Skip to main content

wakil rakyat seharusnya merakyat

Note: This post may sound a bit offensive. Sorry. I was just too emotional and still cant get it: what the feck has come to their mind?

Wakil rakyat seharusnya merakyat.

Wakil rakyat harusnya jalan kaki, naik bus tiap hari, biar mereka tahu bahwa rakyat jelata itu menderitanya luar biasa. Kalau mau naik mobil ber-AC, tinggal di rumah mewah, bergaji melimpah, lebih baik jadi pengusaha, jangan jadi wakil rakyat.

Bagaimana tahu seberapa buruknya masalah transportasi (ini baru satu masalah saja) di Indonesia kalau naik angkutan umum saja tidak pernah. Berapa dari mereka yang tahu ongkos minimum angkutan umum macam kopaja atau patas mayasari?
Kalau segitu saja tidak tahu, lalu siapa yang mau diwakili?

Ingat, lebih banyak rakyat Indonesia yang tiap hari jalan kaki dan nyambung angkot berkali kali daripada naik kendaraan pribadi.

Jadi wakil rakyat itu amanah. Tanggung jawab dan beban moralnya luar biasa besar (Harusnya kalian tahu, kan? Sadar, kan?). Wakil rakyat itu wakilnya mereka yang tinggal di bawah jembatan, di pinggiran kali, di Bantargebang. Karena merekalah yang terpinggirkan, karena merekalah yang suaranya tidak seberapa kuatnya untuk bisa terdengar sampai ke gedung kura kura kembar.
Bargaining power kami mungkin memang rendah, tapi dilihat dari jumlah, kami fantastis. Pasti kalian pernah dengar tentang people power, kan?

Demi apapun juga, wakil rakyat ya seharusnya merakyat!
Rasanya saya ingin sekali bilang: "Udah kita yang milih, kita yang bayar gaji lu*, kita ditelantarin juga sama elu. Woi!"
Dimana sih otak dan hati kalian?

*actually its my parents, mereka yang punya NPWP, mereka yang bayar pajak. but less than a year saya juga akan punya NPWP, kalo duit gue dipake buat bayarin mereka yang bahkan gak ngurusin kita-masyarakat, ya buat apaan juga? amal dong itungannya itu mah! hah!

Comments

Popular posts from this blog

pagi sendu

Halo, selamat pagi.
Hari ini dimulai sendu sekali.
Hujan rintik membasahi.
Dan sama seperti Rain yang dalam "Smoking With God" ingin mengajakMu merokok di balkon lantai dua, aku pun mau.
Seharian bersama bicara berdua, atau saling diam, cukup mensyukuri kehadiran masing-masing, di balkon lantai dua, dengan sebuah jendela yang selalu terbuka, tempat asap kita bermuara.
Halo, mungkin aku rindu, rindu terlalu, hingga terlarut dalam haru.

*Sedikit banyak juga terinspirasi dari karya Rain Chudori - "Smoking With God"
stressed out from eating too much
stressed out from not eating enough
stressed out from thinking too much
stressed out from not caring enough
how can I be the best version of myself if I don't even have the ability to think straight
kalo sepenggal kecurigaan kita ramu dengan benar (benar) maka asumsi asumsi yang kadung mematangkan diri bukannya tidak bisa berubah jadi kenyataan