Saturday, September 10, 2011

waktu

Senin, 5 September 2011

hari itu akhirnya saya sadar kalau waktu memang bukan tanding yang seimbang
pukul tujuh kurang berangkat menuju kampus, setelah menghabiskan semalam tanpa tidur. hawa libur lebaran masih kental terasa. jalanan lengang, uki masih sepi, 117 tak kunjung datang. sekalinya ada 117 melintas, terpaksa saya naik meski harus berdiri.

sampai di gading serpong saya menuju ke SMS untuk mencari sarapan pagi. sialnya semua kedai kopi belum beroperasi. duduk di muka pintu masuk mall ditemani beberapa batang rokok sembari menunggu jam sembilan. badan sedang tidak bisa diajak berkooperasi. rasanya berat, pegal, sakit.

sebuah kedai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, saya masuki, memesan sarapan. rupanya selera makan tidak tergugah melihat hidangan yang tersedia. pikir saya: mungkin pengaruh hormon, mungkin kurang darah. menstruasi, anemia, dan semalaman digerogoti nyamuk rasanya cukup untuk membuat mood kurang bagus di pagi hari. ac yang mengarah langsung ke badan memperparah keadaan. saya putuskan untuk keluar, melanjutkan revisi skripsi yang wasalam malasnya untuk diteruskan.

sampai di area downtown, matahari bersinar tiada ampun. layar laptop sampai tidak keliatan. untung si kacamata hitam nan setia selalu siap sedia. tiba-tiba henfon menyala, sebuah email masuk. saya buka. dari milis komisi pemuda gereja yang kegiatannya tak pernah satu kali pun saya tandangi (yang entah mengapa meski saya tak pernah mendaftar tapi bisa jadi anggotanya, saban pagi dikirimi renungan harian yang tak pernah saya baca). isinya singkat, berita duka mengenai seorang koster gereja. saya tersentak. semasa saya remaja, dan masih sering ke gereja, koster ini saya kenal baik luar biasa. di balik kacamata dengan lensa yang besar itu, saya menitikkan air mata. sebuah berita duka di pagi hari? yang benar saja.

seorang teman baik datang menghampiri, rencananya dari downtown kami akan ke kampus untuk bimbingan revisi. karena hari rabu-nya adalah deadline pengumpulan revisi skripsi saya. ogah-ogahan, setelah menemani teman saya dan pasangannya makan, kami beranjak ke kampus. setelah sebats dua bats tiga bats di kantin, saya beranjak ke gedung rektorat untuk medapati bahwa ketiga dosen yang hendak saya temui tidak ada di tempat. asik. jauh jauh dari tebet ke gading serpong cuma untuk buang buang duit, saya pikir.

saya kembali ke kantin. sebats, dua bats, tiga bats, henfon yang tengah di charge di beberapa meja dari tempat saya duduk berbunyi. sebuah missed call dan bbm dari mami l yang menanyakan apakah urusan di kampus sudah selesai. saya cerita bahwa dosen saya ternyata tidak ada di tempat. dibalasnya dengan kalimat: "boleh mami l telp?" curiga, tapi saya balas: "telp aja, aku lagi gada pulsa soalnya maap."

tak berapa lama sebuah panggilan telpon masuk. dari mami l.
"de, udah selesai?"
"udah, dosenku gada semua."
"oh begitu. jadi so mo pulang?"
"stou, masi gatau sih nih. kenapa emang?"
"kalo mami l bilang kamu jangan kaget ya?"
sungguh kalimat semacam itu malah menimbulkan kecurigaan dan keparnoan yang luar biasa.
"apan sih?"
"om pepen (kakak dari ayah saya) meninggal."
"what?!"
lagi, saya menangis. di kantin. tengah hari bolong.

setelahnya saya sibuk menghubungi dosen saya karena tahu bahwa pasti kedukaan dan ritualnya akan berlangsung berhari-hari. sementara hari rabunya sudah deadline revisi sekaligus sidang ulang skripsi. untung dosen penguji (yang juga kaprodi) begitu pengertian, memindahkan jadwal jadi minggu depan.
saya tidak habis pikir. saya putuskan untuk segera pulang naik shuttle dari sms ke benhil. setelahnya menyambung taksi ke rumah duka rspad gatot subroto. terima kasih kepada kacamata hitam nan setia yang sepanjang perjalanan menutupi mata sembap saya yang sedikit sedikit mengeluarkan air mata. iya, saya memang melankolis, sensitif, perasa. apa mau dikata. cengeng? terserah.

lagi-lagi saya bilang: saya tidak habis pikir. sepanjang perjalanan pikiran saya melayang. jalan ini biasa saya lalui dengan om saya yang beberapa kali menemani mengantar pulang ke dorm selama dua tahun saya pernah berdomisili di gading serpong. saya menyesali bahwa saya tidak banyak menghabiskan waktu dengannya. saya menyesali bahwa kadang saya suka kesal kalau ayah saya terlalu sering pergi memancing dengan kakaknya sendiri. saya menyesali banyak hal. saya mengingat bagaimana perjuangannya menghidupi keluarganya hingga anak-anaknya tumbuh dewasa dan berhasil. saya mengingat kebaikan-kebaikannya, dan hati saya hancur karena memori.

setibanya di rumah duka, ayah sudah menunggu. kakak saya pun baru tiba bersama dengan beberapa anggota keluarga lainnya. ayah mengajak saya ke kamar jenasah. saya menolak. namun ia meyakinkan bahwa keadaannya tidak semenyeramkan itu. akhirnya saya setuju. saya masuk ke kamar jenasah. dan di situlah, terbaring om saya. telah rapih, lengkap dengan jasnya. dan saya tidak bisa menahan air mata saya. bahkan ketika menulis ini air mata saya masih berjatuhan. saya keluar dari kamar jenasah sembunyi di belakang tembok sembari menyeka ingus dan air mata yang entah mengapa tidak mau berhenti. saya malu. entah pada apa.

dari kamar jenasah kami berjalan ke rumah duka, di sana menunggu istri dan anak-anak dari om saya. saya memeluk anaknya yang paling besar. kami lama berpelukan. selain tangis hanya satu kata yang bisa keluar dari bibir saya: "ci....." saya peluk istri om saya yang meminta maaf kalau sekiranya ada kesalahan yang dilakukan oleh om saya. saya malu. saya hanya bisa bilang: "iya tante, iya. sama-sama aku juga banyak salah."
dan waktu berjalan terus, sore berganti malam. dua pendeta (entah apa sebutannya dalam konghucu) didatangkan melaksanakan ritual bagi om saya. mantra-mantra berbahasa mandarin dilancarkan. aroma hio menguatkan nuansa magis. banyak pekerjaan harus dilakukan. melipat kertas uang yang paling bisa saya lakukan.melipat kertas uang untuk ritual sembari mendegar mantera dideraskan rasanya..... membangkitkan darah cina yang selama ini selalu saya sangkal mengalir dalam diri saya.

berhari-hari saya habiskan bersama keluarga ayah saya. dan ini menghidupkan darah cina yang selama ini tertidur. saya cuma bisa janji satu hal: bahwa saya tidak akan lagi menyangkal ke-cina-an yang diturunkan dari ayah saya. ya memang cina, mau apa lagi, mau nangis sampai gila, mengais tanah sampai jadi gula juga tak akan pernah berubah. lagipula mengapa kalau saya cina? selama saya tidak merugikan siapa-siapa.

hari itu saya merasa seperti digampar-gampar oleh kenyataan. hari itu saya baru benar benar sadar bahwa waktu memang tak kenal ampun. dan waktu, yang selama ini selalu ingin saya tandingi, nyatanya bukan lawan yang seimbang bagi saya. bahkan, tidak seharusnya saya menantangnya. waktu adalah waktu. waktu bisa merubah batu jadu debu. sementara saya cuma manusia biasa, yang dalam suatu waktu pun akan lebur jadi debu. gak pantas bagi manusia macam saya menantang waktu dan mengira bisa mengalahkannya. waktu selalu lebih unggul dengan pukulan pukulan kejadian yang disajikannya di hadapan muka saya.

buat waktu rasanya belum cukup bikin saya hancur-hancuran dengan patah hati putus cinta di tengah-tengah mepetnya deadline pengumpulan skripsi dan friksi yang terjadi di tengah famili. dia masih harus mengambil orang-orang terbaik yang pernah saya miliki, keluarga, sahabat, kenalan, dengan berbagai jalan. dia juga menghancurkan harga diri dan kepercayaan diri saya yang dasarnya sudah retak dengan keputusan mengenai sidang ulang dan revisi skripsi yang banyaknya gak kira-kira. bu, pak, kalau ibu bapak sekalian baca ini, maaf pls dont take it personal. tapi saya cuma mau jujur karena saya ga suka bohong apalagi pembohong, saya cuma pengen bilang kalau sampai detik ini jujur revisi saya belom rampung. saya masih mengumpulkan niat untuk kembali melanjutkan.

salah kalau saya merasa dipermainkan oleh waktu? salah kalau saya berlindung di balik alasan waktu? salah kalau saya mengkambinghitamkan waktu? ya mungkin semua memang salah saya. tapi saya memang butuh waktu, untuk disalah-salahin, untuk dicaci maki, agar setidak-tidaknya saya gak merasa salah salah banget. karena mengakui kalau diri kita salah itu butuh keberanian luar biasa. dan saya tidak selalu ada dalam waktu yang tepat untuk cukup berani menyatakan bahwa saya telah melakukan sebuah kesalahan. demikian

2 comments:

Adel April 19, 2012 at 1:07 PM  

Shir, aku nggak ingat kapan terakhir kali baca blog dan menangis...

tapi ya, aku turut berduka untk om Pepen ya, walau telat sekali...

dan waktu memang bukan tandingan kita dan bukan lawan yang seimbang... :'(

shirebel April 24, 2012 at 11:15 PM  

its okaay adell.
atas nama keluarga besar, gue mengucapkan terima kasih :")
dan untuk komennya, let we find it out by ourselves ya. because.. who knows? heheheh