Saturday, October 30, 2010

that was a compliment

Gretchen Ross: You're weird
Donnie Darko: Sorry
Gretchen Ross: No, that was a compliment
...

Friday, October 29, 2010

The plays of Oscar Wilde

Just bought a new book yesterday. 

It’s a compilation of Oscar Wilde’s plays. 



Oscar Wilde died in Paris at the age of forty six.

And if you’ve watched “Paris, Je t’aime” (Paris, I love You), one of the short movie, “Pere-Lachaise”, which directed by Wes Craven, shoot at Wilde’s grave on Père Lachaise Cemetery, Paris.



Here's some quotations from the book:



Thursday, October 28, 2010

74

Itu. Bukan. Jerat

Meski kamu terbelenggu, berat. Terikat, kuat.
Jangan lari lalu murtad
Matamu boleh sembap
Tahan ujilah meski rasanya sunyi senyap
Karena ada harga yang harus dibayar untuk setiap ucap penuh harap
Biar setiap bibir yang merecap bersama dengan langkah-langkah berderap menemani perjalananmu menemukan hikmat 
Things always happens in reverse. We collide.

Wednesday, October 27, 2010

Selamat jalan Mbah Maridjan


"Setiap orang punya tugas sendiri-sendiri. Wartawan, tentara, polisi punya tugas.
Saya juga punya tugas untuk tetap di sini."

Selamat jalan Mbah..

it's a promiseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee

from now on, i promise, i would add more pictures and photos.


thanks for backing me up, Ringgo ;)

Monday, October 25, 2010

sedikit banyak

mungkin ini masalah orang-orang jaman kini:

"Sedikit memberi, banyak menuntut."

perhaps


"Perhaps when we find ourselves wanting everything it is because we are dangerously near to wanting nothing."

quoted from "The Bell Jar" by Sylvia Plath
image taken from Tumblr

Monday, October 18, 2010

Bermula dari Gengsi

Mungkin masalah yang akan saya angkat pada tulisan ini bukan lagi isu terhangat, namun perkataan Sudjiwo Tedjo pada interview yang dilakukan oleh Sys NS, Minggu (10/10) lalu membuat saya cukup tersadar.

Beberapa minggu lalu publik sempat dihebohkan oleh pemberitaan media massa atas pengungkapan yang dilakukan oleh Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) atas Anggaran Belanja Rumah Tangga Negara yang dinilai terlalu tinggi.

Koordinator Advokasi dan Investigasi FITRA, Uchok Sky Khadafi, mengatakan bahwa Istana mengalokasikan 830 juta rupiah untuk pakaian Presiden. Diluar itu ada juga 42 milyar yang ditujukan untuk belanja furnitur Istana.

Betapa masyarakat sontak gempar dan kecewa. Bagaimana tidak, kalau kabar itu sampai terbukti benar, berapa banyak orang yang bisa diberi makan dan dibuatkan rumah dengan uang sebanyak itu.

Namun masyarakat bisa sedikit bernapas lega, karena kabar tersebut lalu akhirnya dibantah oleh Presiden sendiri. “Satu rupiah pun tidak ada biaya untuk pakaian saya sejak jadi Presiden pada 2004. Tidak ada biaya untuk satu lembar pakaian pun dari uang negara.

Sementara biaya furnitur yang disebut-sebut menurutnya jauh lebih kecil dari bilangan yang diungkapkan pada publik. Tahun lalu, dikatakan hanya ada 149 juta yang dikeluarkan untuk mengganti furnitur yang rusak.
Terlepas dari masalah benar atau salah, percaya atau tidak dengan berita tersebut, saya ingin mengaitkan masalah ini dengan apa yang diungkapkan oleh Sudjiwo Tedjo.

“Jaman sekarang harusnya kalau ada anak pejabat naik bus kota, jangan malah diomongin, kok dia naik bus kota sih? Harusnya malah kita omongin, nah bagus itu, anak pejabat tapi mau naik bus kota. Habis mau gimana, sekarang kalau ada pejabat, tetangganya bikin hajatan, lalu dia hanya nyumbang lima ribu, langsung ‘dirasanin’ se-RT, se-RW, sekampung. Ya harusnya ya malah kita hormati, justru dari situ kita tahu kalau dia itu memang jujur!”

Apa mungkin selama ini para pejabat itu berada dibawah tekanan? Karena dalam masyarakat kita ada sebuah kecenderungan dimana ketika seseorang semakin tinggi jabatannya, maka hal tersebut harus dibarengi dengan meningkatnya penampilan, cara berperilaku, serta segala tindak tanduk.

Ya masyarakat kita ini sukanya ngerasanin: “Katanya pejabat, kok anak tetangganya sunatan ngasihnya cuma dua puluh ribu..” Mungkin berangkat dari pengalaman pernah jadi orang kecil yang juga ngerasanin orang lain, maka langkah antisipasi pun dilakukan. Mencari uang lebih pun dijalani agar penampilan sinkron dengan jabatan. Masak pejabat mobilnya Cuma Toyota Kijang, ya toh?

Kembali pada masalah pakaian, sekali lagi lepas dari benar atau tidaknya data yang diungkapkan oleh FITRA, mungkin ada baiknya kalau Presiden kita meniru perilaku Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad yang perilakunya sangat sederhana-terlepas dari beberapa pandangannya yang kontroversial.

Mahmud Ahmadinejad, menyumbangkan seluruh karpet Istana kepada mesjid-mesjid yanga da di Teheran pada awal masa jabatannya. Sebagai gantinya, dipakai karpet biasa yang lebih mudah dibersihkan. Ia juga menutup sebuah ruangan VIP yang mewah dan besar, sebagai gantinya menyediakan sebuah ruangan kecil dengan sebuah meja serta dua buah kursi untuk menerima tamu.

Selain itu ia juga memotong biaya penyediaan makanan bagi Presiden. Ia memilih bekal yang dibuatkan oleh istrinya sebagai makan siang. Kekayaan dan properti yang dimilikanya hanya terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977 serta sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya sumber pemasukannya adalah gajinya sebagai Presiden (yang kabarnya juga tidak diambilnya karena menurutnya  semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.)

Semenjak menginstruksikan untuk menggati pesawat kepresidenan menjadi pesawat kargo, ia memilih untuk terbang dengan kelas ekonomi pada setiap kesempatan. Selain itu, ia juga memotong protokoler istana sehingga menteri-menteri nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Segala kebiasaan maupun upacara semacam karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya, dihentikan.

Ia dikenal sangat relijius. Ia akan shalat dimanapun, ketika waktunya shalat tiba. Namun tidak pernah ingin terlihat menonjol, terbukti dengan tidak duduk di barisan paling muka saat shalat berjamaah.

Mungkin sudah saatnya kita jadi bangsa yang tak Cuma memikirkan gengsi. Karena ada kemungkinan bahwa masalahnya memang bermula dari situ.

Referensi:

Monday, October 11, 2010

Mengungkit yang Sudah Lewat


Suatu siang di hari itu. Mendung menggantung, awan hitam merayap lambat. Saya tidak lagi berharap dan kamupun rasanya sudah tak lagi ingat.
Bukan, bukannya saya hendak mengungkit yang sudah lewat. Namun setelah tumpah tangis sesenggukkan, pedih mendera dan berbaur dengan perih, kita memutuskan berhenti mencoba. Luka bikin kita terlalu rasional dan sejenak lupa bahwa manusia masih boleh punya asa,
Kembali di suatu siang di hari itu. Saya terduduk membisu, menyimak konservasi yang tengah dilakukan oleh para sahabat tersayang, di sini. Di tempat ini. Dimana surealis jadi terasa romantis, dan realistis seakan terlalu fantastis untuk menjadi kebenaran.
Entah muncul darimana, tapi saya menangkap sosok kamu di jarak terjauh yang mampu ditangkap ekor mata. Saya simpan baik baik imaji yang terekam sebentar di mata. Di ujung sebelah sana kamu menghentikan langkah. Melongok dua kali untuk memastikan keberadaan saya.
Kamu membuat saya melupakan gengsi. Maka bangkitlah saya dan berlari. Menuju kamu. Sambil berharap tidak terlihat terlalu antusias. Matamu masih sama, sayu dan jenaka namun menyimpan rahasia, tepat di ruang kosong yang terletak di antara kedua celah bola mata berkubang.
Hanya rambutmu sedikit berbeda.
“Salah potong rambut,” katamu seraya tersenyum kecil.
Senyum kamu membangkitkan rindu, tapi apa daya, saya bukan lagi (atau pernah jadi) siapa-siapa.
“Kamu jarang kelihatan,” ujarmu lagi. Mungkin mencoba basa-basi..
“Ya.. begitulah,” jawab saya pendek sambil pura-pura melemparkan pandangan acuh tak acuh.
Hati ini kembang kempis menahan rasa. Antara sakit, takut, pedih, gentar. Tapi tidak ada kata lain yang paling baik atau lebih lembut untuk mengungkapkan yang hendak saya sampaikan.
Lalu saya kumpulkan segenap keberanian, untuk memecahkan sunyi yang bergeming di antara nikmatnya diam yang kita ciptakan.
“Minggu depan aku menikah. Datang ya, ini undangannya,” kata saya sembari cepat cepat mengeluarkan sebuah undangan berwarna putih kelabu dari dalam tas.
Saya sodorkan undangan itu begitu saja. Dari tangannya, takut-takut pandangan saya naik sedikit demi sedikit ke atas, ke matanya. Ada yang aneh di sana, pada pandangannya.
Tatapan apa itu, saya tidak tahu, karena sesungguhnya saya memang tidak pernah benar-benar mengenal kamu.
Au revoir, Jose!
BY SHIREBEL, ON SEPTEMBER 5TH, 2010

**Karya diatas merupakan karya yang saya submit untuk flash fiction competition yang diselenggarakan oleh Ubud Writers and Readers Festival 2010 yang lalu. 
Belum beruntung, belum masuk 12 besar. Yaa, tapi lumayanlah 130-an vote :)
Thanks for the supports anyway, people.
GB :)