Friday, September 25, 2009

LEMBAYUNG (Episode 6)


Box telfon.
Dari jauh seseorang memperhatikan Lembayung. Mencoba menolong namun tak punya kuasa untuk melakukannya. Ia hanya boleh memandang, tidak berdaya untuk turut campur tangan.
Masih dengan menggenggam handphone-nya di tangan, Lembayung memerosotkan dirinya. Ia duduk bersandar di salah satu sisi box telfon umum tersebut. Ia mulai menggigil kedinginan, matanya merah karena sakit di seluruh badannya. Ia beringsut memeluk kedua lututnya sambil bergoyang-goyang kedepan dan kebelakang. Berharap tubuhnya akan merasa lebih hangat. Tapi gerakannya membuat ia semakin letih dan bertambah kedinginan. Sekujur tubuhnya mengeluarkan hawa panas. Mata Lembayung semakin merah. Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Terasa hangat di pipi Lembayung. Tenaganya serasa telah habis terkuras. Pelukan tangan di kedua lututnya mulai melemah. Ia semakin tersandar pada dinding box telfon umum itu. Dari kejauhan suara mobil datang mendekat. Lembayung tahu itu Jali. Semakin lemah saja badannya sebelum akhirnya matanya menutup. Lembayung pingsan. Mobil Jali berhenti tepat di depan box telfon umum. Jali berlari keluar dari mobil. Ia mendapati Lembayung yang sudah tidak sadarkan diri lagi. Kepanikan melanda sekujur tubuhnya.
“Bay..”
Ia memegang tubuh Lembayung. Panas sekali. Di ujung mata Lembayung Jali menemukan setetes air yang membuat hatinya berkecamuk. Tak bisa ia membayangkan bagaimana besar penderitaan Lembayung melawan semua permasalahan hidupnya sendirian. Jali menggendong tubuh Lembayung yang ringan dan meletakannya di atas jok mobilnya. Ia berlari masuk ke dalam mobil. Panas Lembayung amat tinggi. Jali melarikan mobilnya ke apotik terdekat untuk membeli obat. Lalu ia melajukan mobilnya ke rumah Lembayung. Dalam perjalanan Lembayung sempat tersadar.
“Jal, sorry..”
“It’s okay..
Lo tidur aja Bay”
Lembayung terlelap. Raut wajahnya memancarkan keletihan, kekecewaan, kesepian dan penderitaan. Tak ada setitik pun raut ceria terlukis di sana.

>>><<<

Jali menidurkan Lembayung di kamar tidurnya yang berantakan. Bukan cuma kamarnya, seluruh isi rumahnya berantakan. Jali mengambil es batu dari lemari es dan mengompresi Lembayung. Semalaman suntuk, sampai pagi datang panasnya baru agak turun. Jali membereskan sedikit demi sedikit kamar Lembayung. Ia membuatkan sarapan untuk Lembayung sembari membereskan rumah. Setelah sarapannya siap, ia mengantarkan ke kamar Lembayung. Lembayung baru saja terjaga dari tidurnya.
“Jal, sorry..”
“Gak apa-apa kali Bay, lo kan sahabat gue. Udah sepantesnya lah gue nolongin lo.”
Jali tersenyum menanggapi Lembayung. Wajahnya memancarkan rasa lelah sekaligus kepuasan karena telah dapat membantu Lembayung. Ia mulai menyuapi Lembayung.
“Makan dulu yah Bay”
Lembayung terdiam. Ia menengok ke arah jendela. Jali tidak mengerti apa yang terjadi dengan Lembayung.
“Bay, makan dulu yah.”
Dari sudut pelupuk mata Lembayung tergulir setetes air mata. Jali merasa terenyuh.
“Jal, kok lo mau sih repot-repot banget sampe kaya gini.”
Lembayung berbicara sambil menahan rasa sedihnya. Jali kebingungan.
“Maksud lo Bay?”
Lembayung mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menyusun rangkaian kata yang sebisa mungkin tidak membuatnya tersedak dan malah menambah isak tangisnya.
“Buat orang kaya gue. Emang gue pantes yah diperlakuin sampe segininya?”
“Bay, lo ngomong apa sih? Lo tuh worthed dapet perlakuan kaya gini dari siapapun. Lo tuh masih punya gue kali Bay. Lo ga sendirian di dunia ini. Kenapa sih lo selalu melacurkan diri lo sendiri kaya gitu?”
Mereka berdua terdiam.
“Bay, sekarang liat gue”
Jali memalingkan dagu Lembayung agar dapat melihat dirinya. Lembayung berusaha mengelak. Ia tidak mau kelihatan lemah di depan Jali dengan memperlihatkan air matanya. Jali mulai mengerti situasi hati Lembayung
“Bay, buang dulu gengsi lo sekarang. Sekarang gue cuma pengen lo tahu satu hal. Dengerin kata-kata gue Bay, gue care sama loe, gue akan selalu ada di samping lo, kapanpun lo butuh gue, gue akan selalu ada buat lo. Mau lo susah, mau lo seneng, apapun keadaan lo, gue akan tetap dampingin lo. Karena.. “
Jali mengumpulkan keberaniannya, membuang rasa malu, gengsi, dan ketakutannya. Dengan sedikit keberanian dan modal nekatnya ia angkat bicara.
“Karena, gue udah terlanjur sayang banget sama lo. Please Bay, mulai sekarang lo janji sama gue kalo lo bakal jalanin hidup lo kaya dulu lagi. Jadi lo yang dulu lagi Bay. I missed the old Lembayung so damn much. Gue kangen sama senyuman lo, suara ketawa lo, semuanya tentang lo yang dulu Bay. Saat masih ada Genta, saat semuanya masih berjalan lebih baik dari sekarang..”
Lembayung terisak, menangis, semakin keras. Kepalanya menggeleng sambil terus mencucurkan airmata yang berhamburan. Matanya yang memerah seakan tidak mampu lagi meneteskan airmata. Inilah hal yang paling ditakuti Lembayung dari dulu. Pengakuan Jali.
“Gue gak bisa Jal, gue gak bisa.
Gue ga pantes buat lo.
Dan selamanya hidup gue gak akan pernah bisa balik kaya dulu lagi.”
Kata kata Lembayung terlontar dari bibirnya yang gemetaran menahan sejuta perih dan luka di hatinya. Kalimat itu diucapkannya sepotong demi sepotong, namun tegas dengan penekanan pada setiap kata-katanya. Penolakan yang tidak bisa dikatakan manis untuk cinta dan kehidupannya kedepan.
Jali terlonjak. Ia memang tidak siap menerima penolakan ini, tapi kalau ini memang yang terbaik untuk Lembayung, ia tidak akan mengelak Hanya satu yang mengganjal dihatinya
“Kenapa Bay? Kalo lo gak mau terima gue, gak apa-apa. Tapi untuk hidup lo sendiri, please. Jalaninlah hidup lo dengan lebih baik, lebih ceria. Please.”
Jali memohon. Lembayung semakin keras menggeleng. Suatu harga yang tidak dapat ditawar lagi. Jali tahu itu.
“Gue gak bisa Jal.”
Selanjutnya cuma sepi dan isak Lembayung yang berbicara.

>>><<<

Taman, Petang menjelang maghrib.
Langit baru saja menumpahkan peluhnya. Air hujan masih terdengar satu dua tetes. Suasana mulai gelap. Jali masih duduk di bangku taman itu. Dengan rokoknya yang sudah basah. Ia menjetikannya. Tubuhnya sudah kuyup akibat tersiram air hujan. Dari tadi ia cuma duduk di taman itu. Dari langit masih cerah sampai sudah lelah membiaskan sinar matahari untuknya. Jali tidak lagi bersemangat untuk melakukan apapun. Yang ia inginkan hanya ketenangan hati. Ia baru saja berniat untuk beranjak pergi dari tempatnya duduk sedari tadi ketika seorang laki laki menghampirinya.
“Udah mau pergi ?” Sapa lelaki tersebut dengan hangat.
“Heh?” Jali tidak terlalu memperdulikan kehadiran lelaki tersebut.
“Sori gue bukannya mau ganggu lo.” Lelaki tersebut tetap berusaha untuk menyapa dengan hangat.
“Maksud lo?” Tanya Jali dengan ekspresi yang tak tertebak.
“Gue liat dari tadi lo duduk disini. Dari kering sampe ujan. Kalo lo lagi gak mikirin masalah yang berat banget, gak mungkin dong lo ga menghindar dari hujan.”
“Lo ngebuntutin gue ya? Sori, gue bukan cowo yang setipe lo gitu.” Ujar Jali menuduh.
Lelaki itu tertawa, Jali salah sangka padanya.
“Oh nggak. Nggak sama sekali. Cuma gue sering liat lo main kesini. Gue pengen banget bisa bantu lo ngurangin beban yang ada di hati lo.”
“Hah? Ga perlu deh!” Karena sudah malas, Jali kemudian segera beranjak dari tempatnya duduk dan lekas pergi. Lelaki tersebut memperhatikan kepergiannya dari belakang.
Ya, dia Anda.

>>><<<

Beautylies.
Tengah Malam.
Jali sedang tidak dalam selera untuk melakukan apapun. Kepalanya yang terasa berat diletakannya di atas meja bar. Dalam hatinya pergolakan besar-besaran sedang terjadi. Rasa kekalahan beradu dengan rasa putus asa. Sampai saat ini posisi keduanya masih seri. Seakan memberi waktu istirahat bagi pertandingan yang sepertinya akan tiada akhirnya itu, Ia menarik dirinya dari meja tersebut dan pergi ke sofa di pojok ruangan. Rasanya kepalanya ingin meledak. Ia sungguh ingin berteriak, lelah dan muak dengan dirinya sendiri yang tidak dapat berbuat lebih baik bahkan untuk kepentingan dirinya sendiri.
“Kenapa gue diciptakan untuk jadi the loser sih?” Kata-kata itu diucapkannya dengan lirih. Hampir tak terdengar dan segera ditelan oleh suara bingar dari sekelompok keceriaan yang terjadi di sofa sebelah.
Dari jauh seseorang memperhatikan. Menyesal telah melibatkan diri begitu dalam dan ingin segera menghentikan permainan yang bukan ia awali dan tak akan ia akhiri tapi harus ia saksikan.

>>><<<

0 comments: