Skip to main content

Posts

Showing posts from 2012

Pom Bensin

Jam sebelas malam di kamarmu, terbangun dari tidur siang yang berkepanjangan. Kamutidakada. Sekitar tiga menit kuhabiskan untuk menelaah beberapa kemungkinan mengenai keberadaanmu sekarang. Kamu mungkin sedang menonton tivi, bisa juga tengah berkutat depan laptop, atau keluar sebentar mencari makan. Lima menit kemudian kupakai untuk mengecek ponselku. Beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk. Delapan menit selanjutnya kupakai untuk membenahi barang-barangku. Begitu keluar kamar, yang pertama kudapati adalah kamu, sedang duduk di ruang tamu. Kamu tampak bingung melihat tas yang kusandingkan di bahu. “Mau kemana?” Tanyamu. “Pulang,” jawabku singkat. “Tidur sini sajalah, sudah malam.” “Masih jam sebelas, masih ada kendaraan kok. Aku pulang dulu, yah.” Kamu membuat gerakan tangan yang mengisyaratkanku untuk duduk di sebelahmu: “Sini.” Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya menurut dan duduk di sebelahmu. “Mau pulang atau pulang?” Tanyamu sambil menatapku. Semua pertanyaan yang diajukan pada…

well described

"I want to go home but where can i go ? Heaven knows I want to go home a place that will be heavenly... I want to go home but where can i go ? Heaven knows... heaven knows... I'm miserable know !"
olehkamu harapan saya jadi tahanan masuk sel, dalam bui.
padasaya kamu menaksir harga terlalu tinggi menawar terlalu jauh di bawah
dan atas diri sendiri, saya hilang kendali
maka saya tidak punya apa-apa lagi.

SELEBRASI !

cibiran dan cemooh atas perempuan yang merayakan seksualitasnya itu tidak pantas untuk dihiraukan.
selebrasikanlah seksualitasmu, wahai para gadis perawan dan wanita-wanita matang.
akudukungkalian.

elemen tanah

mereka yang berelementanah,
konon katanya membumi.
tapi..
tanah kan adanya di bawah
menjadi tempat bagi kaki untuk berpijak
yangbiasa diinjak-injak...........................

oh,
pantas.

*renungan singkatataspercakapan yang hadirdiantara asap, gelas, danbotol beralkohol*
bila setiap memberi kesempatan satu kali lagi berarti menyiakan-nyiakan diri
makasaya....
sudah mati berulang kali

namun seperti yesus yang bangkit pada hari ketiga,
setiap periode tertentu saya bangun dari tidur tidur sedih yang berkepanjangan
melanjutkan hidup, merajut harapan,
untukkembalimenemukan
bahwa nantinya lagi-lagi saya dikhianati keadaan
dikurbankan (perasaannya)
dan perlu menjadi juruselamat (bagi diri sendiri)

semogahatimusesakitdua maria yang ditinggal mati kekasih hatinya.
dan pada subuh di hari ketiga menghampiri kuburan hati yang telah kosong
dengan sosok yang berbeda dan (semoga) lebih bijaksana saya akan datangi kamu sambil bicara: "apa yang kamu cari?"
saat itu, kamu harus jadi jujur sekali
agar kita semua selamat

maka khusus pada kamu saya berikan penawaran ini
bersediakah kamu mengadopsi ketulusan hati dua maria-karena satu rasanya tak akan cukup,
bila ya, saya akan menjelma sebagai yesus, juruselamat (paling tidak) kita berdua (saja dulu)

to whom it may concern

All I want to get is, a little bit closer.  All I want to know is, can we come a little closer? 
Here comes the breath before we get a little bit closer.  Here comes the rush before we touch, come a little closer. 
Doors are open, wind is really blowing, the night sky is changing over and 
It’s not just all physical, I’m the type that will get oh so critical.  So, let’s make things physical, I won’t treat you like you’re oh so typical. 
All you’re thinking lately is getting underneath me.  All I’m dreaming lately is how to get you underneath me. 
Here comes the heat before we meet, a little bit closer.  Here comes the spark before the dark, come a little closer.  Lights are off and the sun is finally setting, night sky is changing over and 
It’s not just all physical, I’m the type that will get oh so critical.  So, let’s make things physical, I won’t treat you like you’re oh so typical. 
I want you close  I want you  I won’t treat you like you’re typical  I want you close  I want you  I won’t treat you like…
hari sabtu
kurang dari dua puluh jam menuju minggu
langit kelabu
kira-kira begini bayangan akan sore itu:
tetes-tetes haru bergantung pada awan menunggu waktu untuk terjatuh sebab tak lagi tahan menahan pilu
lalu tiap-tiap mata yang cukup mampu menatap ke atas tempat para haru itu menggantungkan nasibnya akan kepedihan sendiri hingga kembali mengingat rasa-rasa yang membuat rindu

kamu masih membisu

aku duduk saja menjaring duka yang menusuk-nusuk sembilu

maka "ikhlaskan aku" akan lebih terdengar seperti "ikhlaskah aku?"
waktu tak pernah menunggu
dan hati kita makin makin membatu

masih dekat atau sudah jauh
masih dapat atau sudah tak perlu
terlanjur kaku

kalau suatu waktu engkau sedang terlalu rindu, pasangkan saja lagu itu,
"lalu ingat aku"

sampai bertemu dalam gelombang rindu, pada penampakan semu, dan memori yang membekas terlalu
Aku tahu diam-diam kalian semua membenci kebiasaan merokokku Terlalu banyak asap dan lalu aku jadi bau
Di tengah-tengah ciuman adakalanya sindiran itu keluar: “Masih ada rasa manis fllter rokok yang tersisa di bibirmu.” Lalu aku tanya balik: “Kau terganggu?” “Tidak,” balasnya santai sambil tersenyum, yang saat itu kelihatannya tulus. “Sungguh?” Tanyaku sanksi. “Betul.” Ia menjawab dengan tegas, dibalut nada halus, sambil jarinya memainkan rambutku yang padahal tak panjang-panjang amat. “Ah, pasti kau sebal. Mulutku dipenuhi aroma tembakau.” Sanggahku manja setengah merajuk seraya memeluknya. Tindakan tak pantas yang tak perlu, karena sumber masalahnya justru ada pada aku. “Yah... sebenarnya, memang lebih baik kalau tak ada rasa itu.” Setengah pasrah ia lalu mengakui ketidaknyamanan itu.
Lain waktu, aku disentak dengan sindiran-sindiran kencang yang lebih menyudutkan. Hari sudah subuh ketika Ia masuk ke dalam rumah. Dua kantong belanjaan dari pasar pagi tergenggam di tangannya. Ia membuat geraka…

an open ending

Just watched Julie Delpy's "Two Days In Paris" for the second time, and suddenly i feel more related to the story. Because i believe that the best part of watching a film, is when you feel related to the story. So, here's the last scene of "Two Days In Paris". If you wanna feel that bit of proximity to some (or maybe every) part of it (just like i did), go on, please, help yourself :) 


"To sum up the four hours of discussion that followed, it’s not easy being in a relationship much less to truly know the other one and accept them as they are with all their flaws and baggage. Jack confessed to me his fear of being rejected if I truly knew him, if he showed himself totally bare to me. Jack realized after two years of being with me that he didn’t know me at all, nor did I know him. And to truly love each other, we needed to know the truth about each other, even if it’s not so easy to take. So I told him the truth, which was I’d never cheated on him and I …

a before sunset moment that happened on the set of before sunrise

you are my feel-good drama.  one fine nice movie that i'll be watching over and over again, even though i already know about the ending.

hello, thank you, i miss you.

hari ini sangatlah hari ini.

"Hari ini sangatlah hari ini." Amalia Sekarjati
and at the end of the day, the only conclusion that i can gather is: "well at least i've tried (my best)." it sounds so much like an excuse, yes. sorry. sincerely.

pukul setengah dua belas, terbangun dari lelap ah lagi lagi melewatkan pagi yang telah habis lelah dilumat menatap langit langit, mengerjap-ngerjap merenggangkan otot, lambat-lambat memaksa otak mengingat-ingat memungut sisa sisa motivasi untuk menjalani waktu yang dirangkum dalam bilangan hari ke luar dan buka lemari... tak ada kopi di bawah tudung saji pun, tak tersedia nasi maka menuju kulkas lah kaki ini pergi dan potongan semangka merah yang menggugah seperti memanggil-manggil untuk dinikmati lima potong besar yang manis dan berbiji sehabisnya, menyalakan rokok sambil bersandar pada tiang jemuran belakang menunduk sambil menyaksikan semut-semut berdatangan mengerumuni biji yang tadi disisihkan mendecakkan lidah dan mencecap rasa merah merekah yang tinggal dan diam di sana kretekku beda sekali adakah yang lebih segar dari ini?

hendak

barusan
jakarta diguyur tiga detik hujan
durasi minim yang cukup untuk membuat hatinya kebanjiran
oleh perasaan dan perkara yang sesungguhnya tak perlulah untuk terlalu dipikirkan
cuma terlanjur, segala rasa dan perkara yang bermuara dari perkara rasa kunjung bersekongkol
secara hati-hati merangkai diri dengan manis menjadi sebuah kekhawatiran. besar.
adakala geraman tidak lagi mampu menggetarkan endapan di dasar paling dalam
dan diam tidak bisa menuntaskan tiap tiap hal yang belum usai benar
penerimaan,
hendak kuunduh engkau sepenuh

obrolan warung kopi

"Tau apa yang bikin kita merasa tua?
Memori.
Dulu kita belum punya memori, cuma punya visi." Itchak, a good old friend.
Warung kopi di muka jalan rumah adalah tempat favorit bagi saya dan Itchak, seorang teman lama untuk bertukar cerita. Beberapa bulan sekali kami bertemu, kadang tidak disengaja, kadang dengan terlebih dahulu membuat janji. 
Setiap kali bertemu dengan teman lama, selalu ada rasa hangat dalam dada. Rasa ini mengisi suatu rongga dalam diri yang tidak pernah disadari ada, hingga saatnya terisi oleh hangat rupa jiwa. Ia terus menggelantung di sekitar hati, mengiringi selama percakapan terjadi hingga beberapa waktu ketika pertemuan usai. Mungkin ini tidak akan berlaku bagi semua orang. Bisa jadi, ini murni efek yang datangnya dari dalam diri saya sendiri, si penggila nostalgia.
Bertukar cerita dengan teman lama rasanya aneh dan lucu, kadang diselingi haru. Antara menyangka dan tidak bahwa telah begitu banyak waktu berlalu tanpa kita saling tahu menahu. Dulu, siapa …

pls kindly consider it as an opener

so its the 17th day of 2012 i know i know i know. k. i know though its been very very late, but going through the spread without havin the opener is pretty unlikely,  so here we go. enjoy!