Thursday, April 28, 2011

Memory

Bandara.
Wajahmu sendu membingkai sepasang mata kecil yang sembap. Ragamu mungkin siap berangkat, namun hatiku tidak rela melepas.
Aku tidak bernafsu untuk mencecarmu dengan kata. Karena lidah ini terlalu kelu untuk bisa bicara. Maka peganglah tanganku dan rasakan lembutnya sentuhan yang menahanmu untuk beranjak dari negeri ini.
Namun genggamanmu seperti hendak mengajarku untuk mengerti. Usapan halus itu mengatakan: "Aku harus pergi."
Maka aku memberanikan diri untuk bersuara. Karena aku tahu bahwa kamu tidak akan mulai kalau aku tidak membuka.
"Kalau ada satu hal dari aku yang bisa kamu sertakan dalam perjalananmu, apakah itu?"
Aku berharap kamu akan menjawab: "Kamu."
Kamu tersenyum tipis. Begitu samar sampai aku takut keliru menafsirkan tarikan bibirmu itu sebagai ekspresi sinis yang berusaha kamu sembunyikan.
"Bukan kamu, bukan sweater kamu, bukan jurnal harian kamu, bukan itu semua, Ling."
Aku terhenyak. Kenapa bukan sweater ini, yang selalu kamu minta untuk aku pakai, karena kamu suka bagaimana aku terlihat ketika aku menggunakannya. Mengapa bukan jurnal harianku yang selalu ingin kamu baca karena selalu penasaran mengenai isinya? Dan mengapa bukan aku? Ini aku. Aku. Kenapa kamu tidak menginginkan aku?
"Lalu apa?" Tanyaku sembari merunduk lemah karena hati ini terlalu lelah menahan tangis yang ingin pecah.
"Memori." Jawabmu singkat. Masih mengenggam tanganku dan sesekali mengusapnya lembut.
"Sweater kamu hanya akan mampu menahan harum tubuhmu selama dua hari. Sehabis itu aromamu lenyap dan aku akan lebih merasa kesepian. Jurnalmu hanya bercerita mengenai kamu pada saat-saat tertentu. Mungkin itu malah membuatku cemburu atau terlampau haru. Dan kehadiran kamu, malah akan membuat segalanya terasa semakin berat. Toh kamu tau kenapa aku memutuskan untuk pergi kan? Because no matter how much two people might love each other...."
"Sometimes they just can't be together...." Aku meneruskan kalimatmu.
"But why memory instead of me?" Aku mencoba mendesak dalam deraian air mata yang tak lagi bisa terbendung.
"Because memory can't hurts me."
***
Bersamaan dengan pesawatmu yang lepas landas, cerita kita yang menyakitkan pun kandas. Aku melepas, karena kamu memang sudah seharusnya bebas.
***

*PS:
"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? 
Karena kau menulis. 
Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
Pramoedya A. Toer
**untuk ADSM

2 comments:

.pandji putranda April 29, 2011 at 9:09 AM  

.luar biasa. gw share di fb ya, shir...

shirebel April 29, 2011 at 8:22 PM  

aduh, ndji. thank you!