Sunday, December 30, 2012

Pom Bensin


Jam sebelas malam di kamarmu, terbangun dari tidur siang yang berkepanjangan. Kamu tidak ada. Sekitar tiga menit kuhabiskan untuk menelaah beberapa kemungkinan mengenai keberadaanmu sekarang. Kamu mungkin sedang menonton tivi, bisa juga tengah berkutat depan laptop, atau keluar sebentar mencari makan. Lima menit kemudian kupakai untuk mengecek ponselku. Beberapa panggilan tak terjawab dan pesan masuk. Delapan menit selanjutnya kupakai untuk membenahi barang-barangku. Begitu keluar kamar, yang pertama kudapati adalah kamu, sedang duduk di ruang tamu.
Kamu tampak bingung melihat tas yang kusandingkan di bahu.
“Mau kemana?” Tanyamu.
“Pulang,” jawabku singkat.
“Tidur sini sajalah, sudah malam.”
“Masih jam sebelas, masih ada kendaraan kok. Aku pulang dulu, yah.”
Kamu membuat gerakan tangan yang mengisyaratkanku untuk duduk di sebelahmu: “Sini.”
Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya menurut dan duduk di sebelahmu.
“Mau pulang atau pulang?” Tanyamu sambil menatapku.
Semua pertanyaan yang diajukan padaku sembari menatap mata dalam-dalam seringkali berbuah pendirian yang goyah. Bangsat. Aku mulai ragu.
“...pulang.”
“Pulang atau ke pom bensin?”
Aku diam.
Antara kamu yang terlalu bisa menebak suasana hatiku, atau memang kamu yang kurang bisa mempercayai setiap jawabanku, kamu lalu bertanya lagi. Sebuah pertanyaan, yang terdengar agak seperti tuduhan. Memojokkan.
“Pulang atau sedih-sedihan sendirian di pom bensin sampai pagi?”
-
Malam itu aku tidak jadi ’pulang’. Tidak jadi sedih-sedihan sendirian di pom bensin sampai pagi. Kuputuskan untuk bermalam. Kita sedih-sedihan berdua. Kebingungan bersama. Pedih sekali. Lebih sakit dari sedih-sedihan sendirian.
-
Untuk kamu, agar kamu tahu, bahwa saya tidak sedang di pom bensin, namun tetap sedih-sedihan, sendirian.

18:31
30-12-2012

Sunday, December 09, 2012

well described



"I want to go home but where can i go ? Heaven knows
I want to go home a place that will be heavenly...
I want to go home but where can i go ? Heaven knows... heaven knows... I'm miserable know !"

oleh kamu

harapan saya jadi tahanan
masuk sel, dalam bui.

pada saya
kamu menaksir harga terlalu tinggi
menawar terlalu jauh di bawah

dan atas diri sendiri, saya hilang kendali

maka saya tidak punya apa-apa lagi.

SELEBRASI !

cibiran dan cemooh atas perempuan yang merayakan seksualitasnya itu tidak pantas untuk dihiraukan.
selebrasikanlah seksualitasmu, wahai para gadis perawan dan wanita-wanita matang.
aku dukung kalian.

elemen tanah


mereka yang berelemen tanah,
konon katanya membumi.
tapi..
tanah kan adanya di bawah
menjadi tempat bagi kaki untuk berpijak
yang biasa diinjak-injak...........................

oh,
pantas.

*renungan singkat atas percakapan yang hadir diantara asap, gelas, dan botol beralkohol*

Friday, November 23, 2012

bila setiap memberi kesempatan satu kali lagi berarti menyiakan-nyiakan diri
maka saya....
sudah mati berulang kali

namun seperti yesus yang bangkit pada hari ketiga,
setiap periode tertentu saya bangun dari tidur tidur sedih yang berkepanjangan
melanjutkan hidup, merajut harapan,
untuk kembali menemukan
bahwa nantinya lagi-lagi saya dikhianati keadaan
dikurbankan (perasaannya)
dan perlu menjadi juruselamat (bagi diri sendiri)

semoga hatimu sesakit dua maria yang ditinggal mati kekasih hatinya.
dan pada subuh di hari ketiga menghampiri kuburan hati yang telah kosong
dengan sosok yang berbeda dan (semoga) lebih bijaksana saya akan datangi kamu sambil bicara: "apa yang kamu cari?"
saat itu, kamu harus jadi jujur sekali
agar kita semua selamat

maka khusus pada kamu saya berikan penawaran ini
bersediakah kamu mengadopsi ketulusan hati dua maria-karena satu rasanya tak akan cukup,
bila ya, saya akan menjelma sebagai yesus, juruselamat (paling tidak) kita berdua (saja dulu)

"Tolollah orang yang (berkali-kali) membiarkan dirinya tidak menjadi prioritas."

Saturday, October 13, 2012

to whom it may concern



All I want to get is, a little bit closer. 
All I want to know is, can we come a little closer? 

Here comes the breath before we get a little bit closer. 
Here comes the rush before we touch, come a little closer. 

Doors are open, wind is really blowing, the night sky is changing over and 

It’s not just all physical,
I’m the type that will get oh so critical. 
So, let’s make things physical,
I won’t treat you like you’re oh so typical. 

All you’re thinking lately is getting underneath me. 
All I’m dreaming lately is how to get you underneath me. 

Here comes the heat before we meet, a little bit closer. 
Here comes the spark before the dark, come a little closer. 
Lights are off and the sun is finally setting, night sky is changing over and 

It’s not just all physical,
I’m the type that will get oh so critical. 
So, let’s make things physical,
I won’t treat you like you’re oh so typical. 

I want you close 
I want you 
I won’t treat you like you’re typical 
I want you close 
I want you 
I won’t treat you like you’re typical 

Here come the dreams of you and me
Here come the dreams of you and me 
Here come the dreams
Here come the dreams

It’s not just all physical,
I’m the type that will get oh so critical. 
So, let’s make things physical,
I won’t treat you like you’re oh so typical. 

I want you close 
I want you 
I won’t treat you like you’re typical
I want you close 
I want you 
I won’t treat you like you’re typical 

All I want to get is, a little bit closer. 
All I want to know is, can we come a little closer?

turns out that i still need a response to what i've confessed
p.s.: i know you'll read this, eventually.

Saturday, September 29, 2012

hari sabtu
kurang dari dua puluh jam menuju minggu
langit kelabu
kira-kira begini bayangan akan sore itu:

tetes-tetes haru bergantung pada awan menunggu waktu untuk terjatuh sebab tak lagi tahan menahan pilu

lalu tiap-tiap mata yang cukup mampu menatap ke atas tempat para haru itu menggantungkan nasibnya akan kepedihan sendiri hingga kembali mengingat rasa-rasa yang membuat rindu

kamu masih membisu

aku duduk saja menjaring duka yang menusuk-nusuk sembilu

maka "ikhlaskan aku" akan lebih terdengar seperti "ikhlaskah aku?"
waktu tak pernah menunggu
dan hati kita makin makin membatu

masih dekat atau sudah jauh
masih dapat atau sudah tak perlu
terlanjur kaku

kalau suatu waktu engkau sedang terlalu rindu, pasangkan saja lagu itu,
"lalu ingat aku"

sampai bertemu dalam gelombang rindu, pada penampakan semu, dan memori yang membekas terlalu

Thursday, September 27, 2012


Aku tahu diam-diam kalian semua membenci kebiasaan merokokku
Terlalu banyak asap dan lalu aku jadi bau

Di tengah-tengah ciuman adakalanya sindiran itu keluar: “Masih ada rasa manis fllter rokok yang tersisa di bibirmu.”
Lalu aku tanya balik: “Kau terganggu?”
“Tidak,” balasnya santai sambil tersenyum, yang saat itu kelihatannya tulus.
“Sungguh?” Tanyaku sanksi.
“Betul.” Ia menjawab dengan tegas, dibalut nada halus, sambil jarinya memainkan rambutku yang padahal tak panjang-panjang amat.
“Ah, pasti kau sebal. Mulutku dipenuhi aroma tembakau.” Sanggahku manja setengah merajuk seraya memeluknya. Tindakan tak pantas yang tak perlu, karena sumber masalahnya justru ada pada aku.
“Yah... sebenarnya, memang lebih baik kalau tak ada rasa itu.” Setengah pasrah ia lalu mengakui ketidaknyamanan itu.

Lain waktu, aku disentak dengan sindiran-sindiran kencang yang lebih menyudutkan.
Hari sudah subuh ketika Ia masuk ke dalam rumah. Dua kantong belanjaan dari pasar pagi tergenggam di tangannya. Ia membuat gerakan mengipas-ngipas tak nyaman dengan tangan yang masih memegang belanjaan.
“Terlalu banyak asap. Coba kau buka jendelanya sedikit. Dari aku pergi hingga pulang lagi, masakkan kau tak ada berhentinya merokok?”
Lalu dengan pasrah sambil tak enak hati, aku akan beranjak dari depan layar laptop dan berjalan ke arah jendela. Membuka kaca sembari mengipas-ngipas. Tentu dengan sedikit perasaan bersalah.

Pernah juga di atas motor yang tengah melaju, kepalaku menghantam helmnya karena ia terpaksa mengerem motor secara mendadak. Ia melihat ke belakang, hendak memeriksa keadaanku, memastikan aku baik-baik saja. Di sudut bibirnya hampir terucap kata maaf. Namun kata itu ditelannya kembali ketika melihat sebatang rokok tersemat di antara jari tengah dan telunjuk tangan kiriku.
“Sedari tadi kau merokok, rupanya? Ck.” Decakan lidah di belakang kalimat menandakan kesebalannya, aku tahu.
Lalu aku diam saja, di kursi boncengan dengan posisi tegang, sembari meneruskan merokok.

Kerap kali aku tanya kepada mereka.
“Kau benci aku merokok?”
Jawabannya beragam. Tergantung situasi hati mereka saja.
“Tidak juga. Toh itu hidupmu, apa hakku turut campur?”
“Bebas. Terserah kau sajalah.”
“Tidak juga, hanya mungkin kalau boleh aku mengusulkan agar sedikit dikurangi.”

Dan aku pun sebenarnya sudah tahu jawabannya, hanya saja, aku perlu dengar sendiri.

jkt
1:49 AM

Thursday, July 12, 2012

an open ending

Just watched Julie Delpy's "Two Days In Paris" for the second time, and suddenly i feel more related to the story.
Because i believe that the best part of watching a film, is when you feel related to the story.
So, here's the last scene of "Two Days In Paris".
If you wanna feel that bit of proximity to some (or maybe every) part of it (just like i did), go on, please, help yourself :) 



"To sum up the four hours of discussion that followed, it’s not easy being in a relationship much less to truly know the other one and accept them as they are with all their flaws and baggage. Jack confessed to me his fear of being rejected if I truly knew him, if he showed himself totally bare to me. Jack realized after two years of being with me that he didn’t know me at all, nor did I know him. And to truly love each other, we needed to know the truth about each other, even if it’s not so easy to take. 
So I told him the truth, which was I’d never cheated on him and I also told him that I’d just seen Matthieu that afternoon. He did not get mad at me because nothing had happened, of course. I confessed to Jack that the toughest thing for me was to decide to be with someone for good. The idea that this is it, this is the man I’m going to spend the rest of my life with. To decide that I will make the effort to stay and work things out and not run off the minute there is a problem is very difficult for me. I told him I could not be full with just one man for the rest of my life. It was a lie but I said it anyway. He asked me if I thought I was a squirrel, collecting men like nuts to put away for cold winters. I thought it was quite funny. Then he said something that hurt my feelings. The tone changed drastically. Then I misunderstood what he was saying. I thought he meant he didn’t love me anymore and that he wanted to break up with me. 
It always fascinates me how people go from loving you madly to nothing at all, nothing. It hurts so much. When I feel someone is going to leave me, I have a tendency to break up first before I get to hear the whole thing. Here it is. One more, one less. Another wasted love story. I really love this one. When I think that it’s over, that I’ll never see him again like this, well yes, I’ll bump into him, we’ll meet our new boyfriend and girlfriend, act as if we had never been together, then we’ll slowly think of each other less and less until we forget each other completely. Almost. Always the same for me. Break up, break down. Drink up, fool around. Meet one guy, then another, fuck around. Forget the one and only. 
Then after a few months of total emptiness start again to look for true love, desperately look everywhere. And after two years of loneliness, meet a new love and swear it is the one, until that one is gone as well. 
There’s a moment in life where you can’t recover anymore from another break-up. And even if this person bugs you 60 percent of the time, well, you still can’t live without him. And even if he wakes you up every day by sneezing right in your face, well, you love his sneezes more than anyone else’s kisses."

Wednesday, July 11, 2012

a before sunset moment that happened on the set of before sunrise

you are my feel-good drama. 
one fine nice movie that i'll be watching over and over again, even though i already know about the ending.


hello, thank you, i miss you.

Monday, June 11, 2012

hari ini sangatlah hari ini.

"Hari ini sangatlah hari ini."
Amalia Sekarjati

and at the end of the day, the only conclusion that i can gather is: "well at least i've tried (my best)."
it sounds so much like an excuse, yes.
sorry.
sincerely.


Monday, June 04, 2012


pukul setengah dua belas, terbangun dari lelap
ah lagi lagi melewatkan pagi yang telah habis lelah dilumat
menatap langit langit, mengerjap-ngerjap
merenggangkan otot, lambat-lambat
memaksa otak mengingat-ingat
memungut sisa sisa motivasi untuk menjalani waktu yang dirangkum dalam bilangan hari
ke luar dan buka lemari... tak ada kopi
di bawah tudung saji pun, tak tersedia nasi
maka menuju kulkas lah kaki ini pergi
dan potongan semangka merah yang menggugah seperti memanggil-manggil untuk dinikmati
lima potong besar yang manis dan berbiji
sehabisnya, menyalakan rokok sambil bersandar pada tiang jemuran belakang
menunduk sambil menyaksikan semut-semut berdatangan mengerumuni biji yang tadi disisihkan
mendecakkan lidah dan mencecap rasa merah merekah yang tinggal dan diam di sana
kretekku beda sekali
adakah yang lebih segar dari ini?

Wednesday, May 30, 2012

hendak

barusan
jakarta diguyur tiga detik hujan
durasi minim yang cukup untuk membuat hatinya kebanjiran
oleh perasaan dan perkara yang sesungguhnya tak perlulah untuk terlalu dipikirkan
cuma terlanjur, segala rasa dan perkara yang bermuara dari perkara rasa kunjung bersekongkol
secara hati-hati merangkai diri dengan manis menjadi sebuah kekhawatiran. besar.
adakala geraman tidak lagi mampu menggetarkan endapan di dasar paling dalam
dan diam tidak bisa menuntaskan tiap tiap hal yang belum usai benar
penerimaan,
hendak kuunduh engkau sepenuh

Wednesday, May 16, 2012

obrolan warung kopi

"Tau apa yang bikin kita merasa tua?
Memori.
Dulu kita belum punya memori, cuma punya visi."
Itchak, a good old friend.

Warung kopi di muka jalan rumah adalah tempat favorit bagi saya dan Itchak, seorang teman lama untuk bertukar cerita. Beberapa bulan sekali kami bertemu, kadang tidak disengaja, kadang dengan terlebih dahulu membuat janji. 
Setiap kali bertemu dengan teman lama, selalu ada rasa hangat dalam dada. Rasa ini mengisi suatu rongga dalam diri yang tidak pernah disadari ada, hingga saatnya terisi oleh hangat rupa jiwa. Ia terus menggelantung di sekitar hati, mengiringi selama percakapan terjadi hingga beberapa waktu ketika pertemuan usai. Mungkin ini tidak akan berlaku bagi semua orang. Bisa jadi, ini murni efek yang datangnya dari dalam diri saya sendiri, si penggila nostalgia.
Bertukar cerita dengan teman lama rasanya aneh dan lucu, kadang diselingi haru. Antara menyangka dan tidak bahwa telah begitu banyak waktu berlalu tanpa kita saling tahu menahu. Dulu, siapa yang menyangka bahwa pada saatnya kita akan duduk bersama menikmati secangkir kopi ditemani asap asal tembakau lintingan pabrik. Kita menua, beberapa menuju atau telah menjadi dewasa. Siapa pernah mengira era ini akan pernah ada?
Lalu pengalaman demi pengalaman dibeberkan. Pekerjaan, percintaan, juga masa depan. Lagi, selalu ada benang merah yang bisa ditarik dari masa lalu, yang ternyata masih menyimpan cerita juga rahasia yang kadang membuat mulut setengah menganga.
Salah seorang sahabat pernah tanpa sengaja menganalisa perilaku saya. Katanya ia bisa mengira mengapa saya senang bermain-main dengan memori semasa kanak-kanak. Sebabnya, itu adalah masa terindah dalam kehidupan saya, maka saya tergila-gila untuk selalu bernostalgia dan kembali ke masa masa itu. Maka segala yang terkait dengan masa itu selalu menarik bagi saya. Peristiwanya, ceritanya, tempatnya, serta.... orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Saya rasa analisanya ada benarnya.
Orang-orang dari masa lalu ini saya sadari penuh, kini, sebagai para pemeran yang membantu saya membentuk diri saya hingga jadi yang seperti ini. Sejauh apapun saya melangkah, selama apapun saya tak bersua dengan mereka, setiap bertemu rasanya seperti ada rasa familiar yang menyebar hingga ke ujung ujung bagian tubuh. Ada kehangatan serta rasa aman. Mereka (meski belum tentu benar begitu) mengenal saya, dan saya merasa penuh dan utuh. Saya menjadi diri saya sendiri.
Terima kasih masa lalu.

Tuesday, January 17, 2012

pls kindly consider it as an opener

so its the 17th day of 2012
i know i know i know. k. i know
though its been very very late,
but going through the spread without havin the opener is pretty unlikely, 
so here we go.
enjoy!