadi, saya cuma pengen bantuin kamu.”
“Oke, masalah gue adalah ada cowo bangsat yang annoying BANGET yang daritadi ngikutin gue terus dan bisanya bikin gue gak nyaman. Sekarang gue mau minta tolong ama lo supaya ngusir tu cowo. Bisa kan lo tolongin gue?”
Anda tersenyum menanggapi Lembayung yang sedang mencoba menyembunyikan rasa kesalnya dengan berbicara dalam nada yang tenang dan penekanan pada setiap katanya.
“Yaa, yaa, yaa. Saya bakal nolongin kamu untuk mengusir diri saya sendiri. Kalau kamu ga mau membiarkan saya menolong kamu untuk memecahkan masalah kamu yang lain, kamu Cuma perlu tahu bahwa hidup memang ga mudah. Cobaan-cobaan yang datang itu untuk bikin kamu makin kuat dan matang. Semakin banyak cobaan yang dihadapkan ke kamu akan semakin kuat pula kamu. Selamat menghadapi hidup yaa..!”
“Halah, Bullshit!”Teriak Lembayung tanpa menengok sedikitpun kearah Anda. Anda harus setengah berteriak untuk menyelesaikan kalimatnya. Karena dari awal ia berbicara Lembayung juga telah meninggalkannya. Tapi diam diam Lembayung mendengarkan kata kata yang keluar dari mulut Anda dan menyimpannya dalam lubuk hatinya yang terdalam.

>>><<<

Aneh
Rasa itu menggelantung di hati Lembayung. Ia tidak mengira kalau perlakuannya pada Anda akan menimbulkan rasa yang begini rupa pada dirinya. Kenapa masih ada orang seperti Anda di jaman edan seperti sekarang ini? Orang yang begitu bodohnya mau menawarkan bantuan kepada seseorang yang belum dikenalnya. Sungguh membingungkan, pikir Lembayung. Hanya saja mungkin Lembayung tidak akan pernah mengerti, bahkan tidak punya cukup waktu untuk mencoba mengerti.

>>><<<

Malam, hampir pagi.
Jali terjaga dari mimpinya. Ia meraih henfonnya utk melihat jam. Pukul 2 kurang sedikit. Ada 9 missed call tertera di layar handphonenya. Ternyata Lembayung, belum lama tadi perempuan itu menghubunginya. Sambil sedikit demi sedikit mengumpulkan kesadarannya, Jali balas menghubungi Lembayung. Lama sekali tidak ada jawaban, sampai akhirnya telfon itu putus sendiri. Jali mencoba lagi. Lama.. ketika ia hampir menyerah, dari ujung telfon suara Lembayung terdengar juga..
“Jal..”
Suara di ujung sana terdengar letih
“Kenapa Bay?”
Tidak ada suara sedikitpun selain gemerisik sambungan telepon bercampur dengan desau angin.
“Bay,,”
Lagi lagi tidak ada jawaban
“Bay ini Jali Bay..”
“Iya..”
Balas Lembayung lemah
“Bay lo dimana Bay?
Lo kenapa sih?”
Jali mulai resah
“Jal..”
“Iya ini gue Bay, Ini Jali..”
“Jal,, tolongin gue Jal..”
“Gue bisa Bantu apa Bay?”
“Gue di depan telfon umum biasa Jal..”
“Bay, lo gila yah jam segini masih diluar rumah sendirian?
Lo cewe kali Bay!
Ya udah, lo jangan kemana-mana. Lo tunggu gue di sana. Inget Bay, lo jangan kemana-mana..!”
Jali menyabet sweaternya yang tergantung di kursi seraya meraih kunci mobil di atas mejanya. Ketika keluar dari pintu kamarnya, tiba-tiba pintu kamar orang tuanya terbuka.
“Mau kemana kamu malam-malam begini Jal?”
“Cari angin, Bu.”
Jawab Jali terburu buru
“Hm. Perempuan itu lagi ya. Ibu sudah bilang berapa kali Jal, berhubungan dengan perempuan itu ga akan mendatangkan keuntungan apapun untuk kamu.”
Ibu Jali berkata kata dengan nada dalam dan dingin.
“Bu! Dalam suatu hubungan yang dicari bukan untung atau rugi, ini bukan jualan, Bu. Oh iya, by the way, perempuan itu punya nama. Namanya Lembayung.”
Jali meninggalkan ibunya dalam kegelapan.Lalu, mengeluarkan mobilnya dari garasi dan bergegas mengebut laju kendaraannya di atas aspal jalanan Ibukota yang lenggang.

>>><<<

Wednesday, September 02, 2009

LEMBAYUNG (Episode 4)


Siang yang terik,
di suatu jalan didepan sebuah bangunan tua, Lembayung duduk berjongkok. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah file. Ia mulai menulis

aku sepi
sendiri
selalu begini
duduk, berjongkok
menatap langit terik
menghirup udara siang
lalu, lagi untuk kesekian kali
aku bertanya
entah pada siapa
banyak orang bilang
“tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan..”
tapi
kuminta langit berubah jadi hijau
kupandangi langit
lamat lamat kuperhatikan,,
tidak ada perubahan
pun setitik
habis itu kucoba minta hal lain
kuminta supaya setiap aku meninggalkan jejak langkah
di situ tumbuh sekuntum mawar
tapi apa..
malah kurasa pada tiap langkahku
yang timbul adalah bau busuk
yang membuat orang menoleh
dan memandangku dengan tatapan menjijikan
lagi satu
yang dari dulu
kuminta dari Nya
kembalikan ayah, bunda dan gentaku
kau tahu??
pun ini tak dikabulkannya….!!!!!
aku jadi ingin tahu
apa yang membuat
permintaanku terlalu mustahil untuk diwujudkannya..
persetan dengan mereka yang bilang semua itu mungkin

Lembayung menutup filenya, memasukannya dalam tas. Setelah menghabiskan sebatang rokok dan hendak menyalakan rokoknya yang kedua ia melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya. Sebuah pemantik api diarahkan kearah rokok yang telah berada diantara kedua bibirnya. Tanpa memandang ke wajah si pemilik pemantik api itu, ia sudah tahu siapa yang sedang berada dihadapannya sekarang ini.
“Udah nulis berapa halaman?” tanya si pemilik kaki
“Belum apa-apa”
“Masa??
Tadi gue liat lo lama banget nulisnya..”
Lembayung terlihat sedikit membuang nafas lelah hati sebelum akhirnya sudi menanggapi pernyataan yang tampaknya kurang penting tersebut.
“Masih belom bosen, Jal”
“Maksud lo?”
“Belom bosen ngintilin orang sinting kaya gue?”
“Kenapa lo nyebut diri lo sendiri orang sinting sih?”
“Ya iyalah,
Itu sih kata anak-anak yang ada di sekolah gue.
However, manusia kan ga jauh beda.
Dan gue rasa standard seseorang bisa dibilang freak, aneh, nerd atau sinting antara satu orang sama orang lain juga belom berubah..”
“Lo ngomong apa sih Bay?
Kan gue udah pernah bilang ama lo,
Ga tau kenapa tapi gue selalu searah aja sama lo”
“Oh ya..?” Jawab Lembayung Pendek
“That was the same and the only one reaction that you showed me when the first time I told you so”
“Soo.. what more can I say..”
“It’s okay. That’s enough.”
Jali sudah biasa diperlakukan begini oleh Lembayung. Ditatap dengan tatapan dinginnya yang kurang menyenangkan dan dibalas dengan jawaban-jawaban singkatnya yang tajam dan terkadang mengundang kepanasan hati. Tapi Jali sudah terbiasa. Ia sudah tahu bagaimana menanggapi sikap Lembayung yang tanpa sengaja mengesalkan tersebut.
Keheningan menyelimuti atmosfer yang memisahkan mereka berdua. Jali ikut berjongkok di sebelah Lembayung. Ketika mulai menyalakan rokoknya, Lembayung menegur.
“Jangan kebanyakan ngerokok Jal”
“Lo sendiri ?”
“Gue kan jarang, lo tuh yang harus mulai ngurangin”
Walau setengah membantah pada awalnya, namun akhirnya Jali menuruti perkataan Lembayung. Ia menyakukan kembali rokoknya
“Abis ini lo mau kemana Bay??”
“Ga tau deh, jalan-jalan lagi mungkin..”
“Gue temenin yah”
“Gak usah”
“Kenapa?”
“Ya, gue lagi pengen sendiri aja. Lagian lo bawa mobil kan?”
“Iya. So ?”
“Gue bilang kan pengen jalan-jalan.
Kalo lo nemenin gue itu artinya gue harus naik mobil lo.
That means, gue naik mobil bukannya jalan kaki.”
Jali tertawa renyah, menyambut kelucuan yang tidak sengaja dilontarkan Lembayung.
“Okay, gw gak usah bawa mobil kalo gitu, gampang kan?”
Lembayung terdiam, ia tidak mengiyakan ataupun membantah. Tapi tiba tiba..
“Kenapa sih Jal?”
“Bay, Bay, kenapa apanya lagi sih?”
“Kenapa lo selalu ngikutin apa yang gue bilangin ke lo,
kenapa lo slalu ada kemana gue pergi,
kenapa,
ah udahlah.,”
Lembayung tak lagi mampu meneruskan kalimatnya, walaupun dalam otaknya masih tersimpan begitu banyak pertanyaan yang sungguh membingungkan dirinya dan meminta untuk cepat dijawab. Sementara Jali benar-benar terdiam kali ini. Lidahnya kelu. Otaknya jadi beku. Bingung. Apa yang harus ia katakan pada Lembayung sekarang. Tiba tiba ia menjawab
“Emang harus selalu ada alasan yang jelas buat seseorang untuk ngelakuin sesuatu, apa ga boleh seseorang ngikutin kata hatinya??”
Jali menunggu jawaban Lembayung, tapi lalu ia meneruskan kalimatnya segera
“That’s what I’m doing right now, ngikutin kata hati gue”
Lembayung terdiam. Diam diantara mereka bukan sekali sekali terjadi. Melainkan seringkali. Tapi saat mereka terdiam sebenarnya ke duanya sedang meraba situasi, mencoba membaca suasana hati masing masing dalam gelap, mencoba untuk mencari jawaban yang sesungguhnya sudah ada di hadapan mereka masing masing.

>>><<<>>><<<>>><<<

Hari itu Jali menang. Tiba tiba saja Lembayung melangkah mendahului Jali lalu segera duduk dengan nyaman di atas jok mobilnya. Jali sempat keheranan sebentar sebelum akhirnya tersenyum maklum. Bukankah Lembayung selalu begitu. Membingungkan dan serba tak tertebak. Setiap gerakannya, perkataan yang keluar dari bibirnya menjadi sebuah misteri yang seakan menunggu untuk dipecahkan. Di mobil Lembayung tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Jali sedikit sedikit menengok ke arah Lembayung yang ada di sisinya. Dari tempatnya mengemudi ia dapat menyaksikan bahwa Lembayung sedang tidak dalam keadaan fokus. Otaknya pasti sedang menyusun kata kata yang berujung menjadi kalimat cerdas yang mengagumkan. Lembayung memandang keluar mobil. Ia memperhatikan jalanan di sisi kirinya. Matanya hampir tidak berkedip. Saat sedang memperhatikan sesuatu, Lembayung seakan akan berubah menjadi orang lain. Matanya yang polos dan rautnya yang serius bagaikan seorang bocah yang baru kali pertama dapat melihat dunia lalu membentuk sebuah senyuman misterius. Jali senang dapat melihat Lembayung dalam keadaan seperti ini, hanya pada saat saat seperti inilah Lembayung menjadi dirinya yang dulu. Lembayung tidak pernah berubah saat memperhatikan sesuatu. Sungguh jauh dalam hatinya ia menikmati saat ini.

>>><<<