Wednesday, June 29, 2011

seputar s******

Seputar bimbingan:
"Kemane aje lu?"

"Lah, baru sampe sini lu?"

"Bahan yang gue kasih, yang 'Cognitive Semiotics' udah lu baca belom?"
"Errr, yang mana ya, Pak?"
"Hadeeeeh, sini gue kasi lagi."
"..."
*Referensi udah segudang udah mau nangis nih.

Seputar setres.
Di Gramedia SMS. Sembari menunggu Indra cari buku. Dini curhat seputar bimbingan. Cape. Duduk. Bengong.
"Gimana ya Din..." *menghela napas
Tiba tiba mata tertuju pada sebuah buku berjudul "YA ALLAH TOLONG AKU."
Men.

Curhat Dini berlanjut. Klimaks. Aduh kenapa harus ada yang namanya skripsi.
Tepat ketika pikiran tersebut terlintas sebuah buku berjudul "WHY" tertangkap mata. 

HUFTZ.

Sunday, June 26, 2011

hari ke-tujuh
yang paling dibenci dalam seminggu

kosong. saat yang lain merasa penuh
sakit. saat yang lain malah sembuh
tidak bisa berhenti mengeluh
dipenjara jenuh
rindu pada yang tengah jauh

muak penat pedih, saling menumbuk, bertumpuk


seandainya yang ke-tujuh mampu terbunuh dengan suara sapi melenguh
ah, seperti tak ada cara yang lebih ampuh


hanya dapat berharap terbangun pada suatu minggu, dan cinta akan itu diam diam tumbuh

Monday, June 20, 2011

judge yourself

*Baca tulisan ini dengan kepala dingin dan hati tenang ya.
Tidak ada maksud untuk menyinggung, menyerang, apalagi mempersalahkan atau mengkambinghitamkan pihak manapun.
Inilah buah dari kegundahan yang telah lama bersarang dalam hati.*

Pasar Minggu. Pukul 21.00 lewat, Sabtu malam.
Jalan utama dipenuhi kendaraan padat merayap. Rata-rata motor yang berseliweran dikendarai lelaki, baik tua dan muda usia yang berbaju koko, lengkap dengan peci dan sarung. Sementara di atas beberapa mikrolet sewaan, sekitar sepuluh anak tanggung menggaungkan teriakan-teriakan kurang jelas. Beberapa terlihat menggunakan kesempatan untuk belajar merokok. Yang sisanya, musti puas bergelantungan dengan mempercayakan hidupnya pada pijakan tipis di atas plat nomor mikrolet meski sedikit was-was. Rupa-rupa bendera berkibar, baik yang dipegang oleh penumpang motor maupun mikrolet.

Ada apa di Pasar Minggu dengan kemacetannya yang tidak terasa wajar malam itu? Nampaknya entah di bagian sebelah mana Pasar Minggu sebuah acara tengah digelar. Ke sanalah rupanya para manusia pembawa bendera itu menuju. Yang jadi masalah, pada putaran di muka pasar, sebelum melintas rel, sebagian badan jalan dipakai untuk tempat parkir kendaraan roda dua. Parkir. Badan jalan. Pasar Minggu. 

Bulan lalu, juga pada suatu hari di Sabtu malam, sepanjang ruas jalan Supomo yang menuju ke Manggarai, mulai dari muka Viky Sianipar Music Centre hingga Hotel Harris mendadak berubah jadi tempat parkir kendaraan roda dua bagi jamaah yang tengah mengadakan pengajian.

Amalia Sekarjati, yang saat itu tengah duduk di samping saya di atas taksi yang berjalan lambat, meraih handphone-nya lalu menulis status di account twitternya:
"Ibaratnya mau masuk surga, tapi menciptakan neraka bagi manusia lain."

Implementasi Pancasila dan segala buitr-butirnya, adalah omong kosong.

Di Cikeusik, pembantaian besar-besaran akan umat Ahmadiyah terjadi. Hampir di seluruh bagian di Indonesia, mereka dikucilkan, diteror, hendak 'dibasmi'.
Di Bali, ritual keagamaan umat Hindu terancam oleh RUU Pornografi dan Pornoaksi-yang telah disahkan jadi UU-yang isinya mengatur perihal tata cara berbusana masyarakat.
Di seluruh pelosok tanah air, yang namanya mengurus surat perijinan untuk mendirikan tempat ibadah bagi umat selain agama mayoritas, susahnya setengah mati. Bahkan yang bangunannya sudah berdiri saja bisa digugat dan ditutup oleh masyarakat sipil.
Imlek, hari besar masyarakat Tionghoa-yang rata-rata beragama minoritas-baru resmi ditetapkan jadi hari libur nasional pada tahun 2003.

Kembali ke cerita awal, di putaran Pasar Minggu, Rio Feroli alias Gigi turun dari mobil. Sebelum turun ia sempat bilang: "Maafin umat Islam ya temen-temen." Dan pintu pun ditutupnya sembari berteriak: "Assalamualaikum!"

Sampai di sini, adakah umat dari agama tertentu yang merasa terdiskreditkan? Saya harap tidak. Lagipula merasa demikian juga tidak akan membuat perubahan. Namun juga jangan lalu memaki agama tertentu dan merasa agama atau keyakinan anda lebih (paling) benar.

Di sebelah rumah saya setiap hari Rabu berlangsung pengajian yang speakernya mengarah langsung tepat ke rumah saya. Tapi di Manado, jadwal kebaktian dan kegiatan gereja juga diumumkan dengan speaker yang tidak kalah besar suaranya dengan speaker yang biasa dipakai untuk 'menyiarkan' secara langsung pengajian di Jakarta.

Pernah mengalami kemacetan karena di tengah ruas jalan yang anda lewati berdiri beberapa orang yang memegang jaringan ikan sembari meminta sedekah untuk pembangunan mesjid setempat? Tenang, di Manado, anda akan menemukan hal yang kurang lebih serupa. Yang beda, dananya untuk gereja.

Tersinggung karena mendengar agamanya dijelek-jelekkan oleh pemuka agama lain di muka umatnya? Ibu saya pernah mendengar pengajian di dekat rumah menyebut-nyebut "Umat Nasrani" beberapa kali dalam nada yang kurang menyenangkan. Sementara di sebuah gereja di Jawa Tengah pada kebaktian Minggu beberapa tahun lalu, Pendetanya jelas-jelas menjelekkan agama Islam. Dan teman saya yang merupakan umat agama tersebut kebetulan sedang ikut kebaktian.

Tidak nyaman dengan stereotype yang beredar mengenai suku yang mendarah daging serta agama yang anda anut? Coba lihat lagi, berapa kali anda melakukan hal yang sama pada suku serta agama lain di luar suku dan agama anda. Orang Tionghoa, merasa jadi kaum marjinal di Indonesia? Sebal karena dianggap sombong dan eksklusif? Sebelum naik darah, coba periksa, masihkah anda menyebut orang yang tidak sesuku dengan sebutan 'Tiko'? Masihkan anda ingin menjaga garis keturunan murni dengan melarang-larang pergaulan anak anda sehingga mereka hanya boleh bergaul dan menjalin hubungan dengan yang sesuku?

Mobil kembali melaju. Si pengemudi masih kesal dengan kemacetan yang dianggapnya sia-sia.
Kata-kata tanya keluar dari bibirnya: "Kenapa ya?"; "Gimana ya?"; "Ck."
Saya jadi ikut berpikir.
"Masalah macam ini gak akan pernah selesai sebelum Indonesia punya Presiden yang agamanya non-Muslim."
Ia yang duduk di belakang kemudi hanya diam. Saya tahu heningnya menandakan ketidaksetujuan akan yang saya ungkapkan. Tapi kalimat saya memang belum selesai.
"Masalahnya, Indonesia bisa punya Presiden yang agamanya non-Muslim itu ga akan pernah kejadian."
"Good conclusion." Baru si pengemudi tersenyum setuju.

Bagaimana pun, saya harap apa yang saya katakan tidak terbukti. Saya harap suatu hari nanti, Bhinneka Tunggal Ika bisa menjelma dalam kehidupan sehari-hari seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Yang namanya Pancasila bukan cuma jadi sekedar konsep indah nan ciamik, tapi benar benar diimani serta diamini oleh seluruh pemegang KTP Indonesia. Semoga. Utopis? Yo wis.

Wednesday, June 08, 2011


So yeah, let's close the distance with our closeness.
i close you,