Wednesday, September 02, 2009

LEMBAYUNG (Episode 4)


Siang yang terik,
di suatu jalan didepan sebuah bangunan tua, Lembayung duduk berjongkok. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah file. Ia mulai menulis

aku sepi
sendiri
selalu begini
duduk, berjongkok
menatap langit terik
menghirup udara siang
lalu, lagi untuk kesekian kali
aku bertanya
entah pada siapa
banyak orang bilang
“tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan..”
tapi
kuminta langit berubah jadi hijau
kupandangi langit
lamat lamat kuperhatikan,,
tidak ada perubahan
pun setitik
habis itu kucoba minta hal lain
kuminta supaya setiap aku meninggalkan jejak langkah
di situ tumbuh sekuntum mawar
tapi apa..
malah kurasa pada tiap langkahku
yang timbul adalah bau busuk
yang membuat orang menoleh
dan memandangku dengan tatapan menjijikan
lagi satu
yang dari dulu
kuminta dari Nya
kembalikan ayah, bunda dan gentaku
kau tahu??
pun ini tak dikabulkannya….!!!!!
aku jadi ingin tahu
apa yang membuat
permintaanku terlalu mustahil untuk diwujudkannya..
persetan dengan mereka yang bilang semua itu mungkin

Lembayung menutup filenya, memasukannya dalam tas. Setelah menghabiskan sebatang rokok dan hendak menyalakan rokoknya yang kedua ia melihat sepasang kaki berdiri di hadapannya. Sebuah pemantik api diarahkan kearah rokok yang telah berada diantara kedua bibirnya. Tanpa memandang ke wajah si pemilik pemantik api itu, ia sudah tahu siapa yang sedang berada dihadapannya sekarang ini.
“Udah nulis berapa halaman?” tanya si pemilik kaki
“Belum apa-apa”
“Masa??
Tadi gue liat lo lama banget nulisnya..”
Lembayung terlihat sedikit membuang nafas lelah hati sebelum akhirnya sudi menanggapi pernyataan yang tampaknya kurang penting tersebut.
“Masih belom bosen, Jal”
“Maksud lo?”
“Belom bosen ngintilin orang sinting kaya gue?”
“Kenapa lo nyebut diri lo sendiri orang sinting sih?”
“Ya iyalah,
Itu sih kata anak-anak yang ada di sekolah gue.
However, manusia kan ga jauh beda.
Dan gue rasa standard seseorang bisa dibilang freak, aneh, nerd atau sinting antara satu orang sama orang lain juga belom berubah..”
“Lo ngomong apa sih Bay?
Kan gue udah pernah bilang ama lo,
Ga tau kenapa tapi gue selalu searah aja sama lo”
“Oh ya..?” Jawab Lembayung Pendek
“That was the same and the only one reaction that you showed me when the first time I told you so”
“Soo.. what more can I say..”
“It’s okay. That’s enough.”
Jali sudah biasa diperlakukan begini oleh Lembayung. Ditatap dengan tatapan dinginnya yang kurang menyenangkan dan dibalas dengan jawaban-jawaban singkatnya yang tajam dan terkadang mengundang kepanasan hati. Tapi Jali sudah terbiasa. Ia sudah tahu bagaimana menanggapi sikap Lembayung yang tanpa sengaja mengesalkan tersebut.
Keheningan menyelimuti atmosfer yang memisahkan mereka berdua. Jali ikut berjongkok di sebelah Lembayung. Ketika mulai menyalakan rokoknya, Lembayung menegur.
“Jangan kebanyakan ngerokok Jal”
“Lo sendiri ?”
“Gue kan jarang, lo tuh yang harus mulai ngurangin”
Walau setengah membantah pada awalnya, namun akhirnya Jali menuruti perkataan Lembayung. Ia menyakukan kembali rokoknya
“Abis ini lo mau kemana Bay??”
“Ga tau deh, jalan-jalan lagi mungkin..”
“Gue temenin yah”
“Gak usah”
“Kenapa?”
“Ya, gue lagi pengen sendiri aja. Lagian lo bawa mobil kan?”
“Iya. So ?”
“Gue bilang kan pengen jalan-jalan.
Kalo lo nemenin gue itu artinya gue harus naik mobil lo.
That means, gue naik mobil bukannya jalan kaki.”
Jali tertawa renyah, menyambut kelucuan yang tidak sengaja dilontarkan Lembayung.
“Okay, gw gak usah bawa mobil kalo gitu, gampang kan?”
Lembayung terdiam, ia tidak mengiyakan ataupun membantah. Tapi tiba tiba..
“Kenapa sih Jal?”
“Bay, Bay, kenapa apanya lagi sih?”
“Kenapa lo selalu ngikutin apa yang gue bilangin ke lo,
kenapa lo slalu ada kemana gue pergi,
kenapa,
ah udahlah.,”
Lembayung tak lagi mampu meneruskan kalimatnya, walaupun dalam otaknya masih tersimpan begitu banyak pertanyaan yang sungguh membingungkan dirinya dan meminta untuk cepat dijawab. Sementara Jali benar-benar terdiam kali ini. Lidahnya kelu. Otaknya jadi beku. Bingung. Apa yang harus ia katakan pada Lembayung sekarang. Tiba tiba ia menjawab
“Emang harus selalu ada alasan yang jelas buat seseorang untuk ngelakuin sesuatu, apa ga boleh seseorang ngikutin kata hatinya??”
Jali menunggu jawaban Lembayung, tapi lalu ia meneruskan kalimatnya segera
“That’s what I’m doing right now, ngikutin kata hati gue”
Lembayung terdiam. Diam diantara mereka bukan sekali sekali terjadi. Melainkan seringkali. Tapi saat mereka terdiam sebenarnya ke duanya sedang meraba situasi, mencoba membaca suasana hati masing masing dalam gelap, mencoba untuk mencari jawaban yang sesungguhnya sudah ada di hadapan mereka masing masing.

>>><<<>>><<<>>><<<

Hari itu Jali menang. Tiba tiba saja Lembayung melangkah mendahului Jali lalu segera duduk dengan nyaman di atas jok mobilnya. Jali sempat keheranan sebentar sebelum akhirnya tersenyum maklum. Bukankah Lembayung selalu begitu. Membingungkan dan serba tak tertebak. Setiap gerakannya, perkataan yang keluar dari bibirnya menjadi sebuah misteri yang seakan menunggu untuk dipecahkan. Di mobil Lembayung tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Jali sedikit sedikit menengok ke arah Lembayung yang ada di sisinya. Dari tempatnya mengemudi ia dapat menyaksikan bahwa Lembayung sedang tidak dalam keadaan fokus. Otaknya pasti sedang menyusun kata kata yang berujung menjadi kalimat cerdas yang mengagumkan. Lembayung memandang keluar mobil. Ia memperhatikan jalanan di sisi kirinya. Matanya hampir tidak berkedip. Saat sedang memperhatikan sesuatu, Lembayung seakan akan berubah menjadi orang lain. Matanya yang polos dan rautnya yang serius bagaikan seorang bocah yang baru kali pertama dapat melihat dunia lalu membentuk sebuah senyuman misterius. Jali senang dapat melihat Lembayung dalam keadaan seperti ini, hanya pada saat saat seperti inilah Lembayung menjadi dirinya yang dulu. Lembayung tidak pernah berubah saat memperhatikan sesuatu. Sungguh jauh dalam hatinya ia menikmati saat ini.

>>><<<

2 comments:

amaliasekarjati September 2, 2009 at 9:30 AM  

“Emang harus selalu ada alasan yang jelas buat seseorang untuk ngelakuin sesuatu, apa ga boleh seseorang ngikutin kata hatinya??”
Jali menunggu jawaban Lembayung, tapi lalu ia meneruskan kalimatnya segera
“That’s what I’m doing right now, ngikutin kata hati gue”
Lembayung terdiam. Diam diantara mereka bukan sekali sekali terjadi. Melainkan seringkali. Tapi saat mereka terdiam sebenarnya ke duanya sedang meraba situasi, mencoba membaca suasana hati masing masing dalam gelap, mencoba untuk mencari jawaban yang sesungguhnya sudah ada di hadapan mereka masing masing.


ihhhh gue suka banget kak part yang inii. wokeeehhh buangggeetttt :p
so sweetttt buanggeettt. hahahaha (manifestasi kedepresian JSL)

okaay kak shirlleeeyyy, menunggu yang ke lima, lima limaaa.. bikin lagi donggg kaaaak, ini kan yang jaman sma, bikin yang jaman mulai menginjak kepala dua. hahahaaha

shirebel September 2, 2009 at 8:17 PM  

terimakasih amalia. :) hahaha.

tenang, yang kepala dua akan segera menyusul, selesaikan yang ini dulu doong ahhh. hehehe