Sunday, November 21, 2010

sejarah


Seperti bait-bait terakhir dalam skenario yang ditulis oleh Ayu Utami dalam 'Ruma Maida':
Sejarah, yang manis kita rayakan, yang sakit, kita catat agar tidak terulang kembali.*

Mungkin tanpa sadar, pola inilah yang saya lakukan. Mencatat kesakitan untuk tidak mengulang kegagalan, mencoba mengurangi kesakithatian.
Namun nyatanya mencatat tidak selalu menyelamatkan saya dari tindakan repetitif akan kebodohan yang sama.
Saya jadi malu.
Lantas apa bedanya saya dengan para pemimpin negeri ini?

20.11.2010
23:45

*kutipannya tidak persis demikian, namun kurang lebih seperti itu.

wakil rakyat seharusnya merakyat

Note: This post may sound a bit offensive. Sorry. I was just too emotional and still cant get it: what the feck has come to their mind?

Wakil rakyat seharusnya merakyat.

Wakil rakyat harusnya jalan kaki, naik bus tiap hari, biar mereka tahu bahwa rakyat jelata itu menderitanya luar biasa. Kalau mau naik mobil ber-AC, tinggal di rumah mewah, bergaji melimpah, lebih baik jadi pengusaha, jangan jadi wakil rakyat.

Bagaimana tahu seberapa buruknya masalah transportasi (ini baru satu masalah saja) di Indonesia kalau naik angkutan umum saja tidak pernah. Berapa dari mereka yang tahu ongkos minimum angkutan umum macam kopaja atau patas mayasari?
Kalau segitu saja tidak tahu, lalu siapa yang mau diwakili?

Ingat, lebih banyak rakyat Indonesia yang tiap hari jalan kaki dan nyambung angkot berkali kali daripada naik kendaraan pribadi.

Jadi wakil rakyat itu amanah. Tanggung jawab dan beban moralnya luar biasa besar (Harusnya kalian tahu, kan? Sadar, kan?). Wakil rakyat itu wakilnya mereka yang tinggal di bawah jembatan, di pinggiran kali, di Bantargebang. Karena merekalah yang terpinggirkan, karena merekalah yang suaranya tidak seberapa kuatnya untuk bisa terdengar sampai ke gedung kura kura kembar.
Bargaining power kami mungkin memang rendah, tapi dilihat dari jumlah, kami fantastis. Pasti kalian pernah dengar tentang people power, kan?

Demi apapun juga, wakil rakyat ya seharusnya merakyat!
Rasanya saya ingin sekali bilang: "Udah kita yang milih, kita yang bayar gaji lu*, kita ditelantarin juga sama elu. Woi!"
Dimana sih otak dan hati kalian?

*actually its my parents, mereka yang punya NPWP, mereka yang bayar pajak. but less than a year saya juga akan punya NPWP, kalo duit gue dipake buat bayarin mereka yang bahkan gak ngurusin kita-masyarakat, ya buat apaan juga? amal dong itungannya itu mah! hah!

Saturday, November 06, 2010

first publicity :)


my blog featured on the latest edition of CHIC magazine.
Special thanks goes to Precilya Meirisa Armanto.
Mari diborong majalahnya. haha. #norak

Thank You, Lord :)

Monday, November 01, 2010

Mengapa saya menulis blog ini?

Saya menulis karena saya berpikir.

Karena pada dasarnya saya adalah tipe orang yang think (or often worried) too much about too many things.
Saya menulis mengenai banyak hal. Kebanyakan mengenai hal-hal yang tengah terjadi pada diri saya, atau dalam lingkungan saya.

Banyak orang bertanya kepada saya. Mengapa “Nona Mantra”?

Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata,
yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya.
Pada mulanya adalah kata.
Dan kata pertama adalah mantera.
Maka menulis puisi bagi saya
adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri, 1973.

Saya takut penjelasan yang terlalu panjang akan membunuh esensi dari makna yang hendak saya transformasikan disini. Maka saya memberikan anda kesempatan untuk mencernakannya sendiri.

Blog ini merupakan media ekspresi dan pelampiasan emosi saya.
I’d love to called it as ‘part of my medication’.

Saya berusaha mengemas tulisan saya sebaik dan semenarik mungkin untuk bisa dinikmati dan dibaca oleh orang lain. Karena bukankah rasanya menyenangkan ketika tahu bahwa diluar sana, ada orang yang juga memiliki kesamaan dengan anda. It feels good to know that you’re not alone.

Di sini, saya mencoba untuk jujur sejujur-jujurnya kepada diri saya dan dunia. Semua yang tertulis di sini adalah apa yang saya rasakan dan saya pikirkan pada waktu tulisan tersebut dibuat. Yang mungkin valid pada hari tersebut namun tidak persisten hingga sekarang. Because people change, you know. And so does your feelings.

Anda mungkin jenuh pada tulisan yang melulu tentang saya.
Dan tentu, itu hak anda untuk merasa bosan. Silahkan.
Namun ketika anda seperasaan dangan apa yang saya tuliskan, katakan.
Ceritakan pada saya, karena mengemukakannya sedikt banyak membantu.
Sebab sesungguhnya kita ini cuma sekumpulan pesakitan, yang butuh waktu dan teman, sebagai bagian dari pengobatan.

Selamat membaca, sampai bertemu di dunia nyata.