Monday, October 18, 2010

Bermula dari Gengsi

Mungkin masalah yang akan saya angkat pada tulisan ini bukan lagi isu terhangat, namun perkataan Sudjiwo Tedjo pada interview yang dilakukan oleh Sys NS, Minggu (10/10) lalu membuat saya cukup tersadar.

Beberapa minggu lalu publik sempat dihebohkan oleh pemberitaan media massa atas pengungkapan yang dilakukan oleh Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) atas Anggaran Belanja Rumah Tangga Negara yang dinilai terlalu tinggi.

Koordinator Advokasi dan Investigasi FITRA, Uchok Sky Khadafi, mengatakan bahwa Istana mengalokasikan 830 juta rupiah untuk pakaian Presiden. Diluar itu ada juga 42 milyar yang ditujukan untuk belanja furnitur Istana.

Betapa masyarakat sontak gempar dan kecewa. Bagaimana tidak, kalau kabar itu sampai terbukti benar, berapa banyak orang yang bisa diberi makan dan dibuatkan rumah dengan uang sebanyak itu.

Namun masyarakat bisa sedikit bernapas lega, karena kabar tersebut lalu akhirnya dibantah oleh Presiden sendiri. “Satu rupiah pun tidak ada biaya untuk pakaian saya sejak jadi Presiden pada 2004. Tidak ada biaya untuk satu lembar pakaian pun dari uang negara.

Sementara biaya furnitur yang disebut-sebut menurutnya jauh lebih kecil dari bilangan yang diungkapkan pada publik. Tahun lalu, dikatakan hanya ada 149 juta yang dikeluarkan untuk mengganti furnitur yang rusak.
Terlepas dari masalah benar atau salah, percaya atau tidak dengan berita tersebut, saya ingin mengaitkan masalah ini dengan apa yang diungkapkan oleh Sudjiwo Tedjo.

“Jaman sekarang harusnya kalau ada anak pejabat naik bus kota, jangan malah diomongin, kok dia naik bus kota sih? Harusnya malah kita omongin, nah bagus itu, anak pejabat tapi mau naik bus kota. Habis mau gimana, sekarang kalau ada pejabat, tetangganya bikin hajatan, lalu dia hanya nyumbang lima ribu, langsung ‘dirasanin’ se-RT, se-RW, sekampung. Ya harusnya ya malah kita hormati, justru dari situ kita tahu kalau dia itu memang jujur!”

Apa mungkin selama ini para pejabat itu berada dibawah tekanan? Karena dalam masyarakat kita ada sebuah kecenderungan dimana ketika seseorang semakin tinggi jabatannya, maka hal tersebut harus dibarengi dengan meningkatnya penampilan, cara berperilaku, serta segala tindak tanduk.

Ya masyarakat kita ini sukanya ngerasanin: “Katanya pejabat, kok anak tetangganya sunatan ngasihnya cuma dua puluh ribu..” Mungkin berangkat dari pengalaman pernah jadi orang kecil yang juga ngerasanin orang lain, maka langkah antisipasi pun dilakukan. Mencari uang lebih pun dijalani agar penampilan sinkron dengan jabatan. Masak pejabat mobilnya Cuma Toyota Kijang, ya toh?

Kembali pada masalah pakaian, sekali lagi lepas dari benar atau tidaknya data yang diungkapkan oleh FITRA, mungkin ada baiknya kalau Presiden kita meniru perilaku Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad yang perilakunya sangat sederhana-terlepas dari beberapa pandangannya yang kontroversial.

Mahmud Ahmadinejad, menyumbangkan seluruh karpet Istana kepada mesjid-mesjid yanga da di Teheran pada awal masa jabatannya. Sebagai gantinya, dipakai karpet biasa yang lebih mudah dibersihkan. Ia juga menutup sebuah ruangan VIP yang mewah dan besar, sebagai gantinya menyediakan sebuah ruangan kecil dengan sebuah meja serta dua buah kursi untuk menerima tamu.

Selain itu ia juga memotong biaya penyediaan makanan bagi Presiden. Ia memilih bekal yang dibuatkan oleh istrinya sebagai makan siang. Kekayaan dan properti yang dimilikanya hanya terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977 serta sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya sumber pemasukannya adalah gajinya sebagai Presiden (yang kabarnya juga tidak diambilnya karena menurutnya  semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.)

Semenjak menginstruksikan untuk menggati pesawat kepresidenan menjadi pesawat kargo, ia memilih untuk terbang dengan kelas ekonomi pada setiap kesempatan. Selain itu, ia juga memotong protokoler istana sehingga menteri-menteri nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Segala kebiasaan maupun upacara semacam karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya, dihentikan.

Ia dikenal sangat relijius. Ia akan shalat dimanapun, ketika waktunya shalat tiba. Namun tidak pernah ingin terlihat menonjol, terbukti dengan tidak duduk di barisan paling muka saat shalat berjamaah.

Mungkin sudah saatnya kita jadi bangsa yang tak Cuma memikirkan gengsi. Karena ada kemungkinan bahwa masalahnya memang bermula dari situ.

Referensi:

5 comments:

Letysia Searamita (Om) October 18, 2010 at 9:53 PM  

Gak punya gengsi dianggap gak keren tau kaaaakk...

amaliasekarjati October 19, 2010 at 1:18 AM  

wow. inspiring, kak.
fuck 'citra' lah.

shirebel October 19, 2010 at 11:01 AM  

@om: masyarakat Indonesia kan makanan pokoknya nasi, om, bukan gengsi. hahah
@amalia: yeaa rite! masyarakat dulu dibikin kenyang makmur sejahtera baru mikirin gengsi noh.

gita adinda October 19, 2010 at 9:25 PM  

gw sempet agak bergidik dan merinding membaca tulisan tentang ahmadinejad sangking kagumnya. Sebaliknya, gw sedih bahkan malu membaca tentang pencitraan dan gengsi yang dianut sama negeri tanpa karakter ini. NICE POST KASHIRR! YOU RAWRKS

shirebel October 20, 2010 at 10:23 AM  

iya nih git, gak pernah ada kata terlambat untuk berubah kok, pasti bisa deh kita!
anyway, thanks for the compliments, dear, you too, rocckkss, dear!