Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

belum selesai

kalo sepenggal kecurigaan kita ramu dengan benar (benar) maka asumsi asumsi yang kadung mematangkan diri bukannya tidak bisa berubah jadi kenyataan
semoga paham.
kalau menjaga jarak adalah sebuah kebutuhan
biarlah ia menjadi medium yang digunakan untuk menjernihkan pikiran

tapimengenangmubukanlah nostalgia
mengenangmu adalah perkara memelihara ingatan
akan yang nyata
yangpernahdanselalu akan ada
yaitu,kita
adakah menyusun kerikil pada puncak gunung batu lebih tak sia dari menggarami laut?
alam semesta memampukan saya untuk mencoba
maka terjadilah
jalan hidup dan kebenaran
satu-satunya jalur menuju keselamatan
pada saatnya tiap-tiap mereka akan menemukan masing-masing punya juruselamat
maka diketemukan olehmu adalah sebuah pengalaman spiritual tersendiri
terima kasih, oh gunung batuku.
ibu ibu menangisi anak anak perawan yang lari dari rumah
para ayah meratapdiam-diam
dalam senyap saudara sedarah menanggung hati yang susah
tuhan (semoga ia benar adanya) menjamah hati mereka dan penghiburan itu pun dilepas secara cuma-cuma

anak anak perawan meregang nyawa di jalan (yang semoga tak salah)
melawanapaentah
merisaukan banyak hal terlalu
menghutang asa pada banyak nyawa
meminjam emosi dari banyak diri

yangdipunyanyacumasisahidup. sedikitbanyak. kuranglebih. diamini.

karena kamu adalah..

sayang, dalam seminggu kita punya tujuh hari untuk mengadu nasib tapi aku tidak suka berkonflik lebih baik aku pergi menghindari sengit
kalau boleh aku lari terus sampai diketemukan pun tak lagi dapat
aku cuma mau bercinta dengan asa hingga ia beranak pinak
ah, sedang asamu saja tak kunjung kau asah jangan ragukan dirimu sendiri.. sendirian
karena kamu, adalah harapan

setelah 'lari-lari' nomor sekian

Kamar. Malamhari. Hari itu saya baru pulang setelah menghilang selama beberapa hari-yang sudah menjadi kebiasaan. Saya tengah berjalan menuju kamar mandi ketika Ibu saya masuk ke dalam kamar. Ia terlihat mencari-cari sesuatu di meja rias. Sambil berusaha mencari, ia buka suara, "jangan suka lari dari masalah. Mau kamu lari ke mana pun, bayang-bayang masalah itu akan terus menghantui kamu, Dek.".  Saya tahu ia tengah bicara pada saya, meski wajahnya tidak melihat ke arah saya. Tidak tahu harus merespon apa, saya terus berjalan menuju kamar mandi. Menutup pintu, lalu menyalakan sebatang rokok. Duduk di atas kloset sambil termenung. Air mata saya lalu jatuh satu persatu.  Ternyata Ibu sudah terlalu kenal dan mengerti saya.
lelahsekali.
sungguhmengantuk,
ingintidurdipeluk.

pikiran bercabang, banyak hal lalu lalang
pelukini men(y)enangkan,
pun ia tak mampu meredam racau yang menyusun diri sendiri menjadi kalimat-kalimat setengah jadi

wahai kamu pelipur lara, jangan terlalu lama berduka.

meresap hinggap

bangun dari tidur berkepanjangan
merokok sendiri di kamar mandi
baru menyalakan api
sudah sedih sendiri
*
niatnya
menyelami danau di seberang pagar duri panjang
padahal tak lancar berenang
maka ia tenggelam
*
butuh melega meski tidak teraniaya
harus beranjak walau tak pernah berlabuh
*
kenyamanan sementara
sebentar sebentar datang sebentar sebentar hilang
yang penting agar tidak lupa meresap ketika rasanya tengah hinggap

misalnya

beberapa rasa memang tidak dapat ditunda
yang sebagaimanapun kita sudah hindar-hindari, nyatanya tetap harus dialami pada saat itu juga
misalnya, rasa sesak ketika terbangun dari mimpi tentang orang yang dikasihi
misalnya, rasa mulas dan mual ketika hal-hal tertentu mengingatkan pada pengalaman yang kurang menyenangkan
misalnya, saat ini

an-other opener

2013
konon katanya membuat resolusi sudah tak jaman lagi karena seringkali janji janji diingkari "gak apa, itu manusiawi."
tak apa, toh saya suka mencobai diri sendiri
pada alam semesta patut dipanjatkan syukur dan terima kasih