Skip to main content

Mengungkit yang Sudah Lewat


Suatu siang di hari itu. Mendung menggantung, awan hitam merayap lambat. Saya tidak lagi berharap dan kamupun rasanya sudah tak lagi ingat.
Bukan, bukannya saya hendak mengungkit yang sudah lewat. Namun setelah tumpah tangis sesenggukkan, pedih mendera dan berbaur dengan perih, kita memutuskan berhenti mencoba. Luka bikin kita terlalu rasional dan sejenak lupa bahwa manusia masih boleh punya asa,
Kembali di suatu siang di hari itu. Saya terduduk membisu, menyimak konservasi yang tengah dilakukan oleh para sahabat tersayang, di sini. Di tempat ini. Dimana surealis jadi terasa romantis, dan realistis seakan terlalu fantastis untuk menjadi kebenaran.
Entah muncul darimana, tapi saya menangkap sosok kamu di jarak terjauh yang mampu ditangkap ekor mata. Saya simpan baik baik imaji yang terekam sebentar di mata. Di ujung sebelah sana kamu menghentikan langkah. Melongok dua kali untuk memastikan keberadaan saya.
Kamu membuat saya melupakan gengsi. Maka bangkitlah saya dan berlari. Menuju kamu. Sambil berharap tidak terlihat terlalu antusias. Matamu masih sama, sayu dan jenaka namun menyimpan rahasia, tepat di ruang kosong yang terletak di antara kedua celah bola mata berkubang.
Hanya rambutmu sedikit berbeda.
“Salah potong rambut,” katamu seraya tersenyum kecil.
Senyum kamu membangkitkan rindu, tapi apa daya, saya bukan lagi (atau pernah jadi) siapa-siapa.
“Kamu jarang kelihatan,” ujarmu lagi. Mungkin mencoba basa-basi..
“Ya.. begitulah,” jawab saya pendek sambil pura-pura melemparkan pandangan acuh tak acuh.
Hati ini kembang kempis menahan rasa. Antara sakit, takut, pedih, gentar. Tapi tidak ada kata lain yang paling baik atau lebih lembut untuk mengungkapkan yang hendak saya sampaikan.
Lalu saya kumpulkan segenap keberanian, untuk memecahkan sunyi yang bergeming di antara nikmatnya diam yang kita ciptakan.
“Minggu depan aku menikah. Datang ya, ini undangannya,” kata saya sembari cepat cepat mengeluarkan sebuah undangan berwarna putih kelabu dari dalam tas.
Saya sodorkan undangan itu begitu saja. Dari tangannya, takut-takut pandangan saya naik sedikit demi sedikit ke atas, ke matanya. Ada yang aneh di sana, pada pandangannya.
Tatapan apa itu, saya tidak tahu, karena sesungguhnya saya memang tidak pernah benar-benar mengenal kamu.
Au revoir, Jose!
BY SHIREBEL, ON SEPTEMBER 5TH, 2010

**Karya diatas merupakan karya yang saya submit untuk flash fiction competition yang diselenggarakan oleh Ubud Writers and Readers Festival 2010 yang lalu. 
Belum beruntung, belum masuk 12 besar. Yaa, tapi lumayanlah 130-an vote :)
Thanks for the supports anyway, people.
GB :)

Comments

like this postingan .. kembali ,,, n kembali ... coba bayangkan dalam 3 dimensinya .. wah nampol ...
shirebel said…
hehe. thank youu bank raff :))

Popular posts from this blog

pagi sendu

Halo, selamat pagi.
Hari ini dimulai sendu sekali.
Hujan rintik membasahi.
Dan sama seperti Rain yang dalam "Smoking With God" ingin mengajakMu merokok di balkon lantai dua, aku pun mau.
Seharian bersama bicara berdua, atau saling diam, cukup mensyukuri kehadiran masing-masing, di balkon lantai dua, dengan sebuah jendela yang selalu terbuka, tempat asap kita bermuara.
Halo, mungkin aku rindu, rindu terlalu, hingga terlarut dalam haru.

*Sedikit banyak juga terinspirasi dari karya Rain Chudori - "Smoking With God"
stressed out from eating too much
stressed out from not eating enough
stressed out from thinking too much
stressed out from not caring enough
how can I be the best version of myself if I don't even have the ability to think straight
kalo sepenggal kecurigaan kita ramu dengan benar (benar) maka asumsi asumsi yang kadung mematangkan diri bukannya tidak bisa berubah jadi kenyataan