Wednesday, September 21, 2011

duh, susan

duh susan, mengapa engkau curang dengan tak kunjung jadi gede
kalau saja kamu tahu, pas makin gede, ternyata tidak mudah untuk memutuskan untuk jadi ini atau itu
duh susan, gara gara lagumu waktu kecil aku kadang membayangkan kehidupanku pada masa mendatang
berdiri merenung menyender di jembatan penyeberangan dengan rambut terurai dan setelan khas pekerja kantoran
aku pikir itu keren tapi ternyata bagi kebanyakan orang itu menyedihkan
karena akhirnya itu kejadian. aku sering nyender di jembatan dengan rokok sebatang, lalu orang yang lalu lalang menatapku dengan pandangan setengah aneh setengah kasihan
duh susan ternyata makin ke sini aku gak pengen jadi pekerja kantoran, naifnya aku lebih pengen jadi seniman
duh susan, gimana kalau kita tukeran, kamu yang jadi gede, dan aku tetap tinggal di masa kecil, tanpa perlu mikir yang gini-ginian

duh kak ria, sesungguhnya engkau keterlaluan,
sekarang aku tahu kenapa engkau menciptakan susan.

Saturday, September 17, 2011

melulu tentang napsu

"Besides, when women don't dress according to Shariah law, they're asking to get raped." Ramli Mansur, Bupati Aceh Barat

Khusus bagi kaum hawa, Foke menyarankan agar mereka berhati-hati sekaligus melakukan upaya pencegahan saat menggunakan jasa angkutan. "Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerah juga. Sama kayak orang naik motor, pakai celana pendek ketat lagi, itu yang di belakangnya bisa goyang-goyang," katanya sembari bercanda.
"Harus menyesuaikan dengan lingkungan sekelilingnya supaya tidak memancing orang melakukan hal yang tidak diinginkan," Fauzi Bowo (Foke), Gubernur DKI Jakarta

Luar biasa bagaimana perempuan seringkali dipojokkan sebagai penyebab atas kejahatan yang terjadi atas dirinya. 
Perempuan yang menggunakan rok mini dan celana pendek dianggap memancing kejahatan? Lalu mengapa lelaki yang bertelanjang dada dianggap sebagai sesuatu yang lumrah? Karena mereka lelaki? Sekarang begini, perempuan dan laki laki itu sesama manusia, punya akal, punya tubuh, punya jiwa, punya NAPSU. Jangan dikira melihat lelaki yang bertelanjang dada tidak menimbulkan gejolak seksual dalam diri perempuan, bung! Bedanya, kami tahu cara mengendalikan diri, dan tidak mempersalahkan kalian atas gejolak yang kalian timbulkan.
Kalian mengatur cara berpakaian kami, kalian memaksa kami untuk menekan dan menyangkal napsu, lalu kembali mempersalahkan kami ketika kemalangan semacam perkosaan menimpa kami. Apa-apaan ini?!

Mungkin benar adanya: "bisa karena biasa." Mungkin pria bertelanjang dada terlalu sering kita lihat di mana-mana sehingga lama-lama terbiasa. Oleh karena itu saya hendak mengusulkan pembudayaan pemakaian rok mini dan hotpants di semua kalangan. Agar para pria semakin terbiasa melihat paha wanita dan belajar mengendalikan diri untuk tidak meraba kalau memang bukan miliknya!

Atau bisa juga kita galang #gerakansatujutatweepsnaikangkotmenggunakanrokminiatauhotpants sebagai aksi protes atas kesemena-menaan yang sudah terlalu lama dirasakan kaum perempuan.

Intinya, wahai para perempuan, jangan mau terima anggapan yang menyebutkan kita sebagai penyebab datangnya kejahatan. Jadi diri sendiri, pakai baju yang membuat kalian nyaman, sesuai yang kalian inginkan! Mau hotpants kek, mau rok mini kek, mau leather pants kek, pake aja, hajar!

Dan kalian, para lelaki yang gak tahan tiap liat paha atau tali BH, lalu bawaaanya jadi ngatur-ngatur cara berpakaian wanita atau nyalah-nyalahin kita, you guys seriously should get laid (cari pacar kek, hts-an kek, apaan aja asal jangan pake maksa, yang sama-sama suka. susah? ya namanya juga hidup bro, pasti susah lah ya, lo bayangin aja susahnya jadi perempuan berapa juta kali ganti generasi dipaksa nahan napsu!)

Sebagai penutup, tadi pagi ada sebuah berita yang cukup, hm, patut kita apresiasi kebesaran hati orang ini dengan permintaan maafnya. Semoga ini adalah ungkapan maaf yang ikhlas, yang bukan sekedar dalam rangka pencitraan. Silahkan klik: http://megapolitan.kompas.com/read/2011/09/17/09363348/Foke.Minta.Maaf.Soal.Larangan.Pakai.Rok.Mini.di.Angkot "Foke Minta Maaf Soal Larangan Pakai Rok Mini di Angkot"

Terakhir, sebuah tulisan dari teman saya, Maria Goretti, "Jakarta Keras, Sis!" Seputar menjadi perempuan yang tidak mau sekedar diam. Enjoy!

Saturday, September 10, 2011

sesungguhnya pergi bukan berarti berhenti
ia adalah mula dari segala
perjalanan mengalami lalu menjadi
mencari dan usaha untuk menemukan
asing kenal belajar lalu tinggal


ada yang bilang pelabuhan
ada yang mengatakan pulang

dalam hidup ada pengecualian untuk beberapa hal
untuk aku kamu dia mereka
kita?
itu mengerikan. sebab harus dilandasi kesepakatan
yakin?
itu menakutkan. sebab di dunia yang paling konstan hanyalah perubahan

hidup? hiduplah. meski kekecewaan, kesakitan, kepedihan, kepiluan, adalah yang tersetiakawan

waktu

Senin, 5 September 2011

hari itu akhirnya saya sadar kalau waktu memang bukan tanding yang seimbang
pukul tujuh kurang berangkat menuju kampus, setelah menghabiskan semalam tanpa tidur. hawa libur lebaran masih kental terasa. jalanan lengang, uki masih sepi, 117 tak kunjung datang. sekalinya ada 117 melintas, terpaksa saya naik meski harus berdiri.

sampai di gading serpong saya menuju ke SMS untuk mencari sarapan pagi. sialnya semua kedai kopi belum beroperasi. duduk di muka pintu masuk mall ditemani beberapa batang rokok sembari menunggu jam sembilan. badan sedang tidak bisa diajak berkooperasi. rasanya berat, pegal, sakit.

sebuah kedai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, saya masuki, memesan sarapan. rupanya selera makan tidak tergugah melihat hidangan yang tersedia. pikir saya: mungkin pengaruh hormon, mungkin kurang darah. menstruasi, anemia, dan semalaman digerogoti nyamuk rasanya cukup untuk membuat mood kurang bagus di pagi hari. ac yang mengarah langsung ke badan memperparah keadaan. saya putuskan untuk keluar, melanjutkan revisi skripsi yang wasalam malasnya untuk diteruskan.

sampai di area downtown, matahari bersinar tiada ampun. layar laptop sampai tidak keliatan. untung si kacamata hitam nan setia selalu siap sedia. tiba-tiba henfon menyala, sebuah email masuk. saya buka. dari milis komisi pemuda gereja yang kegiatannya tak pernah satu kali pun saya tandangi (yang entah mengapa meski saya tak pernah mendaftar tapi bisa jadi anggotanya, saban pagi dikirimi renungan harian yang tak pernah saya baca). isinya singkat, berita duka mengenai seorang koster gereja. saya tersentak. semasa saya remaja, dan masih sering ke gereja, koster ini saya kenal baik luar biasa. di balik kacamata dengan lensa yang besar itu, saya menitikkan air mata. sebuah berita duka di pagi hari? yang benar saja.

seorang teman baik datang menghampiri, rencananya dari downtown kami akan ke kampus untuk bimbingan revisi. karena hari rabu-nya adalah deadline pengumpulan revisi skripsi saya. ogah-ogahan, setelah menemani teman saya dan pasangannya makan, kami beranjak ke kampus. setelah sebats dua bats tiga bats di kantin, saya beranjak ke gedung rektorat untuk medapati bahwa ketiga dosen yang hendak saya temui tidak ada di tempat. asik. jauh jauh dari tebet ke gading serpong cuma untuk buang buang duit, saya pikir.

saya kembali ke kantin. sebats, dua bats, tiga bats, henfon yang tengah di charge di beberapa meja dari tempat saya duduk berbunyi. sebuah missed call dan bbm dari mami l yang menanyakan apakah urusan di kampus sudah selesai. saya cerita bahwa dosen saya ternyata tidak ada di tempat. dibalasnya dengan kalimat: "boleh mami l telp?" curiga, tapi saya balas: "telp aja, aku lagi gada pulsa soalnya maap."

tak berapa lama sebuah panggilan telpon masuk. dari mami l.
"de, udah selesai?"
"udah, dosenku gada semua."
"oh begitu. jadi so mo pulang?"
"stou, masi gatau sih nih. kenapa emang?"
"kalo mami l bilang kamu jangan kaget ya?"
sungguh kalimat semacam itu malah menimbulkan kecurigaan dan keparnoan yang luar biasa.
"apan sih?"
"om pepen (kakak dari ayah saya) meninggal."
"what?!"
lagi, saya menangis. di kantin. tengah hari bolong.

setelahnya saya sibuk menghubungi dosen saya karena tahu bahwa pasti kedukaan dan ritualnya akan berlangsung berhari-hari. sementara hari rabunya sudah deadline revisi sekaligus sidang ulang skripsi. untung dosen penguji (yang juga kaprodi) begitu pengertian, memindahkan jadwal jadi minggu depan.
saya tidak habis pikir. saya putuskan untuk segera pulang naik shuttle dari sms ke benhil. setelahnya menyambung taksi ke rumah duka rspad gatot subroto. terima kasih kepada kacamata hitam nan setia yang sepanjang perjalanan menutupi mata sembap saya yang sedikit sedikit mengeluarkan air mata. iya, saya memang melankolis, sensitif, perasa. apa mau dikata. cengeng? terserah.

lagi-lagi saya bilang: saya tidak habis pikir. sepanjang perjalanan pikiran saya melayang. jalan ini biasa saya lalui dengan om saya yang beberapa kali menemani mengantar pulang ke dorm selama dua tahun saya pernah berdomisili di gading serpong. saya menyesali bahwa saya tidak banyak menghabiskan waktu dengannya. saya menyesali bahwa kadang saya suka kesal kalau ayah saya terlalu sering pergi memancing dengan kakaknya sendiri. saya menyesali banyak hal. saya mengingat bagaimana perjuangannya menghidupi keluarganya hingga anak-anaknya tumbuh dewasa dan berhasil. saya mengingat kebaikan-kebaikannya, dan hati saya hancur karena memori.

setibanya di rumah duka, ayah sudah menunggu. kakak saya pun baru tiba bersama dengan beberapa anggota keluarga lainnya. ayah mengajak saya ke kamar jenasah. saya menolak. namun ia meyakinkan bahwa keadaannya tidak semenyeramkan itu. akhirnya saya setuju. saya masuk ke kamar jenasah. dan di situlah, terbaring om saya. telah rapih, lengkap dengan jasnya. dan saya tidak bisa menahan air mata saya. bahkan ketika menulis ini air mata saya masih berjatuhan. saya keluar dari kamar jenasah sembunyi di belakang tembok sembari menyeka ingus dan air mata yang entah mengapa tidak mau berhenti. saya malu. entah pada apa.

dari kamar jenasah kami berjalan ke rumah duka, di sana menunggu istri dan anak-anak dari om saya. saya memeluk anaknya yang paling besar. kami lama berpelukan. selain tangis hanya satu kata yang bisa keluar dari bibir saya: "ci....." saya peluk istri om saya yang meminta maaf kalau sekiranya ada kesalahan yang dilakukan oleh om saya. saya malu. saya hanya bisa bilang: "iya tante, iya. sama-sama aku juga banyak salah."
dan waktu berjalan terus, sore berganti malam. dua pendeta (entah apa sebutannya dalam konghucu) didatangkan melaksanakan ritual bagi om saya. mantra-mantra berbahasa mandarin dilancarkan. aroma hio menguatkan nuansa magis. banyak pekerjaan harus dilakukan. melipat kertas uang yang paling bisa saya lakukan.melipat kertas uang untuk ritual sembari mendegar mantera dideraskan rasanya..... membangkitkan darah cina yang selama ini selalu saya sangkal mengalir dalam diri saya.

berhari-hari saya habiskan bersama keluarga ayah saya. dan ini menghidupkan darah cina yang selama ini tertidur. saya cuma bisa janji satu hal: bahwa saya tidak akan lagi menyangkal ke-cina-an yang diturunkan dari ayah saya. ya memang cina, mau apa lagi, mau nangis sampai gila, mengais tanah sampai jadi gula juga tak akan pernah berubah. lagipula mengapa kalau saya cina? selama saya tidak merugikan siapa-siapa.

hari itu saya merasa seperti digampar-gampar oleh kenyataan. hari itu saya baru benar benar sadar bahwa waktu memang tak kenal ampun. dan waktu, yang selama ini selalu ingin saya tandingi, nyatanya bukan lawan yang seimbang bagi saya. bahkan, tidak seharusnya saya menantangnya. waktu adalah waktu. waktu bisa merubah batu jadu debu. sementara saya cuma manusia biasa, yang dalam suatu waktu pun akan lebur jadi debu. gak pantas bagi manusia macam saya menantang waktu dan mengira bisa mengalahkannya. waktu selalu lebih unggul dengan pukulan pukulan kejadian yang disajikannya di hadapan muka saya.

buat waktu rasanya belum cukup bikin saya hancur-hancuran dengan patah hati putus cinta di tengah-tengah mepetnya deadline pengumpulan skripsi dan friksi yang terjadi di tengah famili. dia masih harus mengambil orang-orang terbaik yang pernah saya miliki, keluarga, sahabat, kenalan, dengan berbagai jalan. dia juga menghancurkan harga diri dan kepercayaan diri saya yang dasarnya sudah retak dengan keputusan mengenai sidang ulang dan revisi skripsi yang banyaknya gak kira-kira. bu, pak, kalau ibu bapak sekalian baca ini, maaf pls dont take it personal. tapi saya cuma mau jujur karena saya ga suka bohong apalagi pembohong, saya cuma pengen bilang kalau sampai detik ini jujur revisi saya belom rampung. saya masih mengumpulkan niat untuk kembali melanjutkan.

salah kalau saya merasa dipermainkan oleh waktu? salah kalau saya berlindung di balik alasan waktu? salah kalau saya mengkambinghitamkan waktu? ya mungkin semua memang salah saya. tapi saya memang butuh waktu, untuk disalah-salahin, untuk dicaci maki, agar setidak-tidaknya saya gak merasa salah salah banget. karena mengakui kalau diri kita salah itu butuh keberanian luar biasa. dan saya tidak selalu ada dalam waktu yang tepat untuk cukup berani menyatakan bahwa saya telah melakukan sebuah kesalahan. demikian

Thursday, September 08, 2011

"Sudah jo, nyanda usah beking saki hati pa orang lain. Biar jo dorang beking saki hati pa torang, mar yang penting torang so beking bae-bae no pa dorang."*

Perkataan Ibu saya, pada suatu siang, dalam bahasa Manado.

*"Sudahlah, jangan nyakitin hati orang lain. Biar aja mereka nyakitin hati kita, yang penting kita udah memperlakukan mereka dengan baik."