Skip to main content

obrolan warung kopi

"Tau apa yang bikin kita merasa tua?
Memori.
Dulu kita belum punya memori, cuma punya visi."
Itchak, a good old friend.

Warung kopi di muka jalan rumah adalah tempat favorit bagi saya dan Itchak, seorang teman lama untuk bertukar cerita. Beberapa bulan sekali kami bertemu, kadang tidak disengaja, kadang dengan terlebih dahulu membuat janji. 
Setiap kali bertemu dengan teman lama, selalu ada rasa hangat dalam dada. Rasa ini mengisi suatu rongga dalam diri yang tidak pernah disadari ada, hingga saatnya terisi oleh hangat rupa jiwa. Ia terus menggelantung di sekitar hati, mengiringi selama percakapan terjadi hingga beberapa waktu ketika pertemuan usai. Mungkin ini tidak akan berlaku bagi semua orang. Bisa jadi, ini murni efek yang datangnya dari dalam diri saya sendiri, si penggila nostalgia.
Bertukar cerita dengan teman lama rasanya aneh dan lucu, kadang diselingi haru. Antara menyangka dan tidak bahwa telah begitu banyak waktu berlalu tanpa kita saling tahu menahu. Dulu, siapa yang menyangka bahwa pada saatnya kita akan duduk bersama menikmati secangkir kopi ditemani asap asal tembakau lintingan pabrik. Kita menua, beberapa menuju atau telah menjadi dewasa. Siapa pernah mengira era ini akan pernah ada?
Lalu pengalaman demi pengalaman dibeberkan. Pekerjaan, percintaan, juga masa depan. Lagi, selalu ada benang merah yang bisa ditarik dari masa lalu, yang ternyata masih menyimpan cerita juga rahasia yang kadang membuat mulut setengah menganga.
Salah seorang sahabat pernah tanpa sengaja menganalisa perilaku saya. Katanya ia bisa mengira mengapa saya senang bermain-main dengan memori semasa kanak-kanak. Sebabnya, itu adalah masa terindah dalam kehidupan saya, maka saya tergila-gila untuk selalu bernostalgia dan kembali ke masa masa itu. Maka segala yang terkait dengan masa itu selalu menarik bagi saya. Peristiwanya, ceritanya, tempatnya, serta.... orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Saya rasa analisanya ada benarnya.
Orang-orang dari masa lalu ini saya sadari penuh, kini, sebagai para pemeran yang membantu saya membentuk diri saya hingga jadi yang seperti ini. Sejauh apapun saya melangkah, selama apapun saya tak bersua dengan mereka, setiap bertemu rasanya seperti ada rasa familiar yang menyebar hingga ke ujung ujung bagian tubuh. Ada kehangatan serta rasa aman. Mereka (meski belum tentu benar begitu) mengenal saya, dan saya merasa penuh dan utuh. Saya menjadi diri saya sendiri.
Terima kasih masa lalu.

Comments

Popular posts from this blog

pagi sendu

Halo, selamat pagi.
Hari ini dimulai sendu sekali.
Hujan rintik membasahi.
Dan sama seperti Rain yang dalam "Smoking With God" ingin mengajakMu merokok di balkon lantai dua, aku pun mau.
Seharian bersama bicara berdua, atau saling diam, cukup mensyukuri kehadiran masing-masing, di balkon lantai dua, dengan sebuah jendela yang selalu terbuka, tempat asap kita bermuara.
Halo, mungkin aku rindu, rindu terlalu, hingga terlarut dalam haru.

*Sedikit banyak juga terinspirasi dari karya Rain Chudori - "Smoking With God"
stressed out from eating too much
stressed out from not eating enough
stressed out from thinking too much
stressed out from not caring enough
how can I be the best version of myself if I don't even have the ability to think straight
kalo sepenggal kecurigaan kita ramu dengan benar (benar) maka asumsi asumsi yang kadung mematangkan diri bukannya tidak bisa berubah jadi kenyataan