Saturday, February 26, 2011

terlalu banyak Tuhan

Ia lalu pergi. Mengapa?

"Karena terlalu banyak Tuhan dalam percakapan kita."
"Apa salahnya?"
"Justru karena itu terlalu benar.."

Dan mencengkram lengannya erat-erat bukanlah jalan keluar. Ia tidak akan tertahan. Itu tidak akan membawa perubahan. Namun dengan mencengkramnya sekuat tenaga setidaknya ada kelegaan yang saya rasakan.
Bahwa saya tahu, saya pernah berusaha, sekuat tenaga untuk mempertahankan, meski akhirnya itu gagal.

Thursday, February 24, 2011

hak tubuhku

Dunia ini, entah bagaimana mulainya, terkonstruksi jadi dunia pria.
Mungkin salah kitab Taurat yang menuliskan bahwa Adam dicipta lebih dahulu dari Hawa. Dan Hawa tercipta karena Adam terlihat kesepian. Hawa adalah tokoh yang dihadirkan di tengah perjalanan, development character. Fungsinya hanya sebagai pelengkap. Agar Adam tidak sendirian, agar Adam punya tanggungan. Kalau di film, jelas bahwa peran Hawa hanyalah sebagai Artis Pendukung Wanita.

Perempuan tidak pernah jadi Nabi, atau tokoh pemuka agama besar layaknya Yesus, Muhammad, atau Siddharta Gautama. Dengan budaya patriarkhi yang lebih lazim dari matriarkhi. Dengan suami yang notabene lelaki, yang diamini serta diimani sebagai kepala dari sebuah keluarga, perempuan hampir selalu jadi warga kelas dua dalam dunia dimana lelaki berkuasa.

Seperti tidak punya hak akan tubuh mereka serta anak-anak yang dilahirkannya, itulah perempuan. Setelah sembilan bulan dalam kandungan, anak yang lahir lalu jadi anak Bapaknya. Terima kasih kepada budaya patriarkhi yang jauh lebih marak di seluruh belahan dunia. Oleh karenanya, anak-anak kita akan dimateraikan berdasar nama keluarga Bapaknya. Nama keluarga lelaki. Yang tangguh, yang berkuasa.

Yang melawan dengan mengikut garis keturunan Ibu, dianggap membelot dan tidak wajar. Dipandang sebelah mata, atau digunjingkan dibelakang. Nama Bapak lantas digunakan karena itu jauh lebih memudahkan.

Atas tubuh nan elok rupawan ini pun kita tertawan kewajiban. Harus menjaga, rapi-rapi, baik-baik, sehat-sehat, harum-harum, bersih-bersih. Saudaraku laki-laki merajah tubuhnya dengan tinta permanen. Tidak pernah ada pembicaraan lebih serius daripada geleng-geleng kepala dan permakluman yang semata dianggap sebagai kenakalan remaja.

Tapi aku, bahkan ketika niat itu baru sekelebat terlihat, habis-habisan dikuliahi panjang lebar tentang kodrat sebagai perempuan.
Bahkan atas tubuhku sendiri, aku telah kehilangan hak, dimulai pada hari aku terlahir sebagai perempuan.
Kita wajib melawan, bukan untuk gagah-gagahan, bukan untuk mencari apalagi jadi lawan, tapi untuk mencapai kesetaraan.

Semoga Tuhan memantapkan jalan bagi perempuan untuk mencapai keseimbangan.

Atas kodrat, yang tak bisa banyak kulawan, aku tetap akan jadi perempuan, yang membelot, yang meradang, yang menerjang.
Sampai tinggi kita sejajar, dan mata kita bertemu. Agar para lelaki itu tahu bahwa kita sama sama tangguh, kita sama-sama mampu, dan untuk tubuhku, aku berhak atasnya.

Sunday, February 20, 2011

my precious...

"Lo kapan mau nikah?"
"Kemaren."
-
"I think you're the most beautiful girl from the first time i saw you. But I'm married."
-
"Jangan bilang gue gak dapet sendok."
"Harusnya kalo dia profesional sih udah dia kasih."
-
"But I'm a she-male.."
-
"Abis duduk di bangku goyang, gue tiduran di aspal."
-
"DADA gue robek. Tuker dong."
-
"Maklumin gue dong.."
-
"Gue sayang deh sama lo..."
-
"Kok abis gue perawanin lo gak pernah ngabarin sih?"
"Anj*ng."
-
"Hello I love you, won't you tell me your name?"
-
"Gue belom pernah nonton 3D, film luarnya udah keburu gak ada duluan."
-
"Coba lo kayak gitu, gue pasti suka."
-
"Rumah lo di mana?"
"Kemayoran."
"Baru apa lama?"
"..."
-
"Mbak, dapet salam dari yang itu. Namanya siapa?"
-
Great time with great company. Precious.

Wednesday, February 16, 2011

masalahnya:
bukan karena kurang mengerti atau tidak sadar diri
justru karena terlalu paham dan sangat menyadari kapasitas