Wednesday, October 12, 2011

di muka meja makan

pada suatu malam di muka meja makan.........

"pada usia tuanya ia merasa begitu kesepian. bahkan memohon untuk didoakan. aku memperhatikan gelagatmu yang mengarah ke situ. aku tak ingin kau berakhir demikian. apa kau masih percaya tuhan?"
"............
aku..aku masih percaya tuhan."
"bagaimana dengan imanmu? aku ragu, aku cemas, kalau kalau imanmu tak mengakar jauh ke dalam tanah. jangan jangan imanmu dibangun di atas pasir.."
"...sebutlah kalau saat ini aku tengah dalam fase pencarian. semenjak kecil kau membesarkanku dengan dasar dasar agama yang kuat. tapi ini saatnya bagiku untuk mencarinya. aku ingin mengalaminya. aku tidak ingin mengimaninya dengan hati yang buta."
"aku takut perilakumu adalah buah kesalahanku, sedari kecil memberikanmu beragam buku. ketika besar kuperhatikan bacaanmu, jangan-jangan karena itu."
"jangan bilang begitu. bukan salahmu. engkau telah membesarkanku dengan kasih dan aku tidak mempersalahkanmu atas segala yang terjadi pada diriku. engkau telah melakukan segala yang terbaik yang bisa kau lakukan dan aku menghargai itu."
"perasaan ini telah kupendam dari beberapa natal yang telah lewat."
"aku tahu."
"setiap orang tua hanya tidak ingin kemalangan yang menimpanya terjadi pada anak-anaknya."
"aku mengerti. tapi hidup adalah pilihan. dan ini adalah pilihanku. mungkin naif, mungkin egois, tapi aku ingin meyakini bahwa tuhan adalah tuhan yang baik. luar biasa baik. titik."
"pasti kau akan membenci kata-kata yang akan kukemukakan ini, namun sepanjang perjalanan hidupku, aku melihat orang orang yang jatuh, salah arah, dan tuhan mencubit mereka. aku termasuk salah satu di antaranya."
"sesungguhnya aku tak ingin mengimani tuhan dengan demikian. keegoisanku bilang bahwa tuhan luar biasa baik. ia memberi kita kehendak bebas. lalu bukankah menjadi tidak fair kalau ia menjatuhkan petaka dan hukuman atas pilihan yang kita buat, padahal itu kebebasan tersebut merupakan anugerahnya?"
"..............
aku berdoa agar kau segera menemukannya. dalam doaku selalu kusebut namamu. dan aku bersyukur pembicaraan ini bisa terjadi. yang kuimani adalah, ini bukan sebuah kebetulan. tuhan merencanakan ini untuk terjadi. setidaknya kini aku tahu di mana posisimu."
"........aku berterima kasih."

aku pun bersyukur atas pembicaraan yang boleh terjadi di antara kita, pembicaraan yang tidak pernah aku bayangkan akan pernah terwujud jadi kenyataan. kejujuran yang boleh aku ungkapkan. air mata yang katamu lebih baik dikeluarkan. terlalu banyak hal kita bagi hingga menulisnya pun aku hampir tak mampu. yang tak kuduga, ternyata engkau menerimaku, keberadaanku. aku mengasihimu.