Thursday, March 07, 2013

setelah 'lari-lari' nomor sekian

Kamar. Malam hari.
Hari itu saya baru pulang setelah menghilang selama beberapa hari-yang sudah menjadi kebiasaan.
Saya tengah berjalan menuju kamar mandi ketika Ibu saya masuk ke dalam kamar. Ia terlihat mencari-cari sesuatu di meja rias. Sambil berusaha mencari, ia buka suara,
"jangan suka lari dari masalah.
Mau kamu lari ke mana pun, bayang-bayang masalah itu akan terus menghantui kamu, Dek.". 
Saya tahu ia tengah bicara pada saya, meski wajahnya tidak melihat ke arah saya.
Tidak tahu harus merespon apa, saya terus berjalan menuju kamar mandi. Menutup pintu, lalu menyalakan sebatang rokok. Duduk di atas kloset sambil termenung. Air mata saya lalu jatuh satu persatu. 
Ternyata Ibu sudah terlalu kenal dan mengerti saya.

0 comments: