Sunday, October 04, 2009

LEMBAYUNG (Episode 8) -- END --

Kamar Lembayung.
Malam.
Keesokan hari setelah peristiwa yang mengungkapkan semua rahasia diantara Lembayung dan Jali.
Lembayung meraih handphonenya dan menekan nomor selular Jali. Nada sambung mulai terdengar pada handphonenya.
“Halo”
Suara Jali terdengar dari ujung sana
“Jal,”
Lembayung menjawab sapaan Jali ragu-ragu
“Ya, kenapa Bay?”
“Hm..nggak..Gue cuma pengen minta maaf aja”
“Untuk?”
“Yah untuk kelakuan gue yang kemaren.
Gue udah nyakitin hati lo banget yah Jal??”
Jali terdiam
“Jal?” Lembayung mengharapkan jawaban dari pertanyaannya
“Ya udalah, Bay. Gak usah ngebahas itu gimana?”
“Ya pokonya gue minta maaf.”
“Okay, I forgive you. Satisfy?”
“Thanks, Jal.”
“Buat apa?”
“Yah buat semuanya yang udah lo lakuin ke gue”
“Lo tuh lagi kenapa sih Bay?
Tau tau nelfon sambil ngelantur kaya gini.”
“Gue gapapa kok Jal”
“Lo gak lagi minum kan?”
“Ya gak lah”
“Okay. Ya udah, lo cuma pengen ngomong itu aja?”
“Hm, actually gue pengen ngajak lo ketemuan besok jam 12. Bisa gak?”
“Hemm.. Bisa deh kayanya.”
“Are you sure?”
“Yep!”
“Di tempat biasa yah.”
“Oke. Mau ngapain sih Bay?”
“Yah liat besok aja lah Jal.”
“Okei, see you tomorrow, 12 o’ clock yah!”
“Okei. Gue seneng Jal bisa denger suara lo.”
“Apaan sih Bay?”
“Nggak, nggak apa-apa kok. Bye.”
“Bye.”
Jali hampir menutup handphonenya ketika tiba tiba ia mendengar Lembayung berkata
“Eh Jal, gue sayang lo!”
“Hah? Apaan Bay?”
Teeeeet, teeeeeeeet, teeeeeeeeet. Sambungan telepon terputus begitu saja. Jali yang kebingungan hanya dapat bergumam
“Bay, Bay. Dasar aneh.”
Sementara itu dikamarnya Lembayung telah menyiapkan dirinya untuk hari esok. Rencananya telah mantap. Lembayung berjalan menuju ruang kerja ayahnya yang telah tidak terawat sejak ayahnya wafat ketika ia masih kecil. Sebentar ia mencium aroma debu, tapi juga ada kehangatan cinta ayahnya yang seakan terabadikan pada setiap sudut ruangan tersebut. Lembayung merogoh ke dalam laci meja ayahnya. Masih disitu ternyata. Ia kembali ke kamar dengan membawa sesuatu. Lalu naik ke atas tempat tidur dan menulis pada salah satu lembar kertas filenya.

>>><<<

Jalanan sepi
Siang
Pukul 11.37.
Lembayung menapakkan kakinya pada jalanan yang selalu sepi tersebut. Tampaknya jalanan tersebut memang diciptakan bagi dirinya dan Jali untuk menikmati kesendirian mereka.
Pukul 11.40
Ia mengambil tempat pada suatu sudut dan duduk seraya mengeluarkan filenya. Ia mulai menulis

Pada Hidup.
Hari ini saya mau berpulang
Saya tidak lagi takut
Saya sudah muak pada kamu
Mungkin rasanya
Lebih besar dari kebencianmu akan keberadaan saya di dunia ini
Saya akan pergi
Tidak dengan membawa kemenangan
Tidak juga dengan ratap kekalahan
Saya cuma ingin beranjak dari sini
Semoga kamu senang
Pada yang lain,
Tolong jangan ulangi apa yang kamu lakukan pada diri saya
Karena terus terang,
Saya akui,
Itu menyakitkan

Pukul 11.47
Waktunya hampir tiba. Lembayung mulai gelisah. Biasanya Jali datang lima sampai sepuluh menit lebih awal dari waktu yang telah dijanjikan.

Pukul 11.50
Waktunya sudah hampir tiba. Lembayung berdiri dari tempat duduknya. Berjalan lurus menatap ke depan. Setelah beranjak kira-kira lima puluh meter, ia merogoh ke dalam tasnya. Mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Kali ini bukan file atau pensil. Tapi sesuatu. Sesuatu yang diarahkannya pada lambungya sambil terus berjalan pelan. Dalam hati ia menghitung.
Satu
Dua
Tiga
Ia menarik tuas daripada sesuatu tersebut.
DHUAR!!
Disusul bunyi BRAK! Yang menandakan kejatuhan dirinya. Lembayung cuma tinggal nama. Suara tersebut mengarahkan perhatian segelintir orang penghuni jalan tersebut. Mereka menoleh sebentar lalu segera mengahampiri tubuh Lembayung yang tak lagi bernafas. Menyedihkan, cuma itu yang mampu mereka katakan.

Pukul 11.57
Jali menyusuri jalanan sepi tersebut dengan bersepeda motor. Dari jauh ia melihat kerumunan. Hatinya mulai tak enak, ia memarkir motornya di pinggir jalan tersebut dan menghampiri kerumunan yang mengelilingi sesosok tubuh yang ternyata sudah tak bernyawa tersebut. Semakin dekat ia melangkah ia semakin curiga. Mirip seseorang yang ia kenal rupanya. Ketika telah berada di samping mayat itu persis baru ia benar-benar yakin kalau itu Lembayung. Ia berteriak sejadi-jadinya. Orang-orang seakan memaklumi, seseorang tergerak menelepon polisi. Yang lainnya lalu mengerubungi Jali sambil berusaha menenangkannya.
“LEMBAYUNG!!!!!!!!!!!!!!!!!
BAY!!!!!!!
Bay bangun Bay!!!!”
Jali menepuk-nepuk pipi Lembayung. Menggoyang-goyangkan tubuhnya. Perut Lembayung terus mengucurkan darah. Di tangan kananya tergenggam sebuah senjata milik ayahnya. Jali menoleh kebelakang, di jalan yang tadi dilalui Lembayung, bukan bala bantuan atau polisi yang ditemuinya, tapi jalanan penuh tanaman mawar. Ia menoleh ke arah tubuh Lembayung yang tak lagi bernapas. Sekilas ia merasakan hidungnya mencium wewangian yang amat menusuk hidung dan membuat bulu kuduknya merinding. Sesaat kemudian suasana tampak berubah, ketika ia menoleh ke atas langit, langit tampak kehijauan. Sebentar saja, lalu semuanya itu hilang. Rupanya memang benar apa yang orang bilang. Bahwa tidak ada sesuatu yang terlalu mustahil untuk diwujudkan oleh Tuhan. Pada akhir hayatnya, Tuhan menunjukkan kebesarannya pada Lembayung. Sayangnya, Lembayung terlalu cepat mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya sehingga ia tidak dapat menyaksikan kebesaran dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya kepada Tuhan. Dari sini, Jali menedengar suara sirine mobil polisi samar-samar. Ia kembali berteriak.
“BAAAAAYYYYY!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

>>><<<

Suatu ruang.
Suasana suram.
Seseorang duduk di pojokan sambil memegang kertas yang sudah lusuh dengan pandangan kosong.
Aku berdiri di luar ruang itu. Di sebelahku seorang perawat mengatakan:
“Dia terus memegang kertas tersebut dari pertama kali masuk Mas.
Mas temennya?”
Aku berpikir sebentar sambil terdiam. Si perawat kurang sabar rupanya
“Mas??”
“Hemmm, iya, saya temannya.
Mungkin.”
Selepas aku berbicara dengan si perawat, orang di dalam ruang tersebut meremukkan kertas itu masih dengan pandangan hampa. Aku hanya dapat memandang dengan ratap kasihan. Itulah jalan mereka. Begitulah akhir kisah hidup mereka. Sia-sia. Kalau saja mereka menerima tawaranku untuk berbicara bersama sekedar meringankan masalah, mungkin aku bisa sedikit membantu. Tapi bisa bilang apa aku ini. Mereka tidak dapat melihat aku dengan pandangan berbeda, sebagai seorang sahabat. Mereka menatapku dengan pandangan permusuhan seakan-akan aku adalah sumber dari penderitaan mereka. Aku adalah Anda. Anda yang mereka tolak. Acapkali kalian adalah aku. Kalian adalah orang-orang yang menawarkan bantuan tapi dipandang sebelah mata. Anda adalah kalian dan kalian adalah aku. Mungkin kalian mau tahu isi kertas itu:


“Jal,,
Waktu lo baca surat ini pasti lo udah ga punya kerjaan lagi. Ga ada lagi yang bisa lo ikutin, ga ada lagi yang bisa lo ajak ngerokok bareng ato jalan sampe pagi cuma buat diem-dieman aja..Sorry Jal gue harus pergi ninggalin lo. Gue udah cape, bosen, jenuh, suntuk sama hidup gue. Hidup gue, emang gue sendiri yang ngancurin. Gue emang pengen skalian aja ngancurin semuanya. Biar gue bisa cepet-cepet nyusul Genta. Gue cuma pengen bilang makasih buat semua hal yang udah lo lakuin buat gue, dari terus nemenin gue, sampe berusaha ngembaliin kepercayaan gue akan hidup ini. Tapi Jal, I already lose my faith, totally. Gue mau minta maaf karna gue ga bisa jadi Lembayung yang dulu lagi, karena kalo gue jadi Lembayung yang dulu artinya gue ga bisa cepet-cepet nyusul Genta. Gue sayang sama lo Jal, tapi gue juga sayang sama Genta, banget. Jadi gue lebih milih untuk nyusul Genta yang paling ada buat gue sejak dulu. Jangan sia-siain hidup lo kaya gue ya Jal, gue yakin, tau dan percaya kalo di luar sana lo punya masa depan yang cerah. Gue juga ngelakuin ini biar lo ga terus-terusan ngurusin gue. You’d better take care of yourself right now. Karna kalo gue terus ada di dunia ini pasti lo akan terus ngejaga gue buat menuhin amanatnya Genta, gue gak mau jadi cewe yang nyusahin orang lain dan malah menghambat masa depan lo. Gue sayang sama lo, gue ga mau liat lo rusak. Abis ini, tolong lupain gue Jal. Buang gue dari kehidupan lo. Jangan inget-inget lagi kalo lo pernah punya temen senista gue. Cari cewe lain yang lebih baik dari gue. Gue tau kalo lo pasti bisa ngedapetin seribu cewe lain diluar sana yang jauh lebih oke dari gue. Dengan ini gue pergi. Gue datang ke dunia ini tanpa apa-apa dan bakal pergi dari dunia ini dengan tanpa apa-apa juga. Yang gue punya, emang cuma lo. Berdamailah sama hati dan diri lo. Jaga hidup lo baik-baik Jal. Bye love!”


Lembayung


Cukup sudah aku menjadi tumbal yang harus menyaksikan akhir kisah mengenaskan pada perjalanan hidup tiap orang. Satu hal, kalau nanti kalian bertemu denganku tolong jangan tolak aku. Dan aku akan mencoba membantumu menyelamatkan akhir kisahmu dari si tragis jahanam.
>>><<<