Friday, September 25, 2009

LEMBAYUNG (Episode 7)

Jalanan sepi
Suatu petang
Jali telah berjalan hampir 3 setengah jam untuk mengabadikan setiap moment menarik yang tengah terjadi di sepanjang jalan tersebut. Hobi fotografinya selalu muncul di saat yang tak tepat. Seperti saat ini. Mustinya ia berusaha mengembalikan kepercayaan Lembayung pada dunia, daripada hunting di persimpangan sebuah jalanan yang terlalu lenggang. Sepinya jalanan tersebut membuat Jali harus menunggu lama agar mendapatkan suatu moment yang menarik. Setiap derap langkah kaki manusia membuatnya menoleh karena hal tersebut merupakan sumber kebisingan yang paling mencolok di jalan itu. Suara adzan dari langgar terdekat telah berkumandang. Jali menikmati alunan suara adzan yang didengungkan. Sepoi-sepoi halus suara derap kaki membuatnya menoleh.
“Jal..”
Suara yang tidak asing tersebut mengejutkan Jali
“Kok lo bisa ada disini Bay?”
“Ya kalo lo ga ada di semua tempat tongkrongan lo, dimana lagi gue bisa nyari lo?” Jawab Lembayung sambil melemparkan senyum hangat. Keajaiban yang sudah lama tidak disaksikan Jali. Hal itu sedikit banyak menentramkan hatinya.
“Tumben lo nyari gue. Tapi sini deh, lo ga tembus pandang kan?” Canda Jali
“Ya nggak lah. Ada-ada aja lo Jal” Sambut Lembayung dengan sedikit tawa.
Mereka berdua tertawa lepas.
“What a beautiful gift from God” Kata Jali, masih sambil tersenyum
“Maksud lo?”
“Hm.. Lo sadar gak kalo kita udah lama banget ga ketawa bareng kaya gini?
Terakhir kita ketawa itu dulu banget. Waktu lo masih lo yang dulu. Are you trying to give me a sign Bay?”
“What sign?” Tanya Lembayung dengan ekspresi berbeda.
“You’re back. The old happy you.” Ucap Jali lirih
“Hmph..” Lembayung melengos.
“Okay. I’m sorry”
“That’s okay.”
Lagi lagi cuma sepi yang ada diantara mereka.
Sepi.
Sampai seseorang memecahkan telur kesepian. Dan seperti biasa orang itu adalah
“Gue udah bisa nerima keputusan lo kok Bay,” Jali berucap
“Hm, keputusan apa?” Jawab Lembayung acuh
“Keputusan tentang lo.
Tentang ke nggak mauan lo jadi Lembayung yang dulu lagi.”
“Bukan nggak mau Jal, gue nggak bisa” Lembayung memotong kata-kata Jali
“Yah, that’s what I mean”
“But that was different”
“Okay, Sorry”
“And then..”
“Then,” Jali mengambil jeda untuk berbicara
“Then what?
I’m waiting.”
“If you don’t want to.. sorry, I mean if you can’t be the old happy you. I could still love you. The new you. However the new you are.” Kata-kata itu terlepas begitu saja dari mulut Jali. Ia tidak pernah berpikir bahwa dirinya akhirnya mampu mengucapkan kata-kata tersebut.
“Jal. Please. Jangan mulai lagi dong.”
“Okay, okay. Sorry Bay. Gue juga gak tau kenapa tiba-tiba ngomong kaya gitu sama lo. Sumpah! Sorry Bay”
“That’s all right. Yaudah, udah malem nih Jal, kayanya rada mendung deh. Malem ini gue traktir lo minum ya.”
“Where?”
“Our favorite.”
“Beautylies”
Mereka berdua menjawab sambil tertawa. Dalam kegelapan malam Jali dan Lembayung berjalan sambil berangkulan. Suatu hal yang sudah amat lama tidak mereka lakukan.

>>><<<

Beautylies.
“Bay, udahan yuk.”
Lembayung tampak tidak begitu peduli pada perkataan Jali. Ia terus meneguk minuman yang entah sudah keberapa.
“Bay, please. Control yourself. Lo udah minum berapa banyak coba?
Lagian tempatnya udah mau tutup” Jali berusaha mencegah Lembayung untuk meneguk gelas yang kesekian.
“Halah, udahlah Jal.
Gue tuh hidup udah gak bakalan lama lagi!
Hahahaaaaaaaaaaa…” Lembayung mulai melantur sambil tertawa-tawa dengan ekspresi yang sama sekali tidak menunjukkan kegembiraan yang murni, melainkan kegembiraan yang semu. Jali menangkap ekspresi itu dan sesegera mungkin ia menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres.
“Okay, kalo lo gak mau berhenti, gue yang akan maksa lo untuk berhenti.” Jali meninggalkan sejumlah uang di meja dan menaruh salah satu lengan Lembayung di punggungnya dan memapahnya pergi dari tempat tersebut. Tapi Lembayung tidak suka dengan apa yang dilakukan Jali. Ia berusaha untuk memberontak. Lembayung mulai membuat keributan yang menjadi bahan tontonan di bar yang sudah amat lengang tersebut.
“Jal. Apaan sih??
Gue bisa jalan sendiri!!!!!!!!!”
Lembayung mencoba melepaskan lengannya dari bahu Jali tapi ia malah terjatuh karna tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya. Dengan sabar Jali membantu Lembayung untuk bangun dan memapahnya kembali, walau Lembayung tetap melakukan perlawanan. Di luar ternyata hujan. Malam tampak semakin gelap. Sudah tidak ada lagi mobil yang melaju di jalan tersebut. Jali bingung karna mobilnya diparkir agak jauh dari jalanan tersebut.
“Hmph. Ujan lagi.
Bagus banget! Mana mobil jauh lagi!” Jali mendumel sendiri. Dia memperhatikan Lembayung yang berdiri hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Masih di bawah pengaruh konsumsi minumannya yang berlebihan.
“Bay, kita tunggu sampe ujanya redaan dikit lagi yah?” Omongan Jali tidak dipedulikan oleh Lembayung. Tiba-tiba ia berlari menembus hujan dan gelapnya malam, kejadian tersebut berlangsung begitu cepat sampai sampai Jali hampir terjatuh ketika mengejar Lembayung.
“Lembayung!” Jali berlari mengejar Lembayung yang sudah semakin payah larinya. Di tengah jalan ia terengah-engah dan berhenti.
“AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH……!!!!!!!!”Teriak Lembayung
“Bay, lo apa-apaan sih?!!
Lo cari mati ya?!!
Gue tau lo bosen hidup, tapi bukan gini caranya kalo lo mau ngakhirin hidup lo. Setidaknya jangan lakuin itu di depan gue!!!!” Teriak Jali yang sudah lepas kontrol
“BANGSAT!
Gue benci sama hidup. Gue benci, Gue benciiiiiiii!!!!!!!!!
Gue pengen mati!!!!!!!!!” Teriak Lembayung histeris
“Bay!!!Sadar Bay, sadar!” Jali mulai mencoba mendapatkan kembali kesadaran Lembayung.
“Lo tau gak Jal, gue udah cape!!!!!
Cape nyimpen rahasia busuk ini!!!!!!!!!!!”
“Rahasia apa Bay?”
“Genta mati karna OVER DOSIS, dan dia positif HIV!!!!!!!!!!!!!!! Bukan karna sakit jantung. Jadi Genta itu orang jahat. Dia brengsek. Dia gak mungkin ada di surga skarang. Tapi sekalipun dia brengsek, jahat, bejat, dia tetep kakak gue dan begonya lagi gue tetep sayang sama dia dan sampe kemanapun dia pergi bakal gue susul dia, karna gue sayang banget sama dia !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Lembayung benar-benar menguras tenaganya. Ia tak sanggup lagi berdiri, ia menjatuhkan dirinya dengan keras di tengah hujan malam yang menusuk-nusuk tubuh hingga beku. Jali terpaku mendengar kata-kata Lembayung.
“Gue udah tau Bay,
Gue udah tau,
Apa perlu gue ulangin sekali lagi kata-kata gue?
GUE UDAH TAU!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Makanya itu gue ada disini sekarang. Gue ada disini buat ngejalanin amanatnya Genta yaitu ngejagain lo biar gak rusak kaya dia. Tapi apa coba yang lo lakuin disini sekarang???
NYIA-NYIAIN hidup lo sendiri.. !!!!!
Lo kira Genta seneng apa ngeliat lo kaya gini?
NGGAK! Dia pasti malah kesel karna punya ade yang tolol kaya lo gini. Dikasih kesempatan hidup yang bahagia tapi malah melacurkan diri di kehidupan yang mengenaskan !!!”
Jali berteriak berapi-api mengalahkan suara tangis dan teriakan histeris Lembayung. Lembayung menghentakkan badan Jali. Meremas lengannya kuat-kuat.
“Kenapa lo gak pernah ngasih tau gue Jal ?????!!!!!!!”
Teriak Lembayung lebih kencang lagi berusaha menandingi suara hujan
“Perlu ya??? Lo juga udah tau sendiri kan akhirnya??? Lagian gue kasih tau ya Bay, hal-hal kaya gitu bukan untuk diomongin, tapi buat bahan introspeksi dan perenungan lo biar jadi lebih baik daripada Genta kedepannya!”
Jali mulai menurunkan intonasi suaranya sambil mengumpulkan kembali kesabarannya yang telah hancur tercecer di antara luapan emosi Lembayung. Ia tahu kalau bentakannya pada Lembayung salah dan tidak dapat memperbaiki keadaan, tapi ia juga sudah kehilangan kesabarannya. Ia akhirnya ikut terduduk di jalanan sepi itu. Disebelah Lembayung yang masih menangis. Dengan kesabarannya yang mulai terkumpul dan dengan segenap cintanya pada Lembayung ia menarik Lembayung duduk lebih dekat di sisinya. Menaruh kepala Lembayung di bahunya dan menenangkan Lembayung dengan bahasa hatinya yang tak terucap dengan kata, tapi tertangkap oleh Lembayung. Malam itu air hujan yang mewakili kesedihan Genta di atas sana bersatu dengan air mata kepedihan Lembayung. Dengan kacamata hati Jali, air hujan tersebut bagaikan darah yang mengucur deras dan merepresentasikan luka hati Genta dan Lembayung atas perpisahan mereka.
Dari ujung jalan seseorang menaruh harapan besar atas kejadian yang baru saja terjadi tersebut.

>>><<<

0 comments: