Skip to main content

Posts

Showing posts from 2010

rasionalitas

Jumat, 31 Desember 2010. Hari terakhir di tahun 2010.

Saya lihat status orang-orang di twitter maupun facebook. Banyak yang galau, gundah, gelisah.
Dengan sombongnya saya berkomentar di salah satu status teman saya:
"galau akhir tahun bisa jadi merupakan tanda bahwa ada resolusi atau keinginan yang belum tercapai sepanjang tahun ini. bisa juga dikarenakan perasaan kurangnya perubahan yang signifikan dalam rangka peningkatan kualitas hidup rohani."
Angkuhnya saya. Padahal saya tidak kurang merasa gundah.

31 Desember 2010. Around 5PM.
...
aku_shirley:      "kenapa ya do"
aku_shirley:      "kenapa Tuhan menciptakan manusia itu rasional"
aku_shirley:      "sampe kita kadang lupa bagaimana rasanya mengalamiNya"
Bernardo Oeb:   "itu namanya perjalanan.."
Bernardo Oeb:   "karena Dia mau manusia mencintai diriNya secara rasional juga.."
Bernardo Oeb:   "gk mau secara buta dicintai begitu aja"
Bernardo Oeb:   "Dia mau manusia jug…

82

Tidak lucu, kalau aku mati di tahun baru.
Tidak lucu kalau tanggal satu diriku jadi abu yang disebar ke segala penjuru, bersatu dengan debu dari kini dan masa lalu.
Satu hari sebelum malam minggu, malam Sabtu.
Bersama alunan suara Leilani yang mengalun syahdu.
Kumatikan lampu, sembah sujud menghadapMu.
Kuhamparkan syukur beserta hati yang telah lelah dideru
Jiwa ini menggebu. Ingin mengalamiMu
........................................................................................................................................................
kuambil sebilah bambu
menghunus jauh
kupandangi nadi, sebentuk garis halus berwarna biru
haruskah begitu?
aku ingin mengiris nadiku, bertemu denganMu, mengalami perjumpaan itu. agar aku melihatMu. merasakanMu. kembali meyakiniMu. mengimaniMu.
.........................................................................................................
Diam diam Kau tepis tanganku
.............................................................
Aku mati.…

#2010was

kaledoiskop 2010..

























- "Karena idealisme itu nyata, bukan sekedar utopia." - "Kamu adalah rajawali." - "Tua." - "Kamu berubah. Ada apa sih?" - "They should make pills for this." - "Ya karena emang dari dalem kamu yang ngerasa, ya ini pilihan kamu." - "Kata-kata belum tentu menentukan pilihan untuk hidup kamu." - "Ada surat dari kampus. Surat apa sih?" - "Ya karena aku gak mau bohong sama orang-orang tentang perasaanku.  Kalau aku gak suka aku akan bilang, paling nggak nunjukin kalau aku gak suka. Aku gak mau pura-pura baik."

Don’t work. Avoid telling the truth. Be hated. Love someone.

Written by Adrian Tan, author of The Teenage Textbook (1988), was the guest-of-honour at a recent NTU convocation ceremony. This was his speech to the graduating class of 2008.
---
I must say thank you to the faculty and staff of the Wee Kim Wee School of Communication and Information for inviting me to give your convocation address. It’s a wonderful honour and a privilege for me to speak here for ten minutes without fear of contradiction, defamation or retaliation. I say this as a Singaporean and more so as a husband.

My wife is a wonderful person and perfect in every way except one. She is the editor of a magazine. She corrects people for a living. She has honed her expert skills over a quarter of a century, mostly by practising at home during conversations between her and me.

On the other hand, I am a litigator. Essentially, I spend my day telling people how wrong they are. I make my living being disagreeable.

Nevertheless, there is perfect harmony in our matrimonial home. That is …

memahami masa depan

Isi dan kedalaman hati.
Manusia mungkin tidak dapat mengetahui, namun bisa mencoba untuk memahami.
Seorang teman pernah bilang, bahwa proses mengenal seseorang itu tidak akan pernah berhenti sampai individu tersebut mati. Karena manusia itu dinamis, mereka berubah, kadang hingga tak tentu arah. Perilakunya kadang tak sesuai dengan ekspektasi dari mereka-mereka yang katanya telah mengenalnya. Hari ini demikian, di masa depan belum tentu seperti harapan, bisa jadi tak lagi dapat diandalkan.
Ah, masa depan.. Rasanya seperti jauh dan mengambang. Saya jadi merenungkan kata-kata Pidi Baiq-The Panas Dalam: “Manusia itu tidak akan pernah sampai di masa depan. Karena yang kita punya cuma sekarang, hari ini.
Dan hari ini, harus lebih baik dari hari kemarin.”
menerima dengan lapang dada bahwa nyatanya beberapa hal memang tidak dapat berjalan sesuai dengan rencana dan waktu yang telah diperkirakan
belajar realistis.

sejarah

Seperti bait-bait terakhir dalam skenario yang ditulis oleh Ayu Utami dalam 'Ruma Maida': “Sejarah, yang manis kita rayakan, yang sakit, kita catat agar tidak terulang kembali.*
Mungkin tanpa sadar, pola inilah yang saya lakukan. Mencatat kesakitan untuk tidak mengulang kegagalan, mencoba mengurangi kesakithatian. Namun nyatanya mencatat tidak selalu menyelamatkan saya dari tindakan repetitif akan kebodohan yang sama. Saya jadi malu. Lantas apa bedanya saya dengan para pemimpin negeri ini?
20.11.2010 23:45
*kutipannya tidak persis demikian, namun kurang lebih seperti itu.

wakil rakyat seharusnya merakyat

Note: This post may sound a bit offensive. Sorry. I was just too emotional and still cant get it: what the feck has come to their mind?
Wakil rakyat seharusnya merakyat.
Wakil rakyat harusnya jalan kaki, naik bus tiap hari, biar mereka tahu bahwa rakyat jelata itu menderitanya luar biasa. Kalau mau naik mobil ber-AC, tinggal di rumah mewah, bergaji melimpah, lebih baik jadi pengusaha, jangan jadi wakil rakyat.
Bagaimana tahu seberapa buruknya masalah transportasi (ini baru satu masalah saja) di Indonesia kalau naik angkutan umum saja tidak pernah. Berapa dari mereka yang tahu ongkos minimum angkutan umum macam kopaja atau patas mayasari? Kalau segitu saja tidak tahu, lalu siapa yang mau diwakili?
Ingat, lebih banyak rakyat Indonesia yang tiap hari jalan kaki dan nyambung angkot berkali kali daripada naik kendaraan pribadi.
Jadi wakil rakyat itu amanah. Tanggung jawab dan beban moralnya luar biasa besar (Harusnya kalian tahu, kan? Sadar, kan?). Wakil rakyat itu wakilnya mereka yang tinggal d…

first publicity :)

my blog featured on the latest edition of CHIC magazine. Special thanks goes to Precilya Meirisa Armanto. Mari diborong majalahnya. haha. #norak
Thank You, Lord :)

Mengapa saya menulis blog ini?

Saya menulis karena saya berpikir.
Karena pada dasarnya saya adalah tipe orang yang think (or often worried) too much about too many things. Saya menulis mengenai banyak hal. Kebanyakan mengenai hal-hal yang tengah terjadi pada diri saya, atau dalam lingkungan saya.
Banyak orang bertanya kepada saya. Mengapa “Nona Mantra”?
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata,
yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya.
Pada mulanya adalah kata.
Dan kata pertama adalah mantera.
Maka menulis puisi bagi saya
adalah mengembalikan kata kepada mantera. Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri, 1973.
Saya takut penjelasan yang terlalu panjang akan membunuh esensi dari makna yang hendak saya transformasikan disini. Maka saya memberikan anda kesempatan untuk mencernakannya sendiri.
Blog ini merupakan media ekspresi dan pelampiasan emosi saya. I’d love to called it as ‘part of my medication’.
Saya berusaha mengemas tulisan saya sebaik dan semenarik mungkin untuk bisa dinikmati dan dibaca oleh orang lai…

that was a compliment

Gretchen Ross: You're weird Donnie Darko: Sorry Gretchen Ross: No, that was a compliment ...

The plays of Oscar Wilde

Just bought a new book yesterday. 
It’s a compilation of Oscar Wilde’s plays. 


Oscar Wilde died in Paris at the age of forty six.
And if you’ve watched “Paris, Je t’aime” (Paris, I love You), one of the short movie, “Pere-Lachaise”, which directed by Wes Craven, shoot at Wilde’s grave on Père Lachaise Cemetery, Paris.



Here's some quotations from the book: