Saturday, September 29, 2012

hari sabtu
kurang dari dua puluh jam menuju minggu
langit kelabu
kira-kira begini bayangan akan sore itu:

tetes-tetes haru bergantung pada awan menunggu waktu untuk terjatuh sebab tak lagi tahan menahan pilu

lalu tiap-tiap mata yang cukup mampu menatap ke atas tempat para haru itu menggantungkan nasibnya akan kepedihan sendiri hingga kembali mengingat rasa-rasa yang membuat rindu

kamu masih membisu

aku duduk saja menjaring duka yang menusuk-nusuk sembilu

maka "ikhlaskan aku" akan lebih terdengar seperti "ikhlaskah aku?"
waktu tak pernah menunggu
dan hati kita makin makin membatu

masih dekat atau sudah jauh
masih dapat atau sudah tak perlu
terlanjur kaku

kalau suatu waktu engkau sedang terlalu rindu, pasangkan saja lagu itu,
"lalu ingat aku"

sampai bertemu dalam gelombang rindu, pada penampakan semu, dan memori yang membekas terlalu

Thursday, September 27, 2012


Aku tahu diam-diam kalian semua membenci kebiasaan merokokku
Terlalu banyak asap dan lalu aku jadi bau

Di tengah-tengah ciuman adakalanya sindiran itu keluar: “Masih ada rasa manis fllter rokok yang tersisa di bibirmu.”
Lalu aku tanya balik: “Kau terganggu?”
“Tidak,” balasnya santai sambil tersenyum, yang saat itu kelihatannya tulus.
“Sungguh?” Tanyaku sanksi.
“Betul.” Ia menjawab dengan tegas, dibalut nada halus, sambil jarinya memainkan rambutku yang padahal tak panjang-panjang amat.
“Ah, pasti kau sebal. Mulutku dipenuhi aroma tembakau.” Sanggahku manja setengah merajuk seraya memeluknya. Tindakan tak pantas yang tak perlu, karena sumber masalahnya justru ada pada aku.
“Yah... sebenarnya, memang lebih baik kalau tak ada rasa itu.” Setengah pasrah ia lalu mengakui ketidaknyamanan itu.

Lain waktu, aku disentak dengan sindiran-sindiran kencang yang lebih menyudutkan.
Hari sudah subuh ketika Ia masuk ke dalam rumah. Dua kantong belanjaan dari pasar pagi tergenggam di tangannya. Ia membuat gerakan mengipas-ngipas tak nyaman dengan tangan yang masih memegang belanjaan.
“Terlalu banyak asap. Coba kau buka jendelanya sedikit. Dari aku pergi hingga pulang lagi, masakkan kau tak ada berhentinya merokok?”
Lalu dengan pasrah sambil tak enak hati, aku akan beranjak dari depan layar laptop dan berjalan ke arah jendela. Membuka kaca sembari mengipas-ngipas. Tentu dengan sedikit perasaan bersalah.

Pernah juga di atas motor yang tengah melaju, kepalaku menghantam helmnya karena ia terpaksa mengerem motor secara mendadak. Ia melihat ke belakang, hendak memeriksa keadaanku, memastikan aku baik-baik saja. Di sudut bibirnya hampir terucap kata maaf. Namun kata itu ditelannya kembali ketika melihat sebatang rokok tersemat di antara jari tengah dan telunjuk tangan kiriku.
“Sedari tadi kau merokok, rupanya? Ck.” Decakan lidah di belakang kalimat menandakan kesebalannya, aku tahu.
Lalu aku diam saja, di kursi boncengan dengan posisi tegang, sembari meneruskan merokok.

Kerap kali aku tanya kepada mereka.
“Kau benci aku merokok?”
Jawabannya beragam. Tergantung situasi hati mereka saja.
“Tidak juga. Toh itu hidupmu, apa hakku turut campur?”
“Bebas. Terserah kau sajalah.”
“Tidak juga, hanya mungkin kalau boleh aku mengusulkan agar sedikit dikurangi.”

Dan aku pun sebenarnya sudah tahu jawabannya, hanya saja, aku perlu dengar sendiri.

jkt
1:49 AM