Thursday, March 28, 2013

ibu ibu menangisi anak anak perawan yang lari dari rumah
para ayah meratap diam-diam
dalam senyap saudara sedarah menanggung hati yang susah
tuhan (semoga ia benar adanya) menjamah hati mereka dan penghiburan itu pun dilepas secara cuma-cuma

anak anak perawan meregang nyawa di jalan (yang semoga tak salah)
melawan apa entah
merisaukan banyak hal terlalu
menghutang asa pada banyak nyawa
meminjam emosi dari banyak diri

yang dipunyanya cuma sisa hidup. sedikit banyak. kurang lebih. diamini.

karena kamu adalah..

sayang, dalam seminggu kita punya tujuh hari untuk mengadu nasib
tapi aku tidak suka berkonflik
lebih baik aku pergi menghindari sengit
kalau boleh aku lari terus sampai diketemukan pun tak lagi dapat
aku cuma mau bercinta dengan asa hingga ia beranak pinak
ah, sedang asamu saja tak kunjung kau asah
jangan ragukan dirimu sendiri.. sendirian
karena kamu, adalah harapan

Thursday, March 07, 2013

setelah 'lari-lari' nomor sekian

Kamar. Malam hari.
Hari itu saya baru pulang setelah menghilang selama beberapa hari-yang sudah menjadi kebiasaan.
Saya tengah berjalan menuju kamar mandi ketika Ibu saya masuk ke dalam kamar. Ia terlihat mencari-cari sesuatu di meja rias. Sambil berusaha mencari, ia buka suara,
"jangan suka lari dari masalah.
Mau kamu lari ke mana pun, bayang-bayang masalah itu akan terus menghantui kamu, Dek.". 
Saya tahu ia tengah bicara pada saya, meski wajahnya tidak melihat ke arah saya.
Tidak tahu harus merespon apa, saya terus berjalan menuju kamar mandi. Menutup pintu, lalu menyalakan sebatang rokok. Duduk di atas kloset sambil termenung. Air mata saya lalu jatuh satu persatu. 
Ternyata Ibu sudah terlalu kenal dan mengerti saya.