Wednesday, October 12, 2011

di muka meja makan

pada suatu malam di muka meja makan.........

"pada usia tuanya ia merasa begitu kesepian. bahkan memohon untuk didoakan. aku memperhatikan gelagatmu yang mengarah ke situ. aku tak ingin kau berakhir demikian. apa kau masih percaya tuhan?"
"............
aku..aku masih percaya tuhan."
"bagaimana dengan imanmu? aku ragu, aku cemas, kalau kalau imanmu tak mengakar jauh ke dalam tanah. jangan jangan imanmu dibangun di atas pasir.."
"...sebutlah kalau saat ini aku tengah dalam fase pencarian. semenjak kecil kau membesarkanku dengan dasar dasar agama yang kuat. tapi ini saatnya bagiku untuk mencarinya. aku ingin mengalaminya. aku tidak ingin mengimaninya dengan hati yang buta."
"aku takut perilakumu adalah buah kesalahanku, sedari kecil memberikanmu beragam buku. ketika besar kuperhatikan bacaanmu, jangan-jangan karena itu."
"jangan bilang begitu. bukan salahmu. engkau telah membesarkanku dengan kasih dan aku tidak mempersalahkanmu atas segala yang terjadi pada diriku. engkau telah melakukan segala yang terbaik yang bisa kau lakukan dan aku menghargai itu."
"perasaan ini telah kupendam dari beberapa natal yang telah lewat."
"aku tahu."
"setiap orang tua hanya tidak ingin kemalangan yang menimpanya terjadi pada anak-anaknya."
"aku mengerti. tapi hidup adalah pilihan. dan ini adalah pilihanku. mungkin naif, mungkin egois, tapi aku ingin meyakini bahwa tuhan adalah tuhan yang baik. luar biasa baik. titik."
"pasti kau akan membenci kata-kata yang akan kukemukakan ini, namun sepanjang perjalanan hidupku, aku melihat orang orang yang jatuh, salah arah, dan tuhan mencubit mereka. aku termasuk salah satu di antaranya."
"sesungguhnya aku tak ingin mengimani tuhan dengan demikian. keegoisanku bilang bahwa tuhan luar biasa baik. ia memberi kita kehendak bebas. lalu bukankah menjadi tidak fair kalau ia menjatuhkan petaka dan hukuman atas pilihan yang kita buat, padahal itu kebebasan tersebut merupakan anugerahnya?"
"..............
aku berdoa agar kau segera menemukannya. dalam doaku selalu kusebut namamu. dan aku bersyukur pembicaraan ini bisa terjadi. yang kuimani adalah, ini bukan sebuah kebetulan. tuhan merencanakan ini untuk terjadi. setidaknya kini aku tahu di mana posisimu."
"........aku berterima kasih."

aku pun bersyukur atas pembicaraan yang boleh terjadi di antara kita, pembicaraan yang tidak pernah aku bayangkan akan pernah terwujud jadi kenyataan. kejujuran yang boleh aku ungkapkan. air mata yang katamu lebih baik dikeluarkan. terlalu banyak hal kita bagi hingga menulisnya pun aku hampir tak mampu. yang tak kuduga, ternyata engkau menerimaku, keberadaanku. aku mengasihimu.

Wednesday, September 21, 2011

duh, susan

duh susan, mengapa engkau curang dengan tak kunjung jadi gede
kalau saja kamu tahu, pas makin gede, ternyata tidak mudah untuk memutuskan untuk jadi ini atau itu
duh susan, gara gara lagumu waktu kecil aku kadang membayangkan kehidupanku pada masa mendatang
berdiri merenung menyender di jembatan penyeberangan dengan rambut terurai dan setelan khas pekerja kantoran
aku pikir itu keren tapi ternyata bagi kebanyakan orang itu menyedihkan
karena akhirnya itu kejadian. aku sering nyender di jembatan dengan rokok sebatang, lalu orang yang lalu lalang menatapku dengan pandangan setengah aneh setengah kasihan
duh susan ternyata makin ke sini aku gak pengen jadi pekerja kantoran, naifnya aku lebih pengen jadi seniman
duh susan, gimana kalau kita tukeran, kamu yang jadi gede, dan aku tetap tinggal di masa kecil, tanpa perlu mikir yang gini-ginian

duh kak ria, sesungguhnya engkau keterlaluan,
sekarang aku tahu kenapa engkau menciptakan susan.

Saturday, September 17, 2011

melulu tentang napsu

"Besides, when women don't dress according to Shariah law, they're asking to get raped." Ramli Mansur, Bupati Aceh Barat

Khusus bagi kaum hawa, Foke menyarankan agar mereka berhati-hati sekaligus melakukan upaya pencegahan saat menggunakan jasa angkutan. "Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga. Sama kayak orang naik motor, pakai celana pendek ketat lagi, itu yang di belakangnya bisa goyang-goyang," katanya sembari bercanda.
"Harus menyesuaikan dengan lingkungan sekelilingnya supaya tidak memancing orang melakukan hal yang tidak diinginkan," Fauzi Bowo (Foke), Gubernur DKI Jakarta

Luar biasa bagaimana perempuan seringkali dipojokkan sebagai penyebab atas kejahatan yang terjadi atas dirinya. 
Perempuan yang menggunakan rok mini dan celana pendek dianggap memancing kejahatan? Lalu mengapa lelaki yang bertelanjang dada dianggap sebagai sesuatu yang lumrah? Karena mereka lelaki? Sekarang begini, perempuan dan laki laki itu sesama manusia, punya akal, punya tubuh, punya jiwa, punya NAPSU. Jangan dikira melihat lelaki yang bertelanjang dada tidak menimbulkan gejolak seksual dalam diri perempuan, bung! Bedanya, kami tahu cara mengendalikan diri, dan tidak mempersalahkan kalian atas gejolak yang kalian timbulkan.
Kalian mengatur cara berpakaian kami, kalian memaksa kami untuk menekan dan menyangkal napsu, lalu kembali mempersalahkan kami ketika kemalangan semacam perkosaan menimpa kami. Apa-apaan ini?!

Mungkin benar adanya: "bisa karena biasa." Mungkin pria bertelanjang dada terlalu sering kita lihat di mana-mana sehingga lama-lama terbiasa. Oleh karena itu saya hendak mengusulkan pembudayaan pemakaian rok mini dan hotpants di semua kalangan. Agar para pria semakin terbiasa melihat paha wanita dan belajar mengendalikan diri untuk tidak meraba kalau memang bukan miliknya!

Atau bisa juga kita galang #gerakansatujutatweepsnaikangkotmenggunakanrokminiatauhotpants sebagai aksi protes atas kesemena-menaan yang sudah terlalu lama dirasakan kaum perempuan.

Intinya, wahai para perempuan, jangan mau terima anggapan yang menyebutkan kita sebagai penyebab datangnya kejahatan. Jadi diri sendiri, pakai baju yang membuat kalian nyaman, sesuai yang kalian inginkan! Mau hotpants kek, mau rok mini kek, mau leather pants kek, pake aja, hajar!

Dan kalian, para lelaki yang gak tahan tiap liat paha atau tali BH, lalu bawaaanya jadi ngatur-ngatur cara berpakaian wanita atau nyalah-nyalahin kita, you guys seriously should get laid (cari pacar kek, hts-an kek, apaan aja asal jangan pake maksa, yang sama-sama suka. susah? ya namanya juga hidup bro, pasti susah lah ya, lo bayangin aja susahnya jadi perempuan berapa juta kali ganti generasi dipaksa nahan napsu!)

Sebagai penutup, tadi pagi ada sebuah berita yang cukup, hm, patut kita apresiasi kebesaran hati orang ini dengan permintaan maafnya. Semoga ini adalah ungkapan maaf yang ikhlas, yang bukan sekedar dalam rangka pencitraan. Silahkan klik: http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/17/09363348/Foke.Minta.Maaf.Soal.Larangan.Pakai.Rok.Mini.di.Angkot "Foke Minta Maaf Soal Larangan Pakai Rok Mini di Angkot"

Terakhir, sebuah tulisan dari teman saya, Maria Goretti, "Jakarta Keras, Sis!" Seputar menjadi perempuan yang tidak mau sekedar diam. Enjoy!

Saturday, September 10, 2011

sesungguhnya pergi bukan berarti berhenti
ia adalah mula dari segala
perjalanan mengalami lalu menjadi
mencari dan usaha untuk menemukan
asing kenal belajar lalu tinggal


ada yang bilang pelabuhan
ada yang mengatakan pulang

dalam hidup ada pengecualian untuk beberapa hal
untuk aku kamu dia mereka
kita?
itu mengerikan. sebab harus dilandasi kesepakatan
yakin?
itu menakutkan. sebab di dunia yang paling konstan hanyalah perubahan

hidup? hiduplah. meski kekecewaan, kesakitan, kepedihan, kepiluan, adalah yang tersetiakawan

waktu

Senin, 5 September 2011

hari itu akhirnya saya sadar kalau waktu memang bukan tanding yang seimbang
pukul tujuh kurang berangkat menuju kampus, setelah menghabiskan semalam tanpa tidur. hawa libur lebaran masih kental terasa. jalanan lengang, uki masih sepi, 117 tak kunjung datang. sekalinya ada 117 melintas, terpaksa saya naik meski harus berdiri.

sampai di gading serpong saya menuju ke SMS untuk mencari sarapan pagi. sialnya semua kedai kopi belum beroperasi. duduk di muka pintu masuk mall ditemani beberapa batang rokok sembari menunggu jam sembilan. badan sedang tidak bisa diajak berkooperasi. rasanya berat, pegal, sakit.

sebuah kedai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, saya masuki, memesan sarapan. rupanya selera makan tidak tergugah melihat hidangan yang tersedia. pikir saya: mungkin pengaruh hormon, mungkin kurang darah. menstruasi, anemia, dan semalaman digerogoti nyamuk rasanya cukup untuk membuat mood kurang bagus di pagi hari. ac yang mengarah langsung ke badan memperparah keadaan. saya putuskan untuk keluar, melanjutkan revisi skripsi yang wasalam malasnya untuk diteruskan.

sampai di area downtown, matahari bersinar tiada ampun. layar laptop sampai tidak keliatan. untung si kacamata hitam nan setia selalu siap sedia. tiba-tiba henfon menyala, sebuah email masuk. saya buka. dari milis komisi pemuda gereja yang kegiatannya tak pernah satu kali pun saya tandangi (yang entah mengapa meski saya tak pernah mendaftar tapi bisa jadi anggotanya, saban pagi dikirimi renungan harian yang tak pernah saya baca). isinya singkat, berita duka mengenai seorang koster gereja. saya tersentak. semasa saya remaja, dan masih sering ke gereja, koster ini saya kenal baik luar biasa. di balik kacamata dengan lensa yang besar itu, saya menitikkan air mata. sebuah berita duka di pagi hari? yang benar saja.

seorang teman baik datang menghampiri, rencananya dari downtown kami akan ke kampus untuk bimbingan revisi. karena hari rabu-nya adalah deadline pengumpulan revisi skripsi saya. ogah-ogahan, setelah menemani teman saya dan pasangannya makan, kami beranjak ke kampus. setelah sebats dua bats tiga bats di kantin, saya beranjak ke gedung rektorat untuk medapati bahwa ketiga dosen yang hendak saya temui tidak ada di tempat. asik. jauh jauh dari tebet ke gading serpong cuma untuk buang buang duit, saya pikir.

saya kembali ke kantin. sebats, dua bats, tiga bats, henfon yang tengah di charge di beberapa meja dari tempat saya duduk berbunyi. sebuah missed call dan bbm dari mami l yang menanyakan apakah urusan di kampus sudah selesai. saya cerita bahwa dosen saya ternyata tidak ada di tempat. dibalasnya dengan kalimat: "boleh mami l telp?" curiga, tapi saya balas: "telp aja, aku lagi gada pulsa soalnya maap."

tak berapa lama sebuah panggilan telpon masuk. dari mami l.
"de, udah selesai?"
"udah, dosenku gada semua."
"oh begitu. jadi so mo pulang?"
"stou, masi gatau sih nih. kenapa emang?"
"kalo mami l bilang kamu jangan kaget ya?"
sungguh kalimat semacam itu malah menimbulkan kecurigaan dan keparnoan yang luar biasa.
"apan sih?"
"om pepen (kakak dari ayah saya) meninggal."
"what?!"
lagi, saya menangis. di kantin. tengah hari bolong.

setelahnya saya sibuk menghubungi dosen saya karena tahu bahwa pasti kedukaan dan ritualnya akan berlangsung berhari-hari. sementara hari rabunya sudah deadline revisi sekaligus sidang ulang skripsi. untung dosen penguji (yang juga kaprodi) begitu pengertian, memindahkan jadwal jadi minggu depan.
saya tidak habis pikir. saya putuskan untuk segera pulang naik shuttle dari sms ke benhil. setelahnya menyambung taksi ke rumah duka rspad gatot subroto. terima kasih kepada kacamata hitam nan setia yang sepanjang perjalanan menutupi mata sembap saya yang sedikit sedikit mengeluarkan air mata. iya, saya memang melankolis, sensitif, perasa. apa mau dikata. cengeng? terserah.

lagi-lagi saya bilang: saya tidak habis pikir. sepanjang perjalanan pikiran saya melayang. jalan ini biasa saya lalui dengan om saya yang beberapa kali menemani mengantar pulang ke dorm selama dua tahun saya pernah berdomisili di gading serpong. saya menyesali bahwa saya tidak banyak menghabiskan waktu dengannya. saya menyesali bahwa kadang saya suka kesal kalau ayah saya terlalu sering pergi memancing dengan kakaknya sendiri. saya menyesali banyak hal. saya mengingat bagaimana perjuangannya menghidupi keluarganya hingga anak-anaknya tumbuh dewasa dan berhasil. saya mengingat kebaikan-kebaikannya, dan hati saya hancur karena memori.

setibanya di rumah duka, ayah sudah menunggu. kakak saya pun baru tiba bersama dengan beberapa anggota keluarga lainnya. ayah mengajak saya ke kamar jenasah. saya menolak. namun ia meyakinkan bahwa keadaannya tidak semenyeramkan itu. akhirnya saya setuju. saya masuk ke kamar jenasah. dan di situlah, terbaring om saya. telah rapih, lengkap dengan jasnya. dan saya tidak bisa menahan air mata saya. bahkan ketika menulis ini air mata saya masih berjatuhan. saya keluar dari kamar jenasah sembunyi di belakang tembok sembari menyeka ingus dan air mata yang entah mengapa tidak mau berhenti. saya malu. entah pada apa.

dari kamar jenasah kami berjalan ke rumah duka, di sana menunggu istri dan anak-anak dari om saya. saya memeluk anaknya yang paling besar. kami lama berpelukan. selain tangis hanya satu kata yang bisa keluar dari bibir saya: "ci....." saya peluk istri om saya yang meminta maaf kalau sekiranya ada kesalahan yang dilakukan oleh om saya. saya malu. saya hanya bisa bilang: "iya tante, iya. sama-sama aku juga banyak salah."
dan waktu berjalan terus, sore berganti malam. dua pendeta (entah apa sebutannya dalam konghucu) didatangkan melaksanakan ritual bagi om saya. mantra-mantra berbahasa mandarin dilancarkan. aroma hio menguatkan nuansa magis. banyak pekerjaan harus dilakukan. melipat kertas uang yang paling bisa saya lakukan.melipat kertas uang untuk ritual sembari mendegar mantera dideraskan rasanya..... membangkitkan darah cina yang selama ini selalu saya sangkal mengalir dalam diri saya.

berhari-hari saya habiskan bersama keluarga ayah saya. dan ini menghidupkan darah cina yang selama ini tertidur. saya cuma bisa janji satu hal: bahwa saya tidak akan lagi menyangkal ke-cina-an yang diturunkan dari ayah saya. ya memang cina, mau apa lagi, mau nangis sampai gila, mengais tanah sampai jadi gula juga tak akan pernah berubah. lagipula mengapa kalau saya cina? selama saya tidak merugikan siapa-siapa.

hari itu saya merasa seperti digampar-gampar oleh kenyataan. hari itu saya baru benar benar sadar bahwa waktu memang tak kenal ampun. dan waktu, yang selama ini selalu ingin saya tandingi, nyatanya bukan lawan yang seimbang bagi saya. bahkan, tidak seharusnya saya menantangnya. waktu adalah waktu. waktu bisa merubah batu jadu debu. sementara saya cuma manusia biasa, yang dalam suatu waktu pun akan lebur jadi debu. gak pantas bagi manusia macam saya menantang waktu dan mengira bisa mengalahkannya. waktu selalu lebih unggul dengan pukulan pukulan kejadian yang disajikannya di hadapan muka saya.

buat waktu rasanya belum cukup bikin saya hancur-hancuran dengan patah hati putus cinta di tengah-tengah mepetnya deadline pengumpulan skripsi dan friksi yang terjadi di tengah famili. dia masih harus mengambil orang-orang terbaik yang pernah saya miliki, keluarga, sahabat, kenalan, dengan berbagai jalan. dia juga menghancurkan harga diri dan kepercayaan diri saya yang dasarnya sudah retak dengan keputusan mengenai sidang ulang dan revisi skripsi yang banyaknya gak kira-kira. bu, pak, kalau ibu bapak sekalian baca ini, maaf pls dont take it personal. tapi saya cuma mau jujur karena saya ga suka bohong apalagi pembohong, saya cuma pengen bilang kalau sampai detik ini jujur revisi saya belom rampung. saya masih mengumpulkan niat untuk kembali melanjutkan.

salah kalau saya merasa dipermainkan oleh waktu? salah kalau saya berlindung di balik alasan waktu? salah kalau saya mengkambinghitamkan waktu? ya mungkin semua memang salah saya. tapi saya memang butuh waktu, untuk disalah-salahin, untuk dicaci maki, agar setidak-tidaknya saya gak merasa salah salah banget. karena mengakui kalau diri kita salah itu butuh keberanian luar biasa. dan saya tidak selalu ada dalam waktu yang tepat untuk cukup berani menyatakan bahwa saya telah melakukan sebuah kesalahan. demikian

Thursday, September 08, 2011

"Sudah jo, nyanda usah beking saki hati pa orang lain. Biar jo dorang beking saki hati pa torang, mar yang penting torang so beking bae-bae no pa dorang."*

Perkataan Ibu saya, pada suatu siang, dalam bahasa Manado.

*"Sudahlah, jangan nyakitin hati orang lain. Biar aja mereka nyakitin hati kita, yang penting kita udah memperlakukan mereka dengan baik."

Monday, August 29, 2011

kalau tulisan "mandi di mata air" dibaca dengan "mandi air mata"........................................
sendu sendu beribu
rindu rindu hingga ke sembilu
semoga sendu yang merindu selalu meliputi kota ibu
amin

Sunday, July 03, 2011

i still vaguely remember those good old days
family gatherings
dressed up in a sleeveless blouse, mini skirt, heels
and those quirky-look-alike-half-burned-cigarette-earrings
she sat on a chair, with a cig slipped on her fingers
i came towards her and said: "Oma, why are you smoking?"
she just laughed
today, if only she could get up from that coffin, she'd probably asked me the very same question, just to make us even

as i get older, i heard about her acceptance
and it touched me deeply

today, i just realized that she's always been one of my role model, and i simply adore her

Goodbye Oma Ade
'till we meet again :")

Wednesday, June 29, 2011

seputar s******

Seputar bimbingan:
"Kemane aje lu?"

"Lah, baru sampe sini lu?"

"Bahan yang gue kasih, yang 'Cognitive Semiotics' udah lu baca belom?"
"Errr, yang mana ya, Pak?"
"Hadeeeeh, sini gue kasi lagi."
"..."
*Referensi udah segudang udah mau nangis nih.

Seputar setres.
Di Gramedia SMS. Sembari menunggu Indra cari buku. Dini curhat seputar bimbingan. Cape. Duduk. Bengong.
"Gimana ya Din..." *menghela napas
Tiba tiba mata tertuju pada sebuah buku berjudul "YA ALLAH TOLONG AKU."
Men.

Curhat Dini berlanjut. Klimaks. Aduh kenapa harus ada yang namanya skripsi.
Tepat ketika pikiran tersebut terlintas sebuah buku berjudul "WHY" tertangkap mata. 

HUFTZ.

Sunday, June 26, 2011

hari ke-tujuh
yang paling dibenci dalam seminggu

kosong. saat yang lain merasa penuh
sakit. saat yang lain malah sembuh
tidak bisa berhenti mengeluh
dipenjara jenuh
rindu pada yang tengah jauh

muak penat pedih, saling menumbuk, bertumpuk


seandainya yang ke-tujuh mampu terbunuh dengan suara sapi melenguh
ah, seperti tak ada cara yang lebih ampuh


hanya dapat berharap terbangun pada suatu minggu, dan cinta akan itu diam diam tumbuh

Monday, June 20, 2011

judge yourself

*Baca tulisan ini dengan kepala dingin dan hati tenang ya.
Tidak ada maksud untuk menyinggung, menyerang, apalagi mempersalahkan atau mengkambinghitamkan pihak manapun.
Inilah buah dari kegundahan yang telah lama bersarang dalam hati.*

Pasar Minggu. Pukul 21.00 lewat, Sabtu malam.
Jalan utama dipenuhi kendaraan padat merayap. Rata-rata motor yang berseliweran dikendarai lelaki, baik tua dan muda usia yang berbaju koko, lengkap dengan peci dan sarung. Sementara di atas beberapa mikrolet sewaan, sekitar sepuluh anak tanggung menggaungkan teriakan-teriakan kurang jelas. Beberapa terlihat menggunakan kesempatan untuk belajar merokok. Yang sisanya, musti puas bergelantungan dengan mempercayakan hidupnya pada pijakan tipis di atas plat nomor mikrolet meski sedikit was-was. Rupa-rupa bendera berkibar, baik yang dipegang oleh penumpang motor maupun mikrolet.

Ada apa di Pasar Minggu dengan kemacetannya yang tidak terasa wajar malam itu? Nampaknya entah di bagian sebelah mana Pasar Minggu sebuah acara tengah digelar. Ke sanalah rupanya para manusia pembawa bendera itu menuju. Yang jadi masalah, pada putaran di muka pasar, sebelum melintas rel, sebagian badan jalan dipakai untuk tempat parkir kendaraan roda dua. Parkir. Badan jalan. Pasar Minggu. 

Bulan lalu, juga pada suatu hari di Sabtu malam, sepanjang ruas jalan Supomo yang menuju ke Manggarai, mulai dari muka Viky Sianipar Music Centre hingga Hotel Harris mendadak berubah jadi tempat parkir kendaraan roda dua bagi jamaah yang tengah mengadakan pengajian.

Amalia Sekarjati, yang saat itu tengah duduk di samping saya di atas taksi yang berjalan lambat, meraih handphone-nya lalu menulis status di account twitternya:
"Ibaratnya mau masuk surga, tapi menciptakan neraka bagi manusia lain."

Implementasi Pancasila dan segala buitr-butirnya, adalah omong kosong.

Di Cikeusik, pembantaian besar-besaran akan umat Ahmadiyah terjadi. Hampir di seluruh bagian di Indonesia, mereka dikucilkan, diteror, hendak 'dibasmi'.
Di Bali, ritual keagamaan umat Hindu terancam oleh RUU Pornografi dan Pornoaksi-yang telah disahkan jadi UU-yang isinya mengatur perihal tata cara berbusana masyarakat.
Di seluruh pelosok tanah air, yang namanya mengurus surat perijinan untuk mendirikan tempat ibadah bagi umat selain agama mayoritas, susahnya setengah mati. Bahkan yang bangunannya sudah berdiri saja bisa digugat dan ditutup oleh masyarakat sipil.
Imlek, hari besar masyarakat Tionghoa-yang rata-rata beragama minoritas-baru resmi ditetapkan jadi hari libur nasional pada tahun 2003.

Kembali ke cerita awal, di putaran Pasar Minggu, Rio Feroli alias Gigi turun dari mobil. Sebelum turun ia sempat bilang: "Maafin umat Islam ya temen-temen." Dan pintu pun ditutupnya sembari berteriak: "Assalamualaikum!"

Sampai di sini, adakah umat dari agama tertentu yang merasa terdiskreditkan? Saya harap tidak. Lagipula merasa demikian juga tidak akan membuat perubahan. Namun juga jangan lalu memaki agama tertentu dan merasa agama atau keyakinan anda lebih (paling) benar.

Di sebelah rumah saya setiap hari Rabu berlangsung pengajian yang speakernya mengarah langsung tepat ke rumah saya. Tapi di Manado, jadwal kebaktian dan kegiatan gereja juga diumumkan dengan speaker yang tidak kalah besar suaranya dengan speaker yang biasa dipakai untuk 'menyiarkan' secara langsung pengajian di Jakarta.

Pernah mengalami kemacetan karena di tengah ruas jalan yang anda lewati berdiri beberapa orang yang memegang jaringan ikan sembari meminta sedekah untuk pembangunan mesjid setempat? Tenang, di Manado, anda akan menemukan hal yang kurang lebih serupa. Yang beda, dananya untuk gereja.

Tersinggung karena mendengar agamanya dijelek-jelekkan oleh pemuka agama lain di muka umatnya? Ibu saya pernah mendengar pengajian di dekat rumah menyebut-nyebut "Umat Nasrani" beberapa kali dalam nada yang kurang menyenangkan. Sementara di sebuah gereja di Jawa Tengah pada kebaktian Minggu beberapa tahun lalu, Pendetanya jelas-jelas menjelekkan agama Islam. Dan teman saya yang merupakan umat agama tersebut kebetulan sedang ikut kebaktian.

Tidak nyaman dengan stereotype yang beredar mengenai suku yang mendarah daging serta agama yang anda anut? Coba lihat lagi, berapa kali anda melakukan hal yang sama pada suku serta agama lain di luar suku dan agama anda. Orang Tionghoa, merasa jadi kaum marjinal di Indonesia? Sebal karena dianggap sombong dan eksklusif? Sebelum naik darah, coba periksa, masihkah anda menyebut orang yang tidak sesuku dengan sebutan 'Tiko'? Masihkan anda ingin menjaga garis keturunan murni dengan melarang-larang pergaulan anak anda sehingga mereka hanya boleh bergaul dan menjalin hubungan dengan yang sesuku?

Mobil kembali melaju. Si pengemudi masih kesal dengan kemacetan yang dianggapnya sia-sia.
Kata-kata tanya keluar dari bibirnya: "Kenapa ya?"; "Gimana ya?"; "Ck."
Saya jadi ikut berpikir.
"Masalah macam ini gak akan pernah selesai sebelum Indonesia punya Presiden yang agamanya non-Muslim."
Ia yang duduk di belakang kemudi hanya diam. Saya tahu heningnya menandakan ketidaksetujuan akan yang saya ungkapkan. Tapi kalimat saya memang belum selesai.
"Masalahnya, Indonesia bisa punya Presiden yang agamanya non-Muslim itu ga akan pernah kejadian."
"Good conclusion." Baru si pengemudi tersenyum setuju.

Bagaimana pun, saya harap apa yang saya katakan tidak terbukti. Saya harap suatu hari nanti, Bhinneka Tunggal Ika bisa menjelma dalam kehidupan sehari-hari seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Yang namanya Pancasila bukan cuma jadi sekedar konsep indah nan ciamik, tapi benar benar diimani serta diamini oleh seluruh pemegang KTP Indonesia. Semoga. Utopis? Yo wis.

Wednesday, June 08, 2011


So yeah, let's close the distance with our closeness.
i close you,

Wednesday, May 25, 2011

welcome back, MDP


MDP is coming back. Take over my life, rule my world. Yes, this is such a perfect timing. Thank you!

Trouble sleeping, feeling tired (even exhausted) all the time, having too many things in mind, having twice period time in a month, feeling blue most of the times, having suicidal thought, suffered from anemia.

And i dont really wanna talk about it, to be honest. But maybe you should know. Because I don't wanna sounds like a self centered who's looking for more and more love and attention. No, i'm not.

i just want peace, here, in my mind.

Wednesday, May 04, 2011

the answer to this feelings


"I used to love to write. As a child I used to write all the time.
I loved to write up until the second I got my first professional writing job.
It turns out it’s not that I hate to write.

I hate, simply, to work.
I just hate to work, period.
I am profoundly slothful.
Practically inert.
I have no energy.
I never have.
I just have no desire to be productive.
Now that I realize I don’t hate to write, that I just hate to work, it makes writing easier."

Fran Lebowitz

Saturday, April 30, 2011

Perempuan itu tidak pandai mencerna emosi.

Butuh ratusan menit, untuk sekedar mengakui.

duduk gemetar, melangkah pun gentar
air matanya sudah makin sulit jatuh, padahal ia tak lagi tangguh
perasaan makin tak patuh, malah main main dengan metabolisme yang makin rapuh
gigi yang gemeretak memaksa jari jari bergerak
lutut yang lemas tanpa disengaja bergoyang bebas
hati kebas, dalamnya yang luas, berdesir desir seperti terkena ayunan kipas
intensitas menghisap makin tak terbatas
paru paru sudah lama jadi asbak yang sigap menampung asap
mau marah sampai ingin muntah
dicobanya pasrah
dengan berserah
tapi tentram belum juga singgah

Perempuan itu memang tidak pandai mencerna emosi.

Thursday, April 28, 2011

Memory

Bandara.
Wajahmu sendu membingkai sepasang mata kecil yang sembap. Ragamu mungkin siap berangkat, namun hatiku tidak rela melepas.
Aku tidak bernafsu untuk mencecarmu dengan kata. Karena lidah ini terlalu kelu untuk bisa bicara. Maka peganglah tanganku dan rasakan lembutnya sentuhan yang menahanmu untuk beranjak dari negeri ini.
Namun genggamanmu seperti hendak mengajarku untuk mengerti. Usapan halus itu mengatakan: "Aku harus pergi."
Maka aku memberanikan diri untuk bersuara. Karena aku tahu bahwa kamu tidak akan mulai kalau aku tidak membuka.
"Kalau ada satu hal dari aku yang bisa kamu sertakan dalam perjalananmu, apakah itu?"
Aku berharap kamu akan menjawab: "Kamu."
Kamu tersenyum tipis. Begitu samar sampai aku takut keliru menafsirkan tarikan bibirmu itu sebagai ekspresi sinis yang berusaha kamu sembunyikan.
"Bukan kamu, bukan sweater kamu, bukan jurnal harian kamu, bukan itu semua, Ling."
Aku terhenyak. Kenapa bukan sweater ini, yang selalu kamu minta untuk aku pakai, karena kamu suka bagaimana aku terlihat ketika aku menggunakannya. Mengapa bukan jurnal harianku yang selalu ingin kamu baca karena selalu penasaran mengenai isinya? Dan mengapa bukan aku? Ini aku. Aku. Kenapa kamu tidak menginginkan aku?
"Lalu apa?" Tanyaku sembari merunduk lemah karena hati ini terlalu lelah menahan tangis yang ingin pecah.
"Memori." Jawabmu singkat. Masih mengenggam tanganku dan sesekali mengusapnya lembut.
"Sweater kamu hanya akan mampu menahan harum tubuhmu selama dua hari. Sehabis itu aromamu lenyap dan aku akan lebih merasa kesepian. Jurnalmu hanya bercerita mengenai kamu pada saat-saat tertentu. Mungkin itu malah membuatku cemburu atau terlampau haru. Dan kehadiran kamu, malah akan membuat segalanya terasa semakin berat. Toh kamu tau kenapa aku memutuskan untuk pergi kan? Because no matter how much two people might love each other...."
"Sometimes they just can't be together...." Aku meneruskan kalimatmu.
"But why memory instead of me?" Aku mencoba mendesak dalam deraian air mata yang tak lagi bisa terbendung.
"Because memory can't hurts me."
***
Bersamaan dengan pesawatmu yang lepas landas, cerita kita yang menyakitkan pun kandas. Aku melepas, karena kamu memang sudah seharusnya bebas.
***

*PS:
"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? 
Karena kau menulis. 
Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
Pramoedya A. Toer
**untuk ADSM

Wednesday, March 23, 2011

masih begitu

satu dua hisap pengharapan yang disempurnakan dengan beberapa tenggak ciu
adalah implementasi dari merindu
di sudut sepasang mata sembap akan kau temukan haru
yang tak terbendung, selalu memaksa naik meski ditahan dalam lubuk terjauh
kita ini manusia manusia rapuh
mencoba kuat walau tiap kali dideru
menahan sakit tertusuk sembilu
menanggung perih juga malu
yang cukup beruntung akan menemukan sebuah sandaran bagi kepala untuk ditaruh
yang agak buntung menemukan diri cuma jadi benalu
yang paling mujur adalah berdua menghisap candu
sampai maut datang, bukannya remuk, tapi jadi sembuh.

Sunday, March 20, 2011

Sejarah adalah Sekarang 5 (Bulan Film Nasional 2011)

Kineforum, bioskop alternatif non komersil yang dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta dan para relawan muda, kembali menggelar Bulan Film Nasional sepanjang Maret ini.


Masih mengusung tema "Sejarah Adalah Sekarang", dalam tahun kelima ini seperti biasa para penikmat film Indonesia bisa menyaksikan film-film nasional berkualitas dari jaman ke jaman.
45 film yang diputar terbagi dalam beberapa program besar, yaitu:
  • Body of Works (Usmar Ismail); 
  • Dari Gambar Tangan ke Layar Lebar; 
  • Superhero; 
  • Bukan Sekedar Profesi; 
  • Warna-Warni Perempuan; 
  • Peran Pemeran; 
  • Film Anak Indonesia; 
  • Festival Film 80-an (Film Keluarga); 
  • Terekam, Terdengar Terlihat.

Sementara itu disamping pemutaran film, rangkaian acara lain yang juga dapat dihadiri oleh pengunjung Kineforum antara lain:
  • Pameran Sejarah Bioskop dan Kebijakan Film di Indonesia. Berlangsung di Galeri Cipta III, setiap hari dari pukul 13.00 hingga 20.00; 
  • Diskusi (Dari Gambar Tangan ke Layar lebar) - sudah lewat; 
  • Klinik Kritik Film - sudah lewat; 
  • Diskusi film-film karya Usmar Ismail bersama Forum Lenteng; 
  • Belajar Bersama (Kerja Kamera dalam film Anak Seribu Pulau); 
  • Konser Musik. Rabu, 30 Maret 2011. Pk. 19.30. HTM: Rp 25.000. Menampilkan tiga band yang mewakilkan tiga 'mood' genre film yang berbeda, yaitu: Bonita & The Hus Band (Drama), Kelelawar Malam (Horror), Notturno (Noir). Pada hari yang sama, pukul 17.00, akan diadakan pemutaran perdana "Semalam di Rumah Bonita", karya paul Agusta.

Untuk mengunduh jadwal lengkap pemutaran film serta rangkaian acara, silakan klik di sini.

Pada tahun ini, salah satu hal yang menjadi kendala adalah kondisi beberapa film yang memang secara usia sudah cukup tua. Sehingga pihak Kineforum pun merasa perlu untuk terlebih dahulu meminta maaf apabila terjadi gangguan dalam pemutaran yang mengakibatkan film tidak bisa dinikmati secara optimal.
Memang harus diakui bahwa kondisi penyimpanan dan pengarsipan film di Indonesia belum begitu baik.
Maka dari itu, dengan adanya event Bulan Film Nasional ini, diharapkan masyarakat penikmat film Indonesia bisa lebih peduli mengenai pengarsipan film-film Nasional.

Kineforum sendiri berlokasi dalam kompleks TIM (Taman Ismail Marzuki), JL. Cikini Raya no. 73. Letaknya persis di belakang Galeri Cipta III. Dengan kapasitas 45 kursi, setiap harinya pemutaran film berlangsung tiga kali. Masing-masing pukul 14.15, 17.00, dan 19.30. 
Namun memasuki minggu terakhir (terhitung semenjak Rabu, 24 Maret 2011 hingga Rabu, 31 Maret 2011) Bulan Film Nasional, Kineforum menambah satu venue pemutaran, yaitu di Studio I XXI TIM, yang memiliki kapasitas 139 kursi. Hal ini dilakukan untuk memberikan lebih banyak kesempatan bagi masyarakat yang ingin menikmati film-film Nasional terpilih, yang sudah barang tentu berkualitas.

Perlu dicatat juga bahwa penonton tidak dikenakan biaya atas karcis, alias gratis. Tapi untuk mendapatkan karcis, calon penonton diharap datang satu jam sebelum pemutaran, agar tidak kehabisan. Setelahnya, calon penonton yang telah mendapatkan karcis diharapkan untuk datang ke studio tepat waktu serta menonton film secara penuh dari awal sampai akhir, agar tidak mengganggu penonton yang lain. Sebab selain menonton, di Kineforum kita belajar untuk menjadi penonton yang baik, dengan film-film yang baik pula.

Tunjukkan kecintaan serta dukungan Anda akan Perfilman Nasional dengan menghadiri Event Bulan Film Nasional, Sejarah Adalah Sekarang 5, di Kineforum. Karena nasionalisme tumbuh sebab dipupuk dari muda, serta dimulai dengan hal yang paling kecil, bisa jadi, dari menonton film.

p.s.: Memasuki hari keduapuluh masa Bulan Film Nasional, postingan ini mungkin terlihat sangat terlambat. But since some says better late than never (#ngeles), i still insist to post this.

Tuesday, March 15, 2011

win the battle, come home soon

a cigarette slipped between my left hand's fingers
i let myself swing to the tune
as the smokes slowly spread into my lungs and filled my head, we met in my thoughts
i see you, you see me.
we're running, walking, slowly drifting
apart by miles, the situation never seemed to take sides on feelings
our egos and prides, blocks the way
there are times when it's mine, and maybe now it's yours.
with your physical attendance,
a nice warm evening conversation would be lovely.
with a cup of coffee, or maybe tea.
you'll smoke, and i'll delightfully watch.
so please, talk, talk, talk... i won't feel bored, even for a glance
win the battle, come home soon.

Sunday, March 13, 2011

disappointment has a name

"If only you could turn back the time and change anything ever happened back there, will you?"

Setiap kali dihadapkan pada pertanyaan ini saya selalu menjawab: "Tidak."
Sebab saya yakin dan percaya, segala hal baik baik serta (terutama) yang buruk, yang terjadi di masa lalu saya lah yang membentuk dan menjadikan saya menjadi pribadi yang seperti ini.

Namun bila subjek pertanyaannya diganti, maka jawaban saya akan berbeda.
I never want the situation to be different for me. But if only i could turn back the time and make it up for someone else, the most precious person in my life. I'd totally do it. Even if that means that i won't be here.

"You're talking shit again.
Disappointment has a name, its heartbreak, heartbreak warfare." Mayer, John

Saturday, March 05, 2011

pagi sendu

Halo, selamat pagi.
Hari ini dimulai sendu sekali.
Hujan rintik membasahi.
Dan sama seperti Rain yang dalam "Smoking With God" ingin mengajakMu merokok di balkon lantai dua, aku pun mau.
Seharian bersama bicara berdua, atau saling diam, cukup mensyukuri kehadiran masing-masing, di balkon lantai dua, dengan sebuah jendela yang selalu terbuka, tempat asap kita bermuara.
Halo, mungkin aku rindu, rindu terlalu, hingga terlarut dalam haru.

*Sedikit banyak juga terinspirasi dari karya Rain Chudori - "Smoking With God"

Friday, March 04, 2011

sisih


untuk semua yang merasa tersisih along the way.
sorry.

Saturday, February 26, 2011

terlalu banyak Tuhan

Ia lalu pergi. Mengapa?

"Karena terlalu banyak Tuhan dalam percakapan kita."
"Apa salahnya?"
"Justru karena itu terlalu benar.."

Dan mencengkram lengannya erat-erat bukanlah jalan keluar. Ia tidak akan tertahan. Itu tidak akan membawa perubahan. Namun dengan mencengkramnya sekuat tenaga setidaknya ada kelegaan yang saya rasakan.
Bahwa saya tahu, saya pernah berusaha, sekuat tenaga untuk mempertahankan, meski akhirnya itu gagal.

Thursday, February 24, 2011

hak tubuhku

Dunia ini, entah bagaimana mulainya, terkonstruksi jadi dunia pria.
Mungkin salah kitab Taurat yang menuliskan bahwa Adam dicipta lebih dahulu dari Hawa. Dan Hawa tercipta karena Adam terlihat kesepian. Hawa adalah tokoh yang dihadirkan di tengah perjalanan, development character. Fungsinya hanya sebagai pelengkap. Agar Adam tidak sendirian, agar Adam punya tanggungan. Kalau di film, jelas bahwa peran Hawa hanyalah sebagai Artis Pendukung Wanita.

Perempuan tidak pernah jadi Nabi, atau tokoh pemuka agama besar layaknya Yesus, Muhammad, atau Siddharta Gautama. Dengan budaya patriarkhi yang lebih lazim dari matriarkhi. Dengan suami yang notabene lelaki, yang diamini serta diimani sebagai kepala dari sebuah keluarga, perempuan hampir selalu jadi warga kelas dua dalam dunia dimana lelaki berkuasa.

Seperti tidak punya hak akan tubuh mereka serta anak-anak yang dilahirkannya, itulah perempuan. Setelah sembilan bulan dalam kandungan, anak yang lahir lalu jadi anak Bapaknya. Terima kasih kepada budaya patriarkhi yang jauh lebih marak di seluruh belahan dunia. Oleh karenanya, anak-anak kita akan dimateraikan berdasar nama keluarga Bapaknya. Nama keluarga lelaki. Yang tangguh, yang berkuasa.

Yang melawan dengan mengikut garis keturunan Ibu, dianggap membelot dan tidak wajar. Dipandang sebelah mata, atau digunjingkan dibelakang. Nama Bapak lantas digunakan karena itu jauh lebih memudahkan.

Atas tubuh nan elok rupawan ini pun kita tertawan kewajiban. Harus menjaga, rapi-rapi, baik-baik, sehat-sehat, harum-harum, bersih-bersih. Saudaraku laki-laki merajah tubuhnya dengan tinta permanen. Tidak pernah ada pembicaraan lebih serius daripada geleng-geleng kepala dan permakluman yang semata dianggap sebagai kenakalan remaja.

Tapi aku, bahkan ketika niat itu baru sekelebat terlihat, habis-habisan dikuliahi panjang lebar tentang kodrat sebagai perempuan.
Bahkan atas tubuhku sendiri, aku telah kehilangan hak, dimulai pada hari aku terlahir sebagai perempuan.
Kita wajib melawan, bukan untuk gagah-gagahan, bukan untuk mencari apalagi jadi lawan, tapi untuk mencapai kesetaraan.

Semoga Tuhan memantapkan jalan bagi perempuan untuk mencapai keseimbangan.

Atas kodrat, yang tak bisa banyak kulawan, aku tetap akan jadi perempuan, yang membelot, yang meradang, yang menerjang.
Sampai tinggi kita sejajar, dan mata kita bertemu. Agar para lelaki itu tahu bahwa kita sama sama tangguh, kita sama-sama mampu, dan untuk tubuhku, aku berhak atasnya.

Sunday, February 20, 2011

my precious...

"Lo kapan mau nikah?"
"Kemaren."
-
"I think you're the most beautiful girl from the first time i saw you. But I'm married."
-
"Jangan bilang gue gak dapet sendok."
"Harusnya kalo dia profesional sih udah dia kasih."
-
"But I'm a she-male.."
-
"Abis duduk di bangku goyang, gue tiduran di aspal."
-
"DADA gue robek. Tuker dong."
-
"Maklumin gue dong.."
-
"Gue sayang deh sama lo..."
-
"Kok abis gue perawanin lo gak pernah ngabarin sih?"
"Anj*ng."
-
"Hello I love you, won't you tell me your name?"
-
"Gue belom pernah nonton 3D, film luarnya udah keburu gak ada duluan."
-
"Coba lo kayak gitu, gue pasti suka."
-
"Rumah lo di mana?"
"Kemayoran."
"Baru apa lama?"
"..."
-
"Mbak, dapet salam dari yang itu. Namanya siapa?"
-
Great time with great company. Precious.

Wednesday, February 16, 2011

masalahnya:
bukan karena kurang mengerti atau tidak sadar diri
justru karena terlalu paham dan sangat menyadari kapasitas

Friday, January 28, 2011

setia

Rasanya ingin saya mengkonstruksi ulang esensi dan makna yang terkandung dibalik kata 'setia'.

Sebab bagaimana kalau kesetiaan itu bukan buah dari tulusnya pengabdian?
Bagaimana kalau kesetiaan itu hanyalah sebuah keterpaksaan, yang lahir dari ketiadaan akan pilihan lain?
Bagaimana kalau kesetiaan itu hanyalah masalah kebiasaan?
Maka bisakah saya bilang bahwa sesungguhnya setia adalah sebuah hal yang biasa saja?

*Terinspirasi dari statement Yosep Anggi Noen, salah satu sutradara dokumenter Working Girls.

Monday, January 24, 2011

chega

s: "I'm thinking about making a passport"
x: "Oh yeah. are you planning on going somewhere?"
s: "Well yeah"
x: "So where that would be?"
s: "Timor Leste"
x: "Well.."

kembali

Setelah melewati perjuangan penuh amarah yang teramat emosional selama sebelas hari, penjelasan berulang-ulang serta sedikit banyak bentakan yang terlepas pada delapan customer service officer sebuah provider penyedia layanan internet terkemuka di Indonesia, serta kurang lebih Rp.210.000,- yang terbuang..
Akhirnya saya kembali.
Semoga kehadiran saya ini bukan malah jadi mimpi buruk bagi anda sekalian.