Thursday, February 24, 2011

hak tubuhku

Dunia ini, entah bagaimana mulainya, terkonstruksi jadi dunia pria.
Mungkin salah kitab Taurat yang menuliskan bahwa Adam dicipta lebih dahulu dari Hawa. Dan Hawa tercipta karena Adam terlihat kesepian. Hawa adalah tokoh yang dihadirkan di tengah perjalanan, development character. Fungsinya hanya sebagai pelengkap. Agar Adam tidak sendirian, agar Adam punya tanggungan. Kalau di film, jelas bahwa peran Hawa hanyalah sebagai Artis Pendukung Wanita.

Perempuan tidak pernah jadi Nabi, atau tokoh pemuka agama besar layaknya Yesus, Muhammad, atau Siddharta Gautama. Dengan budaya patriarkhi yang lebih lazim dari matriarkhi. Dengan suami yang notabene lelaki, yang diamini serta diimani sebagai kepala dari sebuah keluarga, perempuan hampir selalu jadi warga kelas dua dalam dunia dimana lelaki berkuasa.

Seperti tidak punya hak akan tubuh mereka serta anak-anak yang dilahirkannya, itulah perempuan. Setelah sembilan bulan dalam kandungan, anak yang lahir lalu jadi anak Bapaknya. Terima kasih kepada budaya patriarkhi yang jauh lebih marak di seluruh belahan dunia. Oleh karenanya, anak-anak kita akan dimateraikan berdasar nama keluarga Bapaknya. Nama keluarga lelaki. Yang tangguh, yang berkuasa.

Yang melawan dengan mengikut garis keturunan Ibu, dianggap membelot dan tidak wajar. Dipandang sebelah mata, atau digunjingkan dibelakang. Nama Bapak lantas digunakan karena itu jauh lebih memudahkan.

Atas tubuh nan elok rupawan ini pun kita tertawan kewajiban. Harus menjaga, rapi-rapi, baik-baik, sehat-sehat, harum-harum, bersih-bersih. Saudaraku laki-laki merajah tubuhnya dengan tinta permanen. Tidak pernah ada pembicaraan lebih serius daripada geleng-geleng kepala dan permakluman yang semata dianggap sebagai kenakalan remaja.

Tapi aku, bahkan ketika niat itu baru sekelebat terlihat, habis-habisan dikuliahi panjang lebar tentang kodrat sebagai perempuan.
Bahkan atas tubuhku sendiri, aku telah kehilangan hak, dimulai pada hari aku terlahir sebagai perempuan.
Kita wajib melawan, bukan untuk gagah-gagahan, bukan untuk mencari apalagi jadi lawan, tapi untuk mencapai kesetaraan.

Semoga Tuhan memantapkan jalan bagi perempuan untuk mencapai keseimbangan.

Atas kodrat, yang tak bisa banyak kulawan, aku tetap akan jadi perempuan, yang membelot, yang meradang, yang menerjang.
Sampai tinggi kita sejajar, dan mata kita bertemu. Agar para lelaki itu tahu bahwa kita sama sama tangguh, kita sama-sama mampu, dan untuk tubuhku, aku berhak atasnya.

2 comments:

.pandji putranda February 25, 2011 at 10:38 PM  

.tattoo juga butuh emansipasi. sekian. lanjutkan :p

shirebel February 26, 2011 at 12:34 AM  

haha. sipp ndji!