Thursday, February 04, 2010

Mematahkan Stereotype Skateboarder





Bagi kebanyakan orang awam, skateboarding mungkin hanya sekedar permainan. Tapi bagi para skateboarder amatir, seperti Pevi Permana Putra (nomor 1 ISA) dan Agung Hadi Broto (nomor 4 ISA), skateboarding adalah jalan hidup. Baik Pevi maupun Agung tidak pernah menyangka kalau hari ini mereka bisa menghidupi dirinya dari bermain skate.

Awal mula perkenalan Pevi dengan dunia skateboarding ketika ia masih duduk di bangku SMP. Adalah seorang teman Pevi yang bernama Irvan, yang mengenalkannya pada olahraga ekstrim ini. “Awalnya sih diajak teman, iseng-iseng doang. Tapi akhirnya ketagihan. Dan setelah saya punya sponsor, ya, it’s my job”

Rata rata pemain skateboard memiliki jawaban yang sama ketika ditanya menganai alasan kecintaannya pada olahraga ini. Begitu juga dengan Pevi dan Agung. Jawab mereka merujuk pada sebuah benang merah, adrenalin. “Main skate itu memacu adrenalin, terus skate juga bukan olahraga umum, jadi berbeda dengan yang lain,” ujar Pevi.

Saat masih duduk di bangku sekolah, Pevi sempat tidak diperbolehkan untuk menekuni dunia skateboarding oleh orangtuanya. Apalagi setelah peristiwa patah tangan yang dialaminya. Pevi ingat betul bagaimana ia mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bermain skate.

Pevi biasa bermain skate sepulang sekolah, setiap sehabis bermain, papannya (skateboard) dititipkan di warung sekolah. Saat itu Pevi sudah mulai mengikuti beberapa kejuaraan skate. Setiap piala yang didapatnya disimpannya di lemari baju di kamarnya. Suatu hari, ketika sedang membereskan lemarinya, sang ibu menemukan piala-piala tersebut. “Ditanyain, ini piala apaan? Saya bilang itu piala dari main skate. Setelah itu, meski masih diragukan, saya diperbolehkan bermain skate.”

Lain lagi ceritanya dengan Agung, ia mengaku kedua orangtuanya sangat mendukungnya berkarya di bidang skateboarding. “Orang tua gue sih setuju banget, mereka orangnya fleksibel. Mereka pernah bilang, terserah aja, mau gue jungkir balik kemana-mana, asal jangan kena narkoba, jangan free sex, jangan macem-macem, okelah. Ya udah, gue ikutin aja aturan mereka,” tutur Agung sembari tersenyum ramah.
Menanggapi tanggapan miring masyarakat akan profesi mereka, yang acapkali dipandang sebelah mata dan sekedar hura-hura saja, baik Pevi dan Agung tidak mau terlalu ambil pusing.

Stereotype yang melekat pada benak masyarakat mengenai skateboarder yang berandalan, suka mabuk-mabukkan, bertato, dan tidak punya aturan, jadi terpatahkan ketika mulai bercakap-cakap dengan mereka.

Pevi, yang asli Jawa Barat, dengan logat Sundanya yang kental, terbilang sangat santun dengan memanggil namanya sendiri sebagai kata ganti orang pertama, sepanjang percakapan. Sementara Agung, yang ditemui di tempat terpisah, senantiasa menebar senyum yang ramah sepanjang interview yang berlangsung santai.

Di tengah-tengah banyaknya skateboarder yang putus sekolah karena terlalu ‘sibuk’ bermain dan mengejar mimpinya, mereka mampu menunjukkan bahwa pendidikan dan profesi mereka dapat berjalan beriringan.

Buktinya, Agung, beberapa bulan lalu, baru saja menamatkan kuliahnya yang mengambil jurusan Perhotelan di salah satu unversitas swasta terkemuka di Jakarta. Sementara Pevi, berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga SMA. Bahkan ia juga sempat beberapa waktu mencicipi bangku perkuliahan, meski memang akhirnya memutuskan untuk keluar, untuk lebih memfokuskan diri pada skating.

Agung melihat bahwa keputusan yang diamblinya untuk meneruskan kuliah merupakan sesuatu yang tepat. “Ya iyalah, gue taulah, gimana gak bisanya skate itu menghidupi gue terus. Makanya gue sih cari aman. Kuliah tepat, empat tahun, selesai, jadi sarjana, baru deh fokus ke skate, dan target di sini (skate) juga tercapai.”

Dari skate, telah banyak pencpaian yang mereka raih. Untuk Pevi, ia sudah mampu membeli rumah dan kendaraan pribadi. Sedangkan Agung, kini sedang memikirkan untuk membeli mobil pribadi. “Soalnya kan kalau hujan, rumah gue di Cengkareng, skatepark di TMII, dua jam dari rumah gue, kalo naik motor. Makanya ini lagi mikir mau beli mobil,” ujar Agung tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri.

Untuk mencapai tempat di mana mereka kini berada, keduanya harus melalui perjalanan panjang yang menuntut pengorbanan waktu, juga fisik. Pevi misalnya, sudah dua kali mengalami patah tangan “Sampai saat ini sih, baru dua kali patah, eh maksudnya, cukup dua kali saja,” tutur Pevi meralat ucapannya.

Di samping patah tulang, hal yang paling mungkin terjadi pada para skateboarder adalah jatuh dari ketinggian ketika sedang melakukan sebuah trik. Baik Agung maupun Pevi pernah mengalami hal ini. Agung, yang ketika terjatuh dari ketinggian di GreenSskatepark, TMII, hanya bisa diam ketika terjatuh dan kepalanya terantuk. “Pas jatoh, gue cuma diem, diem aja, abis itu pulang deh,” ujar Agung sembari tertawa.

Sedangkan Pevi sempat mengalami hal yang lebih serius. “Jadi waktu itu di Depok, lagi trik, trus jatuh, itu Pevi sampat amnesia sebentar. Jadi skip, tidak ingat kejadian yang terjadi beberapa menit sebelumnya.”

Meskipun begitu, hal-hal semacam tersebut, tidak menyurutkan semangat mereka, apalagi sampai menjadi trauma yang mebuat mereka menyerah dan berhenti bermain skate.

Karena dengan skate, kini mereka mampu menghidupi kehidupan mereka sendiri. Mengapa demikian? Rupanya, setiap atlit skate yang sudah punya nama, pasti akan dilirik oleh sponsor. Sponsor ini berupa label-label (baik dlam maupun luar) produk skate, mulai dari baju, sepatu, hingga papan.

Oleh sponsor ini, setiap bulannya, selain mendapat produk dari sponsor tersebut, si pihak yang di endorse (atlit) juga mendapat gaji tetap. Menurut pengakuan Agung, dengan empat sponsor yang meng-endorse-nya, setiap bulannya ia bisa mendapat gaji tetap hingga paling tidak sekitar tiga juta rupiah.

Bukan hanya itu, untuk pertandingan pertandingan skate yang diikuti oleh si atlit, pihak endorser lah yang membiayai dari masalah transportasi hingga biaya kehidupan si atlit, baik di luar maupun dalam negeri.

Pevi, yang beberapa waktu lalu sempat beberapa lama mengahbsikan waktu di Amerika untuk bertanding mengaku dibiayai cukup besar. “Waktu itu yang ke Amerika rasanya sampai seratus juta lebih. Tapi kalau yang di Indonesia, luar kota begitu, paling empat sampai lima juta saja.”

Dengan jangkauan permainan yang sampai ke luar negeri, baik Pevi dan Agung mengaku banyak orang luar yang mulai mengakui dan mengetahui prestasi Indonesia. Pembuktian mereka berdua dapat dilihat dari prestasinya. Agung tahun lalu berhasil menjadi peringkat enam di Asian Indoor Games, sementara Pevi, merupakan juara Asian Indoor Games tahun 2008.

Meski demikian, walau telah mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, kedunya sma-sama belum melihat keseriusan pemerintah dalam menangani olahraga skateboarding di Indonesia. Janji pemerintah untuk membuatkan skatepark dari bertahun-tahun lalu, hingga saat ini, nyatanya belum juga terwujud.

“Ya kita gak mau suudzon juga ya sama pemerintah, tentu juga mereka punya masalah lain yang juga penting untuk diurusi,” kata Pevi dengan nada mengambang sembari tersenyum kecil.

Entah sudah terlalu muak menagih janji atau bosan diberi harapan palsu, dari apa yang mereka utarakan, tersirat mereka tidak mau terlalu ambil perduli. Kalau mau dibuatkan skatepark, tantu mereka tidak akan menolak, karena memnag itu yang mereka harapkan dan butuhkan.

Kini mereka tidak lagi terlalu banyak berharap, mencoba berjalan sendiri, walau jalan di depan masih setengah gelap. Membulatkan hati, sambil melangkah mantap.“Untuk sekarang ini, yang pasti, lakukan aja dulu yang terbaik, sebelum kita mati,” ujar Pevi mantap menutup pembicaraan. (SHR)


Special thanks untuk Pevi Permana Pura serta Agung Hadi Broto yang telah meluangkan waktunya dan sangat kooperatif selama interview. Thanks, guys!

0 comments: