Saturday, April 30, 2011

Perempuan itu tidak pandai mencerna emosi.

Butuh ratusan menit, untuk sekedar mengakui.

duduk gemetar, melangkah pun gentar
air matanya sudah makin sulit jatuh, padahal ia tak lagi tangguh
perasaan makin tak patuh, malah main main dengan metabolisme yang makin rapuh
gigi yang gemeretak memaksa jari jari bergerak
lutut yang lemas tanpa disengaja bergoyang bebas
hati kebas, dalamnya yang luas, berdesir desir seperti terkena ayunan kipas
intensitas menghisap makin tak terbatas
paru paru sudah lama jadi asbak yang sigap menampung asap
mau marah sampai ingin muntah
dicobanya pasrah
dengan berserah
tapi tentram belum juga singgah

Perempuan itu memang tidak pandai mencerna emosi.

0 comments: