Skip to main content
Perempuan itu tidak pandai mencerna emosi.

Butuh ratusan menit, untuk sekedar mengakui.

duduk gemetar, melangkah pun gentar
air matanya sudah makin sulit jatuh, padahal ia tak lagi tangguh
perasaan makin tak patuh, malah main main dengan metabolisme yang makin rapuh
gigi yang gemeretak memaksa jari jari bergerak
lutut yang lemas tanpa disengaja bergoyang bebas
hati kebas, dalamnya yang luas, berdesir desir seperti terkena ayunan kipas
intensitas menghisap makin tak terbatas
paru paru sudah lama jadi asbak yang sigap menampung asap
mau marah sampai ingin muntah
dicobanya pasrah
dengan berserah
tapi tentram belum juga singgah

Perempuan itu memang tidak pandai mencerna emosi.

Comments

Popular posts from this blog

pagi sendu

Halo, selamat pagi.
Hari ini dimulai sendu sekali.
Hujan rintik membasahi.
Dan sama seperti Rain yang dalam "Smoking With God" ingin mengajakMu merokok di balkon lantai dua, aku pun mau.
Seharian bersama bicara berdua, atau saling diam, cukup mensyukuri kehadiran masing-masing, di balkon lantai dua, dengan sebuah jendela yang selalu terbuka, tempat asap kita bermuara.
Halo, mungkin aku rindu, rindu terlalu, hingga terlarut dalam haru.

*Sedikit banyak juga terinspirasi dari karya Rain Chudori - "Smoking With God"
stressed out from eating too much
stressed out from not eating enough
stressed out from thinking too much
stressed out from not caring enough
how can I be the best version of myself if I don't even have the ability to think straight
kalo sepenggal kecurigaan kita ramu dengan benar (benar) maka asumsi asumsi yang kadung mematangkan diri bukannya tidak bisa berubah jadi kenyataan