Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2011
Perempuan itu tidak pandai mencerna emosi.

Butuh ratusan menit, untuk sekedar mengakui.

duduk gemetar, melangkah pun gentar
air matanya sudah makin sulit jatuh, padahal ia tak lagi tangguh
perasaan makin tak patuh, malah main main dengan metabolisme yang makin rapuh
gigi yang gemeretak memaksa jari jari bergerak
lutut yang lemas tanpa disengaja bergoyang bebas
hati kebas, dalamnya yang luas, berdesir desir seperti terkena ayunan kipas
intensitas menghisap makin tak terbatas
paru paru sudah lama jadi asbak yang sigap menampung asap
mau marah sampai ingin muntah
dicobanya pasrah
dengan berserah
tapi tentram belum juga singgah

Perempuan itu memang tidak pandai mencerna emosi.

Memory

Bandara.
Wajahmu sendu membingkai sepasang mata kecil yang sembap. Ragamu mungkin siap berangkat, namun hatiku tidak rela melepas.
Aku tidak bernafsu untuk mencecarmu dengan kata. Karena lidah ini terlalu kelu untuk bisa bicara. Maka peganglah tanganku dan rasakan lembutnya sentuhan yang menahanmu untuk beranjak dari negeri ini.
Namun genggamanmu seperti hendak mengajarku untuk mengerti. Usapan halus itu mengatakan: "Aku harus pergi."
Maka aku memberanikan diri untuk bersuara. Karena aku tahu bahwa kamu tidak akan mulai kalau aku tidak membuka.
"Kalau ada satu hal dari aku yang bisa kamu sertakan dalam perjalananmu, apakah itu?"
Aku berharap kamu akan menjawab: "Kamu."
Kamu tersenyum tipis. Begitu samar sampai aku takut keliru menafsirkan tarikan bibirmu itu sebagai ekspresi sinis yang berusaha kamu sembunyikan.
"Bukan kamu, bukan sweater kamu, bukan jurnal harian kamu, bukan itu semua, Ling."
Aku terhenyak. Kenapa bukan sweater ini, yang selalu…